RADAR KUDUS – Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt pada Rabu menyampaikan bahwa Presiden China Xi Jinping telah memberikan jaminan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Bahwa Beijing tidak memasok persenjataan ke Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Putih.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyoroti peran besar China sebagai pembeli utama minyak Iran.
Ia menyebut lebih dari 90 persen minyak Iran dibeli oleh China, yang setara dengan sekitar delapan persen kebutuhan energi negara tersebut.
Menurutnya, potensi blokade di Selat Hormuz dapat menghentikan sementara pembelian minyak mentah Iran oleh China.
Bessent juga mengungkapkan bahwa dua bank di China telah menerima peringatan dari Departemen Keuangan AS terkait kemungkinan sanksi jika terbukti memproses aliran dana dari Iran.
Ia menegaskan sanksi sekunder akan diberlakukan bila pelanggaran ditemukan.
Di sisi lain, pemerintah China menegaskan tidak pernah menyuplai senjata ke Iran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyebut tuduhan tersebut sebagai informasi yang dibuat-buat.
Ia menekankan bahwa China menjalankan kontrol ketat dalam ekspor militer sesuai hukum nasional dan kewajiban internasional.
Beijing juga memperingatkan akan mengambil langkah balasan jika Washington tetap menaikkan tarif hingga 50 persen terhadap produk China berdasarkan tuduhan tersebut.
Sementara itu, dari Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan masih memiliki kemampuan militer yang belum digunakan sepenuhnya jika konflik dengan AS dan Israel berlanjut.
Juru bicara IRGC Hossein Mohebbi menegaskan Iran siap mengungkap kemampuan baru jika perang bereskalasi.
Pernyataan serupa disampaikan Kementerian Pertahanan Iran yang menilai persenjataan negaranya, termasuk rudal, drone, amunisi, dan peralatan militer, cukup untuk operasi ofensif maupun defensif di masa mendatang.
China juga mengkritik langkah blokade Selat Hormuz yang dinilai berbahaya dan berpotensi memperburuk ketegangan.
Beijing menilai peningkatan pengerahan militer dapat melemahkan gencatan senjata sementara dan mengancam jalur pelayaran internasional.
China mendesak seluruh pihak untuk mematuhi gencatan senjata dan kembali ke jalur diplomasi demi meredakan situasi di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak 28 Februari 2026 telah mendorong lonjakan harga minyak dunia akibat blokade di Selat Hormuz.
Selain dampak ekonomi, konflik ini dilaporkan menewaskan lebih dari 1.400 orang serta menimbulkan kerusakan fasilitas Iran yang ditaksir mencapai 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp4,6 kuadriliun.
Pada 8 April 2026, AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan dan melanjutkan negosiasi damai di Islamabad pada 10 April 2026.
Namun perundingan gagal mencapai kesepakatan, dengan isu Selat Hormuz menjadi salah satu titik perbedaan utama.
Komando Pusat AS (CENTCOM) kemudian menyatakan akan memulai blokade jalur maritim tersebut pada 13 April 2026 sesuai arahan Presiden Trump.
Selat Hormuz sendiri diketahui menjadi jalur penting bagi sekitar 20 persen pasokan minyak, produk petroleum, serta gas alam cair dunia.
Editor : Ali Mustofa