Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Revolusi Pencahayaan Hijau: Ilmuwan China Rekayasa DNA Tanaman Agar Mampu Bercahaya Tanpa Listrik

Ghina Nailal Husna • Senin, 13 April 2026 | 09:27 WIB
Ilustrasi tanaman bercahaya
Ilustrasi tanaman bercahaya

 

RADAR KUDUS – Dalam upaya global mencari solusi energi berkelanjutan, para ilmuwan di China tengah mengembangkan inovasi radikal yang menggabungkan biologi dan tata kota.

Mereka sedang menciptakan tanaman bercahaya (glowing plants) melalui rekayasa genetika canggih, dengan ambisi jangka panjang untuk menggantikan lampu jalan konvensional di masa depan.

Teknologi ini memanfaatkan prinsip bioluminesensi, yaitu kemampuan makhluk hidup untuk menghasilkan cahaya melalui reaksi kimia di dalam tubuhnya. 

Baca Juga: Standar Keamanan VVIP: 4 Jet Tempur F-16 Kawal Ketat Penerbangan Presiden Prabowo ke Sleman

Dengan menyisipkan gen dari organisme bioluminesen, seperti kunang-kunang dan spesies jamur tertentu, ke dalam genom tanaman, para peneliti berhasil membuat tanaman tersebut memancarkan cahaya alami yang lembut namun konsisten saat malam tiba.

Penelitian ambisius ini dipimpin oleh sejumlah lembaga riset dan perusahaan bioteknologi inovatif, salah satunya adalah Magicpen Bio.

 Tim peneliti di fasilitas tersebut telah bekerja bertahun-tahun untuk menyempurnakan teknik transfer gen lintas kerajaan (cross-kingdom gene transfer).

"Visi kami adalah menciptakan ekosistem perkotaan yang 'hidup'. Kami mentransfer instruksi genetik spesifik dari hewan dan jamur ke dalam sel tanaman, memungkinkannya bersinar di malam hari tanpa memerlukan asupan listrik sedikit pun," ujar salah satu peniliti senior dari proyek tersebut.

Hingga saat ini, dilaporkan lebih dari 20 jenis tanaman, mulai dari tanaman hias rumahan hingga spesies pohon yang lebih besar, telah berhasil dimodifikasi secara genetik dan menunjukkan kemampuan memancarkan cahaya.

Jika teknologi ini berhasil diterapkan secara masif, dampaknya terhadap konsumsi energi global akan sangat signifikan.

Lampu jalan merupakan salah satu konsumen listrik terbesar dalam infrastruktur perkotaan.

Menggantinya dengan pohon-pohon bercahaya tidak hanya akan mengurangi emisi karbon secara drastis tetapi juga menciptakan estetika kota yang futuristik dan organik.

Tanaman ini bekerja sebagai sumber cahaya yang sepenuhnya mandiri, menyerap energi matahari di siang hari melalui fotosintesis dan melepaskannya dalam bentuk cahaya di malam hari.

Meskipun potensi teknologinya sangat menjanjikan, komunitas ilmiah internasional juga menyuarakan peringatan terkait risiko ekologis yang mungkin timbul.

Pengenalan tanaman hasil rekayasa genetika (Genetically Modified Organisms/GMO) ke lingkungan terbuka dalam skala besar memerlukan pengawasan ketat.

Para ahli ekologi mengkhawatirkan beberapa dampak negatif, di antaranya:

1. Gangguan Ekosistem Malam: Cahaya konstan dari pohon-pohon ini dapat mengganggu ritme sirkadian hewan nokturnal.

2. Perilaku Serangga: Pola migrasi dan penyerbukan serangga bisa berubah drastis karena tertarik atau terganggu oleh sumber cahaya baru ini.

3. Polusi Genetik: Risiko transfer gen yang tidak disengaja ke spesies tanaman liar di sekitarnya.

Baca Juga: Diplomasi Kemanusiaan: Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung Soroti Dugaan Pelanggaran HAM di Wilayah Konflik

Oleh karena itu, pengembangan teknologi tanaman bercahaya di China saat ini masih berada dalam fase penelitian mendalam dan uji coba laboratorium yang ketat.

Para ilmuwan berkomitmen untuk menyelesaikan tantangan keamanan lingkungan sebelum teknologi ini benar-benar siap menghiasi jalan-jalan kota di masa depan. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Tanaman Bercahaya China #Bioluminesensi Rekayasa Genetika #Pencahayaan Ramah Lingkungan #Magicpen Bio #Risiko Ekologis GMO