Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Setelah 17 Tahun, Desa di Korea Selatan Rayakan Kelahiran Bayi dengan Spanduk Haru

Anita Fitriani • Sabtu, 28 Maret 2026 | 14:53 WIB

 

Ilustrasi kelahiran bayi (Foto: Istock)
Ilustrasi kelahiran bayi (Foto: Istock)

 

RADAR KUDUS - Setelah hampir dua puluh tahun mengalami keheningan tanpa kelahiran bayi, sebuah desa kecil di Korea Selatan akhirnya merasakan sebuah momen yang istimewa, lahirnya seorang anak laki-laki setelah 17 tahun tanpa ada kelahiran baru.

Di Eunha-myeon, daerah pedesaan di Kabupaten Hongseong, kelahiran bayi ini bukan hanya peristiwa bagi keluarga, tetapi juga sebuah perayaan yang menggetarkan hati seluruh penduduk desa.

Bayi laki-laki yang diberi nama Yong-jun lahir dari pasangan Jeong Hae-deok dan istrinya, Sreydani, yang berasal dari Kamboja, pada tanggal 19 Maret 2026.

Bagi masyarakat Eunha-myeon, kelahiran ini menjadi titik balik penting setelah bertahun-tahun jumlah penduduk desa semakin berkurang dan mayoritas warganya adalah orang lanjut usia.

Dalam sepuluh tahun terakhir, populasi daerah ini menurun dari lebih dari 2. 600 orang menjadi kurang dari 2.000 jiwa, sehingga setiap kelahiran baru dianggap sebagai “anugerah” yang sangat berarti.

Baca Juga: Vietnam Pangkas Pajak BBM Saat Krisis BBM Global Mengintai Asia

Kebahagiaan masyarakat diungkapkan dengan cara yang sederhana namun penuh kehangatan: organisasi setempat memasang spanduk di berbagai lokasi desa untuk menyambut kelahiran Yong-jun.

Salah satu spanduk bertuliskan, "Sebuah hadiah istimewa hadir di Eunha-myeon pada tahun 2026. Kami merayakan kelahiran bayi laki-laki Jeong Yong-jun dari Jeong Hae-deok dan Sreydani". Hal tersebut menjadi simbol persatuan dan harapan kolektif desa untuk masa depan yang lebih cerah. 

Suara tangisan bayi yang memecah keheningan jalanan desa yang biasanya sepi tersebut mengingatkan bahwa komunitas mereka masih bisa melahirkan generasi baru, meskipun di tengah tantangan demografi.

Baca Juga: Bus Bawa 24 Jemaah Umrah RI Terbakar di Madinah, Tak Ada Korban Jiwa

Perayaan ini semakin terasa bermakna ketika di bulan yang sama, satu-satunya sekolah dasar di Eunha-myeon menerima empat siswa baru untuk kelas satu, sehingga total murid yang terdaftar menjadi 17 orang.

Bagi kepala desa Eunha-myeon, Shim Seon-ja, kedua peristiwa ini kelahiran bayi pertama dalam 17 tahun dan pendaftaran siswa baru dipandang sebagai kebahagiaan yang tak ternilai bagi seluruh wilayah desa. 

Di tengah Korea Selatan yang menghadapi angka kelahiran terendah di dunia, dengan kira-kira 0,72 pada tahun 2023 dan masyarakat yang semakin menua, kisah Yong-jun dari Eunha-myeon menjadi sebuah pengingat kecil tentang bagaimana komunitas kecil dapat mempertahankan harapan melalui satu tangisan bayi. (An)

Editor : Anita Fitriani
#desa di korea #bayi di korea #angka kelahiran di korea #angka kelahiran terendah #eunha myon #korea #korea selatan