Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dampak Krisis Energi Global: Bangladesh dan Pakistan Tutup Institusi Pendidikan demi Penghematan Listrik

Ghina Nailal Husna • Rabu, 11 Maret 2026 | 06:57 WIB

Dampak krisis energi global
Dampak krisis energi global

RADAR KUDUS – Ketegangan geopolitik yang terus meningkat di Timur Tengah telah memicu gelombang kekhawatiran baru bagi negara-negara berkembang.

Sebagai langkah preventif menghadapi ancaman krisis pasokan energi global, pemerintah Bangladesh dan Pakistan secara resmi mengumumkan penutupan sementara sekolah serta perguruan tinggi di wilayah mereka.

Kebijakan drastis ini diambil demi mengamankan cadangan listrik dan bahan bakar yang semakin menipis akibat lonjakan harga serta terganggunya rantai pasok energi dunia.

Di Bangladesh, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan telah mengeluarkan instruksi tegas bagi seluruh institusi pendidikan.

Langkah utama yang diambil adalah mempercepat jadwal libur panjang untuk merayakan hari besar Idul Fitri.

Instruksi ini berlaku secara menyeluruh, mencakup universitas negeri maupun swasta, sekolah dengan kurikulum internasional (English medium schools), hingga pusat-pusat bimbingan belajar.

Keputusan ini dinilai sangat krusial untuk menekan beban penggunaan listrik secara signifikan di gedung-gedung administrasi, ruang kelas, laboratorium, hingga fasilitas asrama mahasiswa yang selama ini menjadi konsumen energi besar.

"Prioritas kami saat ini adalah mengamankan kebutuhan energi dasar masyarakat. Pengurangan aktivitas di gedung-gedung pendidikan menjadi salah satu cara paling efektif untuk menurunkan beban puncak pemakaian listrik nasional di tengah situasi yang tidak menentu ini," ungkap juru bicara kementerian terkait.

Senada dengan Bangladesh, pemerintah Pakistan telah menerapkan kebijakan penutupan sekolah sejak 10 Maret 2026.

Fokus utama Pakistan tidak hanya terbatas pada konsumsi listrik di lingkungan gedung sekolah, tetapi juga pada pengurangan volume lalu lintas di jalan raya.

Pemerintah Pakistan menilai bahwa operasional sekolah yang masif setiap harinya menyumbang angka konsumsi bahan bakar yang sangat tinggi, mulai dari operasional armada bus sekolah, van jemputan, hingga mobilitas harian para guru, siswa, dan orang tua.

Dengan menghentikan kegiatan belajar-mengajar di tempat, otoritas setempat berharap dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil secara nasional yang saat ini persediaannya kian menipis akibat ketegangan di jalur distribusi energi Timur Tengah.

Situasi di Timur Tengah telah menyebabkan volatilitas pada pasar energi global. Sebagai negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar untuk pembangkit listrik, kedua negara ini terpaksa mengambil langkah taktis untuk mencegah pemadaman listrik bergilir (blackout) yang lebih luas bagi masyarakat umum dan sektor industri.

Para pengamat ekonomi memperingatkan bahwa langkah penghematan ini memang membawa konsekuensi pada efektivitas kegiatan belajar mengajar bagi jutaan siswa.

Namun, di sisi lain, kebijakan ini dianggap sebagai langkah yang tidak terelakkan guna menjaga stabilitas ekonomi dan menjamin ketersediaan energi bagi kebutuhan rumah tangga yang lebih mendesak di tengah krisis yang dipicu oleh konflik internasional.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah di kedua negara terus memantau perkembangan situasi global.

Pihak otoritas menyatakan bahwa kebijakan ini bersifat sementara dan akan dievaluasi secara berkala sesuai dengan kondisi pasokan energi nasional yang tersedia. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#bangladesh #krisis energi global #pakistan