Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Operasi Doktrin Begin: Israel Lumpuhkan Fasilitas Inti Nuklir Iran, AS Siapkan Operasi Rebut Cadangan Uranium

Ghina Nailal Husna • Sabtu, 28 Maret 2026 | 19:46 WIB
Israel Lumpuhkan Fasilitas Inti Nuklir Iran, AS Siapkan Operasi Rebut Cadangan Uranium
Israel Lumpuhkan Fasilitas Inti Nuklir Iran, AS Siapkan Operasi Rebut Cadangan Uranium

 

RADAR KUDUS – Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik kritis baru setelah Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melancarkan serangan udara presisi yang menghancurkan satu-satunya fasilitas konversi uranium mentah menjadi yellowcake di Iran. 

Serangan ini menargetkan Pabrik Ardakan di Provinsi Yazd, yang merupakan gerbang tunggal dalam siklus bahan bakar nuklir Iran.

Tanpa konsentrat yellowcake dari Ardakan, alat pemusing (centrifuge) di Natanz dan Fordow dipastikan tidak memiliki bahan baku untuk proses pengayaan.

Baca Juga: Hangatnya Kekeluargaan TXT: Para Ibu Member Bersatu Temani Ibunda Beomgyu Selama Masa Pemulihan Pasca-Operasi

IDF mengonfirmasi bahwa Ardakan adalah fasilitas unik yang tidak memiliki padanan di tempat lain di wilayah Iran.

Dalam gelombang serangan yang sama, jet tempur Israel juga menghantam kompleks air berat Shahid Khondab di dekat Arak. Fasilitas ini diidentifikasi oleh intelijen Israel sebagai situs produksi plutonium kunci untuk senjata nuklir. 

Organisasi Energi Atom Iran mengonfirmasi kedua serangan tersebut, namun melaporkan tidak ada korban jiwa maupun risiko kebocoran radiasi.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga mengonfirmasi bahwa tidak ada kenaikan tingkat radiasi di luar batas normal di sekitar lokasi.

Analis militer menyebut aksi ini sebagai penerapan "Doktrin Begin" dalam bentuknya yang paling murni—logika strategis yang sama yang menghancurkan reaktor Osirak Irak pada 1981 dan reaktor Al-Kibar Suriah pada 2007: serangan preventif sepihak untuk melumpuhkan infrastruktur nuklir sebelum mencapai kapabilitas operasional.

Meski jalur pasokan utama telah lumpuh, para ahli memperingatkan bahwa kapabilitas nuklir Iran belum sepenuhnya musnah.

Fasilitas pengayaan di Natanz tetap beroperasi di bawah lapisan batu gunung yang diperkeras, sementara situs Fordow di dekat Qom dilaporkan hanya mengalami dampak minimal.

Citra satelit dari Planet Labs menunjukkan pembangunan kompleks terowongan baru yang disebut Pickaxe Mountain di dekat Natanz terus dipercepat. 

Iran diperkirakan masih menyimpan 450 hingga 970 pon uranium yang diperkaya 60% di fasilitas penyimpanan bawah tanah Isfahan—jumlah yang cukup untuk membuat beberapa senjata nuklir jika diperkaya lebih lanjut hingga 90%.

Di tengah kerusakan infrastruktur tersebut, perhatian global kini tertuju pada manuver Amerika Serikat.

 Dalam KTT FII pada hari Jumat, Donald Trump menyatakan bahwa ribuan target Iran tetap menjadi sasaran dan 97% peluncur rudal Iran telah dihancurkan.

Ia juga menegaskan tuntutan agar Iran membuka kembali "Selat Trump" (merujuk pada Selat Hormuz).

Laporan dari CBS, Axios, dan Wired mengungkapkan rencana kontingensi yang jauh lebih berisiko: operasi JSOC (Joint Special Operations Command) untuk menyita fisik stok uranium diperkaya dari terowongan bawah tanah Iran. 

Operasi skala besar ini diperkirakan melibatkan:

1. Delta Force atau DEVGRU: Untuk penetrasi awal ke dalam fasilitas.

2. 160th SOAR: Untuk mobilitas udara pasukan khusus.

3. Rangers dan Divisi Lintas Udara ke-82: Untuk pengamanan perimeter.

4. Tim Pelumpuh Nuklir (NDT): Untuk menangani tabung uranium hexafluoride yang beracun dan radioaktif.

Saat ini, tiga gugus tempur pembawa pesawat (carrier strike groups) dan dua Unit Ekspedisi Marinir (MEU) AS tengah bergerak memusatkan kekuatan di kawasan tersebut. 

Baca Juga: Setelah 17 Tahun, Desa di Korea Selatan Rayakan Kelahiran Bayi dengan Spanduk Haru

Lebih dari 60 penerbangan logistik khusus telah mengirimkan aset operasi khusus ke pangkalan depan.

Dengan tenggat waktu jeda perang yang berakhir pada 6 April (sehari setelah Paskah), penumpukan militer AS di Timur Tengah telah mencapai level tertinggi sejak invasi 2003.

Pertanyaan besar yang tersisa bagi komunitas internasional bukan lagi apakah perang ini akan berlanjut, melainkan apakah krisis ini akan diakhiri dengan serangan udara atau dengan pertempuran jarak dekat pasukan khusus di dalam terowongan radioaktif Iran. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#IDF #Ardakan #Yellowcake #Doktrin Begin #Natanz #Fordow #Shahid Khondab #Plutonium #Pasukan Khusus #JSOC #Delta Force #Krisis Timur Tengah #IAEA #Strategi Militer #uranium #donald trump #iran #Israel #selat hormuz #nuklir