RADAR KUDUS - Dalam meningkatnya ketegangan konflik Timur Tengah, Iran dikabarkan berhasil "memperdaya" Israel dan Amerika Serikat melalui strategi penipuan visual.
Yang berupa lukisan besar pesawat dan helikopter di atas tanah, yang sempat membuat pasukan lawan menghabiskan amunisi untuk menyerang sasaran palsu.
Di awal Maret 2026, insiden ini muncul ketika Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengeluarkan video serangan udara yang mengklaim telah menghancurkan helikopter Mi-17 milik Iran beserta kru-nya.
Tetapi ternyata sasaran tersebut hanyalah gambar lukisan besar di aspal yang dirancang menyerupai helikopter asli dengan detail bayangan dan baling-baling yang tampak tidak bergerak.
Klaim serupa juga terjadi pada laporan Israel mengenai penghancuran pesawat tempur Iran, di mana media Ibrani Hadashot Achshav menyampaikan bahwa jet tempur Israel salah mengidentifikasi lukisan besar di Iran sebagai aset militer nyata, yang menyebabkan pemboman yang sia-sia berdasarkan analisis video setelah serangan.
Taktik ini bukan sekadar gurauan, tetapi bagian dari strategi perang asimetris yang lebih besar dari Iran untuk menguras sumber daya lawan di tengah Operasi Roaring Lion oleh Israel dan Operasi Epic Fury oleh Amerika Serikat yang dimulai pada akhir Februari 2026.
Di mana kedua negara tersebut meluncurkan ratusan serangan udara ke Teheran, Isfahan, dan kota-kota penting lainny
Konflik di Timur Tengah ini dimulai dengan serangan gabungan Israel-AS pada 28 Februari, yang menargetkan 500 lokasi militer Iran termasuk peluncur rudal dan sistem pertahanan udara menggunakan 200 pesawat tempur, sebagai respons terhadap ancaman nuklir dan serangan drone Iran sebelumnya.
Iran, yang telah menyiapkan "perisai beton" di fasilitas Taleghan 2 sejak Februari, seperti yang terlihat dari gambar satelit, kini menggunakan taktik decoy yang murah ini sebagai balasan lukisan pesawat tempur dan helikopter yang dibuat dengan ukuran sebenarnya di lahan terbuka, memanfaatkan pengintaian visual dari musuh yang tergantung pada citra satelit dan drone, sehingga IDF dan jet AS menghabiskan rudal mahal untuk sasaran yang tidak memiliki nilai strategis.
Strategi ini mirip dengan penggunaan drone murah Shahed-136 yang sengaja diluncurkan dalam kelompok untuk menguras persediaan rudal pencegat AS di kawasan Teluk.
Dan memaksa Amerika untuk memilih antara pemborosan amunisi atau membiarkan serangan lolos, sementara Iran juga menemukan drone kamikaze AS LUCAS yang meniru desain Shahed mereka di Irak, sebuah ironi dalam perang saling meniru.
Analis militer menyebut ini sebagai "prank perang" yang efektif karena tidak hanya mengecoh Israel yang sempat membom lukisan Mi-17, tetapi juga memicu diskusi di media sosial tentang kredibilitas klaim IDF, di mana baling-baling "helikopter" yang tidak bergerak menjadi petunjuk utama penipuan.
Lebih jauh, insiden ini terjadi di tengah pengiriman besar-besaran aset militer AS ke kawasan Timur Tengah, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln yang sempat menjadi target drone Shahed-139 Iran di Laut Arab pada awal Februari, menunjukkan bagaimana Iran beralih dari konfrontasi langsung menjadi perang psikologis dan ekonomi untuk melemahkan koalisi lawan.
Baca Juga: Nabilah O'Brien Owner Bibi Kelinci Terjerat Kasus Tersangka Usai Ungkap CCTV Pencurian
Taktik lukisan pesawat ini menunjukkan kecerdikan Iran dalam perang asimetris, di mana biaya rendah untuk lukisan dapat meniadakan investasi miliaran dolar untuk rudal AS-Israel, berpotensi memperpanjang konflik sampai salah satu pihak kehabisan logistik.
Namun, para pakar strategi seperti dari PPAU melihat peluang untuk negosiasi di balik ketegangan ini, karena masing-masing pihak kini menyadari biaya dari perang yang berkepanjangan, terutama setelah Trump memerintahkan Operasi Epic Fury yang justru memicu respons kreatif dari Iran.
Di masa mendatang, insiden "prank" ini bisa menjadi titik balik jika dimanfaatkan untuk mengurangi ketegangan, meskipun situasi tetap rapuh dengan kehadiran aset militer AS yang masih beroperasi di sekitar Teluk dan Iran terus menguji sınır.
Editor : Ali Mustofa