RADAR KUDUS - Pemerintah Jepang mengumumkan pelepasan cadangan minyak strategis nasional senilai 80 juta barel untuk menangkal dampak penutupan Selat Hormuz akibat konflik AS-Israel melawan Iran, langkah ini diambil Perdana Menteri Sanae Takaichi demi menjaga stabilitas pasokan energi domestik.
Negara kepulauan di Asia Timur ini yang sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah, khususnya Iran, kini menghadapi ancaman serius terhadap keamanan energinya.
Pada awal Maret 2026, Takaichi menyatakan di depan parlemen bahwa Jepang memiliki cadangan minyak mencukupi untuk 254 hari atau sekitar 8,5 bulan, termasuk stok milik sektor swasta dan cadangan gas alam cair selama tiga minggu.
Penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati seperlima pasokan minyak dunia, memicu kekhawatiran global akan krisis energi, sehingga Tokyo memutuskan bertindak cepat dengan pelepasan cadangan tersebut paling lambat mulai 16 Maret 2026.
Baca Juga: Memanas! Iran Luncurkan Rudal Haj Qasem, Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah
Juru bicara pemerintah Minoru Kihara menambahkan bahwa serangan AS-Israel ke Iran diprediksi tidak langsung mengganggu pasokan Jepang berkat hubungan diplomatik baik dengan Teheran, meski ketergantungan impor tetap menjadi risiko utama.
Pelepasan cadangan ini setara dengan kebutuhan konsumsi minyak Jepang selama 15 hari dari sektor swasta dan satu bulan dari stok nasional, sebagaimana dijelaskan Takaichi melalui siaran NHK.
Langkah unilateral ini mendahului kesepakatan Badan Energi Internasional (IEA) yang berencana melepaskan rekor 400 juta barel dari cadangan darurat anggotanya untuk meredam lonjakan harga energi global.
Jepang, sebagai importir energi utama tanpa sumber daya alam minyak sendiri, telah lama membangun sistem cadangan strategis seperti di fasilitas Shibushi, yang kini diinstruksikan bersiap aktif jika krisis memburuk.
Baca Juga: Menteri Jepang Berlari Kencang dan Minta Maaf ke Publik Karena Telat 5 Menit
Pemerintah berkomitmen memastikan pasokan stabil sambil menjaga hubungan baik dengan Iran, meski konflik Timur Tengah terus memanas. Dalam pidato parlemen pada 2 Maret 2026, Takaichi menegaskan cadangan 254 hari itu mencakup stok pemerintah dan swasta, memberikan waktu fleksibel bagi Jepang menghadapi gangguan pasokan. Keputusan pelepasan cadangan juga bertujuan mencegah inflasi harga BBM dan listrik yang bisa memukul ekonomi domestik, di mana energi menyumbang porsi besar biaya produksi industri.
Analis energi memuji ketahanan Jepang, yang jauh melampaui rata-rata global, sebagai hasil strategi jangka panjang pasca-krisis minyak 1970-an, meski diversifikasi sumber impor ke negara lain tetap diperlukan.
Sementara itu, Tokyo memantau perkembangan perang dan berkoordinasi dengan IEA untuk respons kolektif. Kondisi ini menggarisbawahi kerentanan Jepang terhadap geopolitik global, di mana 90 persen minyaknya berasal dari Timur Tengah.
Baca Juga: Memanas! Iran Luncurkan Rudal Haj Qasem, Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah
Dengan pelepasan cadangan, pemerintah berharap meredakan tekanan jangka pendek sambil mendorong efisiensi energi dan transisi ke sumber terbarukan.
Takaichi menekankan bahwa stabilitas energi adalah prioritas nasional, dan Jepang siap menggunakan segala cadangan jika diperlukan untuk melindungi warganya dari krisis.
Langkah ini tidak hanya menjaga kestabilan domestik, tapi juga memberi sinyal bagi pasar global bahwa Tokyo berkomitmen menstabilkan harga minyak dunia. Pada akhirnya, keputusan Jepang melepaskan cadangan minyak strategis menjadi contoh ketangguhan negara maju dalam menghadapi badai geopolitik.
Meski ancaman masih mengintai, cadangan besar dan respons cepat ini memberi ruang bernapas bagi ekonomi Jepang dan dunia, sambil menunggu resolusi konflik Timur Tengah yang kian rumit. Jepang terus memantau situasi, siap bertindak lebih lanjut demi keamanan energi jangka panjang. (*)
Editor : Anita Fitriani