Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Diplomasi di Ujung Tanduk: AS dan Iran Negosiasikan Gencatan Senjata Dua Fase di Tengah Ancaman "Power Plant Day"

Ghina Nailal Husna • Senin, 6 April 2026 | 11:50 WIB
AS dan Iran Negosiasikan Gencatan Senjata Dua Fase di Tengah Ancaman "Power Plant Day"
AS dan Iran Negosiasikan Gencatan Senjata Dua Fase di Tengah Ancaman "Power Plant Day"

 

RADAR KUDUS – Sebuah laporan eksklusif dari Axios pada Senin (6/4/2026) mengungkapkan bahwa Amerika Serikat dan Iran tengah terlibat dalam negosiasi intensif di balik layar untuk meredam eskalasi konflik yang kian mencekam.

Melalui mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki, kedua belah pihak mencoba menyusun kesepakatan dua fase yang sangat krusial.

Inti dari negosiasi ini melibatkan komunikasi langsung melalui pesan singkat antara utusan khusus Donald Trump, Steve Witkoff, dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Baca Juga: Selat Hormuz Tidak Tertutup, Melainkan Terfilter: IRGC Kendalikan Jalur Minyak Dunia dan Hukum Kepatuhan Sanksi AS

Namun, di balik jalur komunikasi tersebut, ancaman serangan militer besar-besaran dan penolakan keras dari komando militer Iran membayangi peluang perdamaian.

Berdasarkan empat sumber AS, draf kesepakatan tersebut dibagi menjadi dua tahap utama:

1. Fase 1 (Gencatan Senjata Sementara): Penghentian baku tembak selama 45 hari. Pada tahap ini, Selat Hormuz tetap terbatas dan program nuklir Iran tidak dibahas. Ini murni merupakan "jeda" operasional.

2. Fase 2 (Penyelesaian Permanen): Pembukaan penuh Selat Hormuz, resolusi total program nuklir, dan pembentukan kerangka kerja permanen tanpa klausul kedaluwarsa (no sunset clause).

Strategi Iran terlihat jelas: mereka tetap memegang kartu as berupa kontrol selat dan cadangan uranium selama Fase 1, dan hanya akan menyerahkannya jika Fase 2 memberikan jaminan yang menguntungkan.

Meski jalur diplomasi terbuka, situasi di lapangan menunjukkan kontradiksi yang tajam. Donald Trump menyatakan ada "peluang bagus" untuk mencapai kesepakatan sebelum hari Senin berakhir.

 Namun, ia juga memberikan peringatan keras: "Jika mereka tidak membuat kesepakatan, saya akan meledakkan semuanya di sana."

Militer AS dilaporkan telah menyiapkan rencana operasional serangan masif terhadap pembangkit listrik, jembatan, dan infrastruktur sipil Iran yang dijadwalkan pada hari Selasa, atau yang disebut sebagai "Power Plant Day".

Di pihak lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menunjukkan penolakan total secara publik.

Komando Angkatan Laut IRGC menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke status semula, terutama bagi AS dan Israel, sembari mengumumkan persiapan untuk "Tatanan Baru Teluk Persia". 

Letkol Ebrahim Zolfaghari dari markas Khatam al-Anbiya bahkan menyebut proposal gencatan senjata sebagai upaya AS untuk "mendandani kekalahan sebagai sebuah kesepakatan."

Ketidakpercayaan Iran terhadap tawaran AS berakar pada pengalaman gencatan senjata di Gaza tahun 2023.

Teheran melihat jeda sementara sering kali digunakan oleh Israel dan AS untuk melakukan pengisian ulang pasokan (resupply) dan reposisi pasukan sebelum melanjutkan serangan.

Tanpa jaminan bahwa Fase 1 akan otomatis berlanjut ke Fase 2, Iran khawatir jeda 45 hari hanya akan melemahkan posisi tawar mereka.

Baca Juga: Eksplorasi Melankolis: Sehun 'EXO' Dobrak Citra Rapper Lewat Balada Emosional "Dear My Girl"

Saat ini, Iran memegang kendali atas 400 hingga 450 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen serta kendali penuh atas arus logistik di Selat Hormuz.

Dunia kini menanti apakah pesan teks antara Witkoff dan Araghchi mampu mengalahkan retorika perang di televisi negara Iran.

Jika diplomasi gagal dalam 36 jam ke depan, tenggat waktu akan berakhir dan kawasan tersebut kemungkinan besar akan menyaksikan dimulainya serangan udara besar-besaran terhadap infrastruktur energi Iran. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Negosiasi AS-Iran #Krisis Nuklir #Steve Witkoff #selat hormuz #gencatan senjata