RADAR KUDUS – Ketegangan diplomatik antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat memasuki fase baru yang diwarnai dengan skeptisisme tinggi dari pihak Teheran.
Dalam forum Antalya Diplomacy Forum yang berlangsung baru-baru ini, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, melontarkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dianggap tidak konsisten dan sulit diprediksi.
Khatibzadeh menyoroti pergeseran gaya diplomasi Washington yang kini dianggap lebih banyak dilakukan melalui platform media sosial daripada jalur komunikasi formal kenegaraan.
Ia menilai bahwa pernyataan-pernyataan Trump sering kali saling bertentangan (kontradiktif), terutama terkait ancaman aksi militer terhadap Teheran.
"Kami melihat adanya pola komunikasi yang tidak konsisten. Di satu sisi muncul ancaman keras, namun di sisi lain terdapat pernyataan yang berbeda.
Publik Amerika sendiri seharusnya bisa menilai apakah ucapan-ucapan tersebut masih selaras dengan prinsip hukum internasional atau sekadar opini publik sesaat," tegas Khatibzadeh.
Gaya komunikasi "banyak bicara dan banyak cuitan" ini dinilai Iran sebagai hambatan besar dalam menciptakan dialog yang serius, karena memicu ketidakjelasan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Dalam menanggapi ancaman militer yang kerap dilontarkan Gedung Putih, Teheran kembali menegaskan posisi dasarnya.
Iran mengklaim tidak memiliki niat untuk memulai konflik bersenjata atau memicu perang terbuka di kawasan. Namun, Khatibzadeh memperingatkan bahwa ketidakinginan akan perang bukan berarti kelemahan.
"Kami tidak menginginkan perang karena kami tahu perang tidak akan membawa hasil positif bagi pihak mana pun. Namun, jangan salah sangka; Iran selalu siap membela kedaulatannya jika ada agresi yang menyerang," tambahnya.
Persoalan Selat Hormuz juga menjadi poin krusial dalam pernyataan tersebut. Iran secara tegas membantah tuduhan Amerika Serikat yang menyebut Teheran sebagai ancaman bagi kebebasan navigasi internasional.
Sebaliknya, Iran mengklaim telah melakukan berbagai upaya untuk menjaga jalur vital distribusi minyak dunia tersebut tetap aman bagi kapal komersial.
Iran bahkan menyebut telah membuka jalur aman (safe passage) dalam kondisi tertentu untuk memastikan stabilitas perdagangan global.
Namun, Teheran justru menuduh kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan tersebut sebagai faktor penghambat utama.
Menutup pernyataannya, Iran memperingatkan bahwa stabilitas yang ada saat ini sangat bergantung pada komitmen bersama.
Jika terdapat pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata atau pengkhianatan terhadap komitmen internasional yang telah disepakati, Iran tidak akan ragu untuk mengambil tindakan yang diperlukan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun Selat Hormuz telah dibuka, ketegangan di bawah permukaan tetap tinggi.
Dunia internasional kini menanti apakah Washington akan beralih ke jalur diplomasi yang lebih terukur atau tetap bertahan dengan gaya komunikasi yang selama ini dinilai Teheran sebagai "kebisingan publik" semata. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna