Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tragedi di Terminal Transit: Kisah Dokter Suriah yang "Kehilangan Nama" di Bandara Mesir

Ghina Nailal Husna • 2026-03-27 21:27:36
Tragedi di Terminal Transit
Tragedi di Terminal Transit

 

RADAR KUDUS – Sebuah kesaksian memilukan datang dari Dr. Yasser Al-Darwish, seorang dokter asal Suriah yang membagikan pengalaman traumatisnya saat melakukan perjalanan transit menuju Arab Saudi.

Melalui catatan pribadinya, Dr. Al-Darwish mengungkap realitas pahit diskriminasi sistematis yang dialami oleh pemegang paspor dari negara-negara konflik di gerbang perbatasan internasional.

Insiden ini diduga terjadi di Bandara Sharm El-Sheikh, Sinai, Mesir, saat sang dokter dalam perjalanan kembali dari Amsterdam menuju Riyadh.

Baca Juga: Jejak Emas di Ujung Perahu: Menyingkap Rahasia Ukiran dan Kejayaan Maritim Jepara

Setibanya di zona transit, Dr. Al-Darwish disambut bukan oleh keramahan petugas, melainkan oleh barisan polisi dan intelijen. Tanpa alasan kriminal, ia dinyatakan dilarang masuk hanya karena kewarganegaraannya. 

"Saya berkata: saya tidak ingin masuk ke negara ini, saya hanya ingin melanjutkan perjalanan transit saya," kenangnya. Namun, argumen tersebut dimentahkan.

Petugas menyita paspor dan ponselnya, lalu menggiringnya ke sebuah ruangan sempit tempat para tahanan deportasi dikumpulkan.

Selama proses pemindahan antar kantor polisi di area bandara, Dr. Al-Darwish merasakan penghancuran martabat yang luar biasa.

Setiap kali petugas lain bertanya tentang identitasnya, polisi yang mengawal hanya menjawab singkat: "Orang yang akan dideportasi."

"Itulah yang menjadi nama saya selama berjam-jam yang berat itu," tulisnya dengan nada getir.

Di dalam ruang tahanan yang menyedihkan selama 28 jam, Dr. Al-Darwish bertemu dengan sesama pencari suaka: seorang pemuda pemberani dari Gaza dan seorang mahasiswi Muslim dari Al-Azhar.

Di tengah ketidakpastian, ia menyaksikan sebuah pemandangan yang dianggapnya sebagai ironi terbesar.

Di saat dirinya diawasi ketat dan tidak diizinkan bergerak, ia melihat kelompok warga Israel bergerak bebas dengan paspor mereka di area bandara yang sama.

Ketegangan sempat memuncak saat seorang warga Israel mendekatinya di gerbang keberangkatan untuk meminjam ponsel.

Dr. Al-Darwish menolak dengan tegas, "Sebab saya orang Suriah," sebuah jawaban yang menyiratkan luka atas ketidakadilan yang ia terima di tanah yang seharusnya menjadi saudara serumpun.

Selama penahanan, para tahanan dipaksa membeli makanan dan minuman dengan harga selangit dalam mata uang Dolar AS melalui petugas khusus.

Dr. Al-Darwish juga dipaksa menghapus dokumentasi foto di ponselnya sebelum perangkat tersebut disita, meski kemudian ia berhasil memulihkannya.

Drama ini baru berakhir setelah ia dipaksa memesan tiket baru menggunakan maskapai Saudi Airlines langsung menuju Riyadh, yang berarti tiket penerbangan sebelumnya hangus begitu saja.

Baca Juga: Chemistry Mematikan! Duet Ole Romeny – Beckham Putra Nugraha Buat Timnas Indonesia Unggul 2-0 atas Saint Kitts and Nevis Babak Pertama

"Saya tidak merasa aman sampai saya benar-benar menginjakkan kaki di pesawat menuju Arab Saudi," ungkapnya.

Kisah Dr. Yasser Al-Darwish menjadi pengingat kelam bagi dunia internasional mengenai sulitnya mobilitas bagi warga dari negara konflik.

Di balik kemegahan bandara internasional, masih ada sudut-sudut gelap tempat martabat manusia diukur berdasarkan warna sampul paspor, bukan berdasarkan kemanusiaan itu sendiri. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Kisah Dr. Yasser Al-Darwish #diskriminasi paspor #pengungsi Suriah #Bandara Sharm El-Sheikh #krisis kemanusiaan #deportasi bandara #transit internasional #penahanan ilegal #solidaritas Gaza #mahasiswi Al-Azhar #diskriminasi warga Arab #keamanan perbatasan #status kewarganegaraan #trauma perjalanan #isolasi bandara #kebebasan bergerak #perlakuan petugas polisi #biaya deportasi #ketidakadilan sistematis #Hak Asasi Manusia