Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kedaulatan Udara AS Terancam: F-35 Terjepit Boikot Mineral Tiongkok dan Kebocoran Data Masif

Ghina Nailal Husna • Kamis, 2 April 2026 | 20:59 WIB
Kedaulatan Udara AS Terancam
Kedaulatan Udara AS Terancam

 

RADAR KUDUS – Jet tempur siluman tercanggih di dunia, F-35 Lightning II, kini menghadapi ancaman eksistensial yang tidak datang dari rudal lawan, melainkan dari kelumpuhan rantai pasok dan serangan siber lintas negara.

Pesawat kebanggaan Amerika Serikat ini terjepit dalam perang asimetris yang melibatkan penguasaan mineral mentah, kelangkaan gas helium, hingga dugaan pencurian data teknis berskala masif.

Setiap unit F-35 mengandung lebih dari 400 kilogram material tanah jarang (rare earth). Komponen vital seperti magnet samarium-kobalt pada mesin, magnet neodymium pada radar, hingga paduan logam khusus pada turbin, mayoritas diproduksi di Tiongkok. Saat ini, Beijing menguasai lebih dari 90 persen produksi magnet tanah jarang global.

Baca Juga: Penghormatan Terakhir bagi Patriot Bangsa: Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon Terima Santunan Rp1,8 Miliar dan Kenaikan Pangkat Anumerta

Sejak Desember 2025, Beijing telah melarang ekspor material ini ke perusahaan yang berafiliasi dengan militer asing, menciptakan situasi ironis di mana jet tempur AS sangat bergantung pada negara yang secara resmi memboikotnya.

Pada 23 Maret lalu, kelompok peretas yang terafiliasi dengan IRGC (Garda Revolusi Iran), APT Iran, mengeklaim telah mencuri 375 terabyte data sensitif dari Lockheed Martin.

Mereka menuntut tebusan sebesar 400 juta dolar AS, namun ditolak oleh perusahaan.

 Kini, data tersebut dilaporkan muncul di pasar gelap *dark web* dengan harga fantastis mencapai 598,5 juta dolar AS.

Dokumen yang diduga bocor mencakup cetak biru F-35, skema modul radar, desain pendingin mesin, spesifikasi lapisan siluman, hingga kode sumber sistem misi.

IRGC mengumumkan akan membagikan sebagian data ini kepada "negara sahabat", termasuk Tiongkok. 

Meskipun Lockheed Martin menyatakan percaya diri pada integritas sistem keamanan berlapis mereka dan belum ada laporan resmi dari CISA, keberadaan daftar penjualan data tersebut di pasar gelap telah memicu kepanikan di kalangan intelijen Barat.

Analis militer menyebut F-35 kini diserang di tiga front sekaligus yang semuanya bermuara pada pengaruh geopolitik Tiongkok:

1. Krisis Helium: Sistem penargetan F-35 bergantung pada chip yang diproduksi menggunakan teknologi extreme ultraviolet lithography yang didinginkan oleh helium.

Pasokan helium dunia dari Ras Laffan, Qatar, saat ini terhenti akibat konflik di ladang gas South Pars.

Perang telah menghancurkan pasokan pendingin bagi chip yang memandu pesawat tersebut.

2. Boikot Tanah Jarang: Larangan ekspor Tiongkok mengancam produksi magnet di pabrik perakitan Fort Worth.

Jika terus berlanjut, pengiriman jet tempur diprediksi meleset 20 hingga 30 persen pada pertengahan 2026. Sementara itu, alternatif domestik AS baru akan mendapatkan sertifikasi pada pertengahan 2027.

3. Rekayasa Terbalik (Reverse Engineering): Jika data yang dicuri terbukti otentik, para insinyur Tiongkok dapat mempercepat pengembangan jet tempur J-20 dan J-31 mereka, serupa dengan keberhasilan operasi spionase Su Bin pada 2007-2014 yang menghemat biaya riset militer Tiongkok hingga miliaran dolar.

Baca Juga: Pemkab Jepara Fasilitasi Pembuatan Barcode BBM bagi Nelayan Karimunjawa

F-35 dirancang untuk mendominasi setiap medan pertempuran fisik di bumi. Namun, pesawat ini tidak dirancang untuk memenangkan perang di mana medan tempurnya adalah rantai pasok global, tabel periodik unsur kimia, dan server internet di pasar gelap.

Penguasaan Tiongkok atas material tanah jarang, dikombinasikan dengan krisis energi di Timur Tengah dan serangan siber Iran, menciptakan asimetri yang tidak dapat diintersep oleh teknologi siluman mana pun.

Saat ini, masa depan jet tempur paling mahal dalam sejarah AS ini tidak ditentukan di langit, melainkan di ruang konferensi di Beijing yang memegang kendali atas urat nadi produksinya. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#F-35 Lightning II #Perang Rantai Pasok #Logam Tanah Jarang #Lockheed Martin #keamanan siber