Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Akibat Konflik Timur Tengah, Warga Korea Selatan Berbondong-bondong Borong Kantong Sampah

Anita Fitriani • Jumat, 3 April 2026 | 14:47 WIB
Ilustrasi kantong plastik sampah
Ilustrasi kantong plastik sampah

 

 

RADAR KUDUS - Warga Korea Selatan baru-baru ini dikejutkan oleh fenomena panic buying kantong sampah, yang ternyata berkaitan dengan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dalam situasi kekhawatiran mengenai gangguan pasokan bahan baku plastik akibat konflik global, masyarakat di berbagai kota, terutama di Seoul, ramai-ramai mendatangi toko-toko serba ada dan minimarket untuk membeli kantong sampah rumah tangga, sehingga rak-rak di sejumlah gerai ritel hampir kosong dalam hitungan hari.

Tindakan ini mengejutkan tidak hanya karena objeknya yang tampak sepele, melainkan juga menunjukkan betapa peka masyarakat terhadap kekuatan rantai pasokan global yang rapuh di tengah krisis energi.

Fenomena pembelian berlebih kantong sampah ini muncul setelah isu tentang potensi gangguan pasokan nafta yang merupakan bahan baku utama untuk industri petrokimia dan plastik menjadi perhatian seiring meningkatnya konflik di Timur Tengah.

Baca Juga: Pertamina Ingatkan Masyarakat: Harga BBM Tidak Naik, Jangan Panic Buying

Korea Selatan adalah negara yang sangat bergantung pada impor energi, sehingga setiap ketegangan di kawasan Teluk Persia langsung memicu kepanikan mengenai ketersediaan produk berbahan plastik, termasuk kantong sampah yang merupakan komponen penting dalam sistem manajemen limbah sehari-hari.

Berdasarkan informasi yang telah ada mengungkapkan bahwa penjualan kantong sampah di beberapa jaringan toko ritel meningkat lebih dari 300 persen dalam seminggu, dengan kantong ukuran 10 liter dan 20 liter menjadi yang paling banyak dicari karena sering digunakan oleh rumah tangga.

 Akibatnya, banyak gerai seperti CU, GS25, 7-Eleven, dan Emart24 terpaksa membatasi jumlah pembelian per pelanggan dan mempercepat pengiriman ulang untuk menanggapi keresahan masyarakat.

Di tengah antusiasme pembelian kantong sampah ini, pemerintah Korea Selatan berusaha menenangkan publik dengan menyatakan bahwa persediaan kantong sampah di tingkat nasional masih aman.

Baca Juga: Harga Kemasan Plastik Meroket, Pedagang Pasar Curhat Langsung ke Menko Zulhas

Pemerintah menjelaskan bahwa produksi kantong sampah tidak hanya bergantung pada nafta impor, tetapi juga didukung oleh bahan baku plastik dari daur ulang dalam negeri, sehingga meskipun ada gangguan sementara di rantai pasokan global, bukan berarti akan ada kelangkaan total.

Namun, narasi ketidakpastian di media dan media sosial, ditambah dengan ingatan kolektif akan krisis pasokan sebelumnya, tetap membuat banyak warga merasa perlu untuk “berjaga-jaga” dengan membeli stok kantong sampah di rumah.

Fenomena ini kemudian menjadi simbol bagaimana konflik di Timur Tengah, yang sering dianggap sebagai isu yang jauh, dapat berdampak hingga ke belanja harian di toko-toko sekitar Korea Selatan. (*)

Editor : Anita Fitriani
#kantong sampah #konflik timur tengah #panic buying #korea selatan #kantong plastik