RADAR KUDUS — Dunia maya kembali diguncang oleh kontroversi memilukan yang melibatkan eksploitasi satwa demi konten estetika di media sosial.
Kasus ini bermula dari unggahan seorang influencer asal Rusia, Yulia Buruleva, yang melakukan sesi pemotretan bersama seekor gajah bernama Chanchal di Jaipur, India.
Dalam foto-foto yang sempat viral tersebut, Chanchal tampak tertutup cat berwarna pink cerah dari kepala hingga kaki untuk menciptakan nuansa artistik yang dramatis.
Baca Juga: Komitmen Disiplin ASN: Mensos Gus Ipul Ancam Sanksi Pemecatan bagi Pelanggar Aturan WFH
Namun, keindahan visual tersebut seketika berubah menjadi duka dan amarah publik. Beberapa bulan setelah sesi foto tersebut berlangsung, Chanchal dilaporkan mati.
Kabar ini memicu gelombang protes dari aktivis hak hewan dan masyarakat internasional yang menuntut pertanggungjawaban atas perlakuan terhadap satwa langka tersebut.
PETA India, sebagai salah satu organisasi perlindungan hewan paling vokal, mengecam keras tindakan pengecatan tersebut. Mereka menekankan bahwa kulit gajah adalah organ yang sangat sensitif meskipun terlihat tebal.
Penggunaan bahan kimia dalam cat, meskipun diklaim sebagai bahan alami, dapat menyumbat pori-pori, menyebabkan reaksi alergi parah, serta mengganggu kemampuan alami gajah untuk mengatur suhu tubuhnya.
Selain dampak fisik, proses pengecatan yang memakan waktu lama juga dianggap sebagai bentuk tekanan psikologis dan eksploitasi yang tidak perlu bagi hewan.
Di sisi lain, pihak berwenang setempat memberikan pernyataan yang cenderung diplomatis sehingga memicu polemik lebih lanjut.
Pejabat perlindungan satwa liar di Jaipur menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada bukti medis langsung yang mengaitkan kematian Chanchal dengan proses pengecatan beberapa bulan sebelumnya.
Namun, pernyataan ini justru menambah ketegangan karena publik merasa belum ada penyelidikan resmi dan transparan yang dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kematian sang gajah.
Kejadian ini menjadi pengingat pahit tentang sisi gelap industri konten digital dan pariwisata satwa di India.
Para aktivis berargumen bahwa demi sebuah foto yang estetis, kesejahteraan hewan seringkali dikesampingkan.
Kasus Chanchal kini menjadi simbol perjuangan untuk menghentikan praktik penggunaan satwa liar sebagai properti foto, sekaligus desakan bagi pemerintah India untuk memperketat regulasi perlindungan hewan dari eksploitasi demi kepentingan komersial maupun pribadi.
Hingga saat ini, tuntutan agar adanya otopsi independen dan transparansi data kesehatan satwa terus bergulir.
Masyarakat luas berharap kematian Chanchal tidak berlalu begitu saja tanpa adanya evaluasi menyeluruh terhadap praktik memperlakukan gajah di sektor pariwisata. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna