Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2026: Tema "For All Women and Girls", Sejarah, dan Panggilan Aksi Kesetaraan Gender

Anita Fitriani • Minggu, 8 Maret 2026 | 14:52 WIB

Hari Perempuan Internasional 2026 (Foto: Istock)
Hari Perempuan Internasional 2026 (Foto: Istock)

 

RADAR KUDUS - Hari Perempuan Internasional dirayakan setiap tanggal 8 Maret, termasuk hari ini, Minggu, 8 Maret 2026, sebagai peringatan global untuk menghargai pencapaian para wanita dalam berbagai bidang dan untuk menyoroti perjuangan menuju kesetaraan gender yang masih berlangsung.

Pada tahun ini, tema yang diangkat oleh UN Women adalah "For All Woman and Girls", yang menunjukkan komitmen dunia untuk menjamin hak, akses pendidikan, dan partisipasi setara bagi setiap perempuan dan anak perempuan di mana pun mereka berada.

Peringatan ini bukan sekadar seremoni, namun seruan untuk tindakan nyata melawan diskriminasi, kekerasan, dan ketidakadilan yang masih menghantui banyak perempuan.

Sejarah Panjang Perjuangan

Hari Perempuan Internasional berawal dari gerakan buruh perempuan pada awal abad ke-20, terutama pada protes buruh tekstil di New York pada tahun 1908 yang menuntut upah yang adil, jam kerja yang manusiawi, dan hak suara.

Pada tahun 1910, Clara Zetkin mengusulkan peringatan tahunan di Konferensi Perempuan Internasional,  pertama kali dirayakan pada 19 Maret 1911 di beberapa negara Eropa, sebelum akhirnya dipindahkan ke 8 Maret setelah aksi damai perempuan Rusia menentang Perang Dunia I pada 1913.

PBB secara resmi mengakui tanggal ini pada tahun 1975, menjadikannya sebagai platform global untuk advokasi kesetaraan gender, dengan 115 tahun sejarah pada 2026 yang menunjukkan perkembangan dari tuntutan dasar menjadi isu kompleks seperti pemberdayaan digital dan keadilan iklim.

Di Indonesia, perayaan ini sejalan dengan semangat Kartini yang lahir pada 21 April, di mana organisasi seperti Komnas Perempuan dan Solidaritas Perempuan aktif memperjuangkan undang-undang anti-kekerasan serta peningkatan jumlah perempuan di parlemen.

Pada tahun 2026, meskipun ada kemajuan dalam ekonomi digital, perempuan Indonesia masih menghadapi kesenjangan upah hingga 23% dibandingkan laki-laki dan angka kekerasan domestik yang tinggi, menjadikan peringatan hari ini relevan untuk tindakan seperti kampanye #PerempuanBerdaya.

Tema 2026 dan Isu Terkini

Tema "For All Woman and Girls " berfokus pada inklusivitas, meliputi perempuan yang tinggal di pedesaan, penyandang disabilitas, dan kelompok minoritas yang sering terpinggirkan, dengan penekanan pada hak reproduksi, pendidikan STEM, dan kepemimpinan politik.

UN Women menyerukan tindakan konkret seperti penerapan kuota 30% perempuan pada posisi eksekutif perusahaan dan investasi dalam pendidikan anak perempuan untuk memastikan akses global 100% pada tahun 2030, sesuai dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 5.

Di tengah perkembangan AI dan otomatisasi saat ini, tema ini juga menyoroti masalah bias algoritma yang dapat merugikan perempuan dalam proses rekrutmen, serta pentingnya pemberdayaan melalui teknologi untuk mengatasi kesenjangan digital di negara berkembang seperti Indonesia.

Di tingkat global, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pesannya menekankan pentingnya "hak, aksi, dan keadilan" bagi perempuan di tengah krisis iklim dan konflik, di mana perempuan menjadi korban utama dari pengungsian dan kemiskinan.

Contoh sukses seperti Rwanda dengan 61% perempuan di parlemen atau inisiatif di India yang mendukung kewirausahaan perempuan melalui mikrokredit, menunjukkan bahwa investasi pada perempuan dapat mendatangkan pertumbuhan ekonomi dua kali lipat lebih cepat.

Peran Masyarakat dan Pemerintah

Pada tanggal 8 Maret 2026, beragam aktivitas dilaksanakan mulai dari seminar virtual yang dipimpin UN Women hingga aksi solidaritas mengenakan pakaian ungu di media sosial, yang menjadi simbol perjuangan perempuan.

Di Indonesia, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) mengarahkan perhatian pada peningkatan program Kartu Prakerja untuk perempuan dan kampanye anti-pernikahan dini, mengingat 1 dari 9 anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun.

Masyarakat diharapkan berpartisipasi dengan mendukung UMKM perempuan, yang menyumbang 39% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, serta memberikan pendidikan tentang gender di sekolah untuk generasi mendatang.

Peringatan Hari Perempuan Internasional 2026 menegaskan bahwa kesetaraan bukanlah sebuah hak yang istimewa, tetapi merupakan dasar bagi kemajuan umat manusia, di mana setiap wanita dan anak perempuan berhak mendapatkan masa depan yang cerah tanpa rintangan.

Dengan mengusung tema "For All Woman and Girls", dunia bertekad untuk melakukan tindakan berkelanjutan, mulai dari kebijakan pemerintah hingga perubahan sikap individu, agar tahun 2030 menjadi sebuah momen penting untuk mencapai kesetaraan sejati.

Mari kita rayakan pencapaian saat ini sambil memperkuat komitmen untuk masa depan yang lebih adil bagi semua perempuan dan gadis di mana pun mereka berada.

 

 

Editor : Mahendra Aditya
#For All Woman and Girls #KPPPA #hari perempuan internasional #hari perempuan #UN Women #Hari Perempuan Internasional 2026