Gencatan Senjata Dua Pekan Diumumkan, Ketegangan Timur Tengah Belum Reda

Ali Mustofa • Dipublikasikan Jumat, 10 April 2026 | 10:28 WIB
Tim penyelamat bekerja di lokasi serangan Israel, di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah, di Beirut, Lebanon, 5 April 2026. (ArabWeekly).
Tim penyelamat bekerja di lokasi serangan Israel, di tengah permusuhan antara Israel dan Hizbullah, di Beirut, Lebanon, 5 April 2026. (ArabWeekly).

RADAR KUDUS – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan dirinya telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menurunkan intensitas serangan militer ke Lebanon.

Permintaan itu disampaikan di tengah upaya diplomasi Washington dan Teheran guna meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.

Dalam wawancara dengan NBC News pada Kamis (9/4), Trump menyebut telah berbicara langsung dengan Netanyahu, yang akrab disapanya “Bibi”, dan menilai serangan perlu dikurangi.

Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran cukup besar.

Sebelumnya, Netanyahu menyampaikan bahwa pemerintah Israel telah diperintahkan untuk memulai pembicaraan langsung dengan Lebanon.

Tujuannya adalah melucuti persenjataan kelompok Hizbullah serta membuka jalan menuju perdamaian kedua negara.

Pada Selasa malam (7/4), Trump juga mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran, dengan syarat Teheran bersedia membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Setelah pengumuman tersebut, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan kesiapan memulai dialog dengan AS di Islamabad pada Jumat (10/4).

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran karena melibatkan Hizbullah.

Pihak Iran justru memandang serangan itu sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah dicapai dengan Washington.

Gencatan senjata ini menjadi titik terang setelah konflik terbaru di Timur Tengah dipicu serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS di kawasan, sekaligus membatasi lalu lintas di Selat Hormuz yang berdampak pada gangguan pasokan dan lonjakan harga energi global.

Pemerintah Indonesia turut mengecam keras serangan Israel di berbagai wilayah Lebanon, termasuk Beirut, yang menyebabkan korban sipil dan kerusakan infrastruktur.

Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia menilai serangan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional, termasuk hukum humaniter.

Indonesia mendesak Israel segera menghentikan kekerasan serta menekankan pentingnya perlindungan warga sipil dan fasilitas publik.

Pemerintah juga menyerukan semua pihak menahan diri, mengedepankan dialog, dan melakukan langkah deeskalasi agar situasi tidak semakin memburuk.

Di sisi lain, laporan menyebutkan serangan udara besar kembali terjadi di Beirut pada Rabu, disebut sebagai gelombang terbesar sejak konflik memanas pada 2 Maret.

Korban tewas dilaporkan mencapai sedikitnya 254 orang, termasuk 92 korban di Beirut.

Ketegangan meningkat setelah AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua minggu.

Iran menilai penghentian serangan di Lebanon termasuk dalam kesepakatan tersebut, sementara Washington menegaskan konflik di Lebanon merupakan isu terpisah.

Trump sendiri menyebut situasi di Lebanon sebagai “konflik yang berbeda.”

Editor : Ali Mustofa
timur tengah lebanon indonesia Israel infrastruktur