Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mojtaba Khamenei Resmi Dilantik sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Menggantikan Ayahnya

Anita Fitriani • Senin, 9 Maret 2026 | 13:56 WIB

 

Mojtaba Khamenei (Foto: tangkapan layar instagram @mojtaba_khamenei_ir)
Mojtaba Khamenei (Foto: tangkapan layar instagram @mojtaba_khamenei_ir)

 

RADAR KUDUS - Iran secara resmi mengangkat Mojtaba Khamenei, anak kedua dari almarhum Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi yang baru, hanya beberapa hari setelah kematian ayahnya akibat serangan terkoordinasi dari Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Penunjukan ini dilakukan oleh Majelis Pakar Iran di tengah suasana politik yang tegang, menandai perubahan kekuasaan yang penuh kontroversi, karena dapat dianggap sebagai bentuk pewarisan dinasti di negara yang menerapkan teokrasi anti-monarki.

Ayatollah Ali Khamenei memimpin Iran selama 37 tahun sejak tahun 1989, dan meninggal akibat serangan militer oleh AS dan Israel yang memicu konflik regional baru-baru ini.

Dalam serangan tersebut, beberapa pejabat tinggi Iran juga tewas, sehingga Majelis Pakar terpaksa segera memilih penggantinya. Mojtaba, yang berusia 56 tahun, terpilih setelah proses cepat yang didukung oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), meskipun ada penolakan awal dari pemerintah Iran terhadap desas-desus tersebut.

Sebelumnya, banyak spekulasi mengenai Mojtaba sebagai kandidat kuat telah beredar sejak tahun 2025, terutama setelah kesehatan ayahnya menurun.

Beberapa media seperti The New York Post dan NDTV melaporkan bahwa ia merupakan favorit Dewan Pakar karena latar belakang ideologi dan militer yang baik, meskipun pemerintah Iran segera membantah laporan-laporan tersebut sebagai tidak resmi.

Penunjukan resmi diumumkan melalui siaran televisi negara, statusnya sebagai ulama menengah yang memiliki pengaruh besar secara diam-diam.

Mojtaba Hosseini Khamenei lahir sebagai anak kedua dari enam bersaudara Ali Khamenei.

Ia dikenal sebagai sosok yang misterius dan jarang tampil di depan publik, tidak pernah mencalonkan diri dalam pemilihan umum, serta lebih fokus untuk mempengaruhi lingkaran keamanan serta bisnis yang berkembang di masa ayahnya.

Mojtaba memiliki kedekatan dengan IRGC, pernah bertugas selama Perang Iran-Irak, dan dituduh terlibat dalam penindasan demonstrasi tahun 2009 setelah pemilihan Ahmadinejad, meskipun tidak ada bukti resmi yang mendukung tuduhan tersebut.

Baca Juga: Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2026: Tema For All Women and Girls, Sejarah, dan Panggilan Aksi Kesetaraan Gender

Secara pribadi, Mojtaba menikahi Zahra Haddad-Adel, putri mantan Ketua Parlemen Gholam-Ali Haddad-Adel, pada tahun 2004. Mereka memiliki tiga anak, tetapi istrinya dilaporkan tewas dalam serangan baru-baru ini oleh AS-Israel.

Sebagai seorang konservatif yang teguh seperti ayahnya, Mojtaba dianggap akan menjaga keberlanjutan sistem teokrasi di Iran, dengan ketaatannya pada ideologi Syiah yang membuatnya populer di kalangan elit militer.

Penunjukan Mojtaba menimbulkan kontroversi karena bertentangan dengan semangat Revolusi Islam 1979 yang menentang monarki, yang menganggap pewarisan kekuasaan dari ayah ke anak bertentangan dengan prinsip suksesi ulama Syiah.

Beberapa ulama menolak keputusan tersebut, dan dikabarkan Ayatollah Ali Khamenei tidak menyertakan namanya dalam daftar calon pengganti tahun lalu.

Di dalam negeri, IRGC menekan isu ini untuk menjaga stabilitas di tengah perang.

Reaksi internasional pun cukup keras, Presiden AS Donald Trump menyebut penunjukan ini "tidak dapat diterima," sementara media Barat mengkhawatirkan bahwa Mojtaba akan meneruskan kebijakan anti-Barat yang diambil ayahnya.

Di wilayah Timur Tengah, hal ini berpotensi memperburuk keretakan hubungan dengan Israel dan AS, mengingat Iran kini dipimpin oleh sosok yang lebih agresif terhadap musuh-musuhnya.

Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran mengisyaratkan dimulainya era baru di tengah krisis perang dan transisi kekuasaan yang sulit, dengan kemungkinan semakin menguatnya pengaruh IRGC sambil menghadapi tantangan dari kalangan reformis dan ulama oposisi.

Meskipun diwarnai kontroversi, langkah ini menjamin kelangsungan rezim Khamenei, tetapi juga menimbulkan pertanyaan mengenai stabilitas Teheran dalam jangka panjang di kancah internasional.

Ke depannya, dunia akan mengamati bagaimana pemimpin baru ini menjalani perang regional dan menghadapi tekanan dari sanksi internasional.

 

Editor : Zainal Abidin RK
#Pemimpin baru iran #iran #Ayatollah Ali Khamenei #Mojtaba Khamenei jadi pemimpin iran