RADAR KUDUS – Penurunan angka kelahiran di Korea Selatan kini mulai memberikan dampak nyata pada dunia pendidikan.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, jumlah siswa yang masuk Sekolah Dasar (SD) di negara tersebut tercatat turun hingga di bawah 300 ribu orang.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru terkait masa depan sekolah-sekolah dasar, terutama di wilayah perkotaan seperti Seoul.
Pada 3 Februari, yang biasanya menjadi momen penerimaan murid baru di SD, suasana yang terlihat di sejumlah sekolah justru berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Jika biasanya halaman sekolah dipenuhi anak-anak dan orang tua yang datang untuk mengikuti hari pertama sekolah, kini beberapa sekolah tampak lengang.
Di salah satu sekolah dasar di Seoul, misalnya, halaman sekolah terlihat kosong tanpa aktivitas penyambutan murid baru.
Di gerbang sekolah bahkan tidak terpampang spanduk penyambutan siswa SD, melainkan spanduk penerimaan murid baru untuk taman kanak-kanak (TK). Hal ini terjadi karena sekolah tersebut sama sekali tidak mendapatkan murid baru pada tahun ini.
Kondisi ini menjadi peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya di ibu kota Korea Selatan. Meskipun di sekitar sekolah terdapat kompleks apartemen keluarga, jumlah anak-anak yang tinggal di kawasan tersebut semakin sedikit akibat rendahnya angka kelahiran dalam beberapa tahun terakhir.
Dampak penurunan jumlah anak juga mulai dirasakan oleh para pelaku usaha di sekitar lingkungan sekolah.
Seorang pemilik supermarket di kawasan tersebut mengungkapkan bahwa penjualan produk yang biasanya dibeli anak-anak mengalami penurunan drastis.
“Kami biasanya banyak menjual minuman untuk anak-anak sekolah. Sekarang hampir tidak ada yang membeli. Kami bahkan harus mengembalikan beberapa barang ke distributor. Toko alat tulis di dekat sini juga sudah lama tutup," dikutip dari akun milik @tang_kira
Secara nasional, situasi ini semakin terlihat jelas melalui data terbaru. Tahun ini, jumlah siswa baru SD di Korea Selatan tercatat hanya sekitar 298 ribu orang.
Angka tersebut menjadi yang pertama kalinya berada di bawah 300 ribu dalam sejarah pendidikan modern negara itu.
Tidak hanya itu, dalam lima tahun terakhir jumlah sekolah dasar yang tidak mendapatkan murid baru sama sekali juga meningkat tajam hingga sekitar 70 persen.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di daerah pedesaan yang mengalami penurunan populasi, tetapi juga mulai terlihat di kota-kota besar.
Jumlah sekolah dasar berukuran kecil di Seoul juga meningkat secara signifikan. Pada tahun 2015, tercatat ada sekitar 25 sekolah yang memiliki jumlah siswa kurang dari 240 orang. Namun saat ini, jumlahnya melonjak menjadi sekitar 85 sekolah.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran dari sejumlah orang tua. Salah satu wali murid mengaku ragu memasukkan anaknya ke sekolah dengan jumlah siswa yang sangat sedikit.
Melihat kondisi ini, pemerintah dan sejumlah pihak kembali membahas kemungkinan penggabungan atau merger sekolah untuk menyesuaikan dengan jumlah siswa yang terus menurun.
Namun wacana tersebut juga menuai kekhawatiran baru, terutama bagi siswa yang tinggal jauh dari sekolah hasil penggabungan.
Jika sekolah-sekolah digabungkan, beberapa anak mungkin harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk bersekolah.
Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan persoalan baru terkait akses pendidikan dan keselamatan perjalanan siswa.
Fenomena ini menjadi salah satu gambaran nyata dari krisis demografi yang tengah dihadapi Korea Selatan.
Dengan angka kelahiran yang terus menurun, dampaknya tidak hanya terasa pada sektor pendidikan, tetapi juga pada berbagai aspek kehidupan sosial dan ekonomi di negara tersebut. (*)
Editor : Mahendra Aditya