RADAR KUDUS – Departemen Perang Amerika Serikat secara resmi merilis order of battle (urutan tempur) yang menunjukkan pengerahan kekuatan angkatan laut secara masif di kawasan Timur Tengah.
Untuk pertama kalinya sejak invasi Irak tahun 2003, tiga gugus tempur kapal induk (Carrier Strike Groups) beroperasi secara simultan di tiga titik perairan strategis, menandai eskalasi militer paling signifikan dalam dua dekade terakhir.
Dengan kekuatan lebih dari 200 pesawat jet tempur, 15.000 personel pelaut dan Marinir, serta 12 kapal perang permukaan, Pentagon tengah mengirimkan pesan tegas melalui operasi yang disebut sebagai "Epic Fury".
Baca Juga: "Economic Fury": AS Bekukan Ratusan Juta Dolar USDT Milik Iran, Patahkan Teori Kebal Sanksi Kripto
Penyebaran kekuatan ini terbagi dalam tiga poros utama yang mengunci seluruh akses perairan di sekitar wilayah konflik:
1. USS Abraham Lincoln (Laut Arab): Didukung oleh Skuadron Perusak 21, kapal induk ini telah membelokkan 34 kapal sejak blokade dimulai pada 13 April.
Salah satu insiden menonjol adalah ketika USS Spruance melumpuhkan kapal M/V Touska, diikuti dengan aksi fast-rope Marinir dari USS Tripoli ke atas dek kapal tersebut.
2. USS Gerald R. Ford (Laut Merah): Kapal induk tercanggih ini memegang kendali di Laut Merah bersama Skuadron Perusak 2.
Menariknya, USS Ford adalah kapal yang sama yang mendukung penggerebekan penangkapan Nicolás Maduro di Caracas Januari lalu, menunjukkan fleksibilitas operasional AS dalam dua teater perubahan rezim dalam empat bulan.
3. USS George H.W. Bush (Samudra Hindia): Mengambil rute panjang mengitari Tanjung Harapan guna menghindari titik-titik penyempitan (chokepoints) yang diperebutkan, kapal ini masuk ke wilayah komando CENTCOM pada 23 April untuk mengunci akses dari arah Samudra Hindia.
Komandan CENTCOM, Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa sejak Operasi Epic Fury diluncurkan pada 28 Februari, lebih dari 100 kapal angkatan laut Iran telah dihancurkan.
"Saat ini, tidak ada satu pun kapal Iran yang berani berlayar di Teluk Arab, Selat Hormuz, atau Teluk Oman, dan kami tidak akan berhenti," tegas Cooper.
Kekuatan Iran yang tersisa kini hanyalah kapal cepat serbu milik IRGC dan ancaman ranjau laut yang telah terpasang.
Pengerahan ini bukan sekadar unjuk kekuatan laut konvensional, melainkan tulang punggung kinetik dari sebuah perang infrastruktur multi-domain yang meliputi:
Sektor Energi: Menekan lalu lintas Selat Hormuz hingga mencapai angka satu digit per hari.
Sektor Finansial: Mendukung doktrin "Economic Fury" dengan memberikan sanksi pada entitas kilang raksasa China, Hengli Petrochemical, dan 40 entitas armada bayangan.
Sektor Digital: Memutus jalur interaksi digital setelah konfirmasi bahwa tidak ada kapal perbaikan kabel bawah laut yang diizinkan memasuki Teluk.
Sektor Teknologi AI: Melindungi lapisan komputasi AI di UAE dan Bahrain yang sempat lumpuh akibat serangan drone Iran terhadap pusat data AWS pada Maret lalu.
Penyelarasan kekuatan ini terjadi hanya tiga minggu sebelum pertemuan krusial antara Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing.
Baca Juga: Krisis Surplus Lulusan: Pemerintah Berencana Tutup Program Studi yang Tak Relevan dengan Masa Depan
Publikasi data tempur oleh institusi yang kini menamakan dirinya sebagai Departemen Perang tersebut menunjukkan bahwa AS tidak lagi melakukan rotasi rutin, melainkan demonstrasi kesiapan tempur penuh.
Termasuk di dalamnya adalah catatan sejarah berupa serangan udara pertama terhadap pusat data komersial dalam konflik bersenjata, serta serangan torpedo kapal selam AS pertama sejak Perang Dunia II.
Pentagon tidak lagi menyembunyikan kekuatan mereka; mereka mempublikasikannya sebagai bukti dominasi mutlak di empat domain sekaligus dalam jendela eksekusi 60 hari. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna