Trump Tunda Serangan, Proposal Damai 10 Poin Iran Jadi Dasar Negosiasi

Ali Mustofa • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 12:44 WIB
Ilustrasi Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. (AI/ChatGPT)
Ilustrasi Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. (AI/ChatGPT)

RADAR KUDUS – Langkah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran selama dua pekan menjadi titik awal fase baru diplomasi yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Di balik keputusan tersebut, terungkap adanya proposal damai berisi 10 poin dari Teheran yang kini menjadi pijakan awal perundingan kedua negara.

Sebelumnya, Trump menyampaikan kesediaannya menahan serangan terhadap infrastruktur penting Iran, seperti jembatan hingga pembangkit listrik, dengan syarat jalur pelayaran Selat Hormuz kembali dibuka secara aman.

Ia mengakui telah menerima proposal dari Iran yang dinilai sebagai “dasar yang dapat dikerjakan”, meskipun sehari sebelumnya sempat menyebut dokumen tersebut penting namun belum sepenuhnya memadai.

Rangkuman Isi Proposal Iran

Walau belum dipublikasikan secara lengkap, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengungkap garis besar tuntutan yang diajukan Teheran, yakni:

  1. Jaminan AS tidak melakukan agresi militer.
  2. Pengakuan kontrol Iran atas Selat Hormuz.
  3. Pengakuan hak pengayaan uranium untuk program nuklir.
  4. Penghapusan sanksi utama terhadap Iran.
  5. Penghentian sanksi sekunder bagi pihak asing yang bekerja sama dengan Iran.
  6. Penghentian resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Iran.
  7. Pengakhiran resolusi Badan Energi Atom Internasional soal nuklir Iran.
  8. Pembayaran kompensasi kerusakan akibat perang.
  9. Penarikan pasukan tempur AS dari Timur Tengah.
  10. Gencatan senjata di seluruh front konflik, termasuk Israel–Hizbullah di Lebanon.

Banyak Poin Dinilai Sulit Diterima AS

Sejumlah tuntutan tersebut dinilai menjadi “garis merah” bagi Washington.

Permintaan kompensasi perang, misalnya, diperkirakan sulit disetujui karena Trump selama ini mengkritik kebijakan era Barack Obama yang pernah mencairkan dana Iran dalam kesepakatan nuklir 2015.

Tuntutan penarikan pasukan AS dari Timur Tengah juga berseberangan dengan kebijakan luar negeri Amerika selama puluhan tahun, meskipun belakangan muncul sinyal pengurangan keterlibatan militer.

Selain itu, proposal Iran tidak menyertakan komitmen penghentian program nuklir, isu utama yang selama ini menjadi prioritas Washington.

Meski demikian, pembukaan Selat Hormuz tetap menjadi titik temu penting.

Iran sebelumnya menutup jalur vital tersebut sebagai respons atas serangan yang dimulai akhir Februari. 

Setelah pengumuman penundaan serangan oleh Trump, harga minyak dunia langsung merosot, mencerminkan optimisme pasar terhadap meredanya ketegangan.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menegaskan kesiapan negaranya menjamin jalur pelayaran aman di Selat Hormuz selama dua minggu sebagai bagian dari proses negosiasi.

Perundingan AS–Iran dijadwalkan berlangsung di Islamabad pada Jumat mendatang dengan mediasi Pakistan.

Kedua pihak membawa proposal masing-masing, 10 poin dari Iran dan 15 poin dari AS, sebagai dasar pembahasan.

Meski jalur diplomasi mulai terbuka, perbedaan tajam pada isu utama membuat peluang kesepakatan final masih menghadapi tantangan besar.

Editor : Ali Mustofa
perang timur tengah iran amerika serikat gencatan senjata