Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Perkembangan Konflik Iran, Apa yang Terjadi dalam Beberapa Jam Terakhir

Ghina Nailal Husna • Rabu, 4 Maret 2026 | 05:38 WIB

Situasi Iran selama beberapa jam terakhir
Situasi Iran selama beberapa jam terakhir

RADAR KUDUS – Situasi konflik yang melibatkan Iran terus memburuk dalam beberapa jam terakhir, dengan berbagai perkembangan signifikan di bidang militer, diplomatik, dan ekonomi global.

Tidak ada tanda-tanda perlambatan. Justru sebaliknya, eskalasi meningkat dari jam ke jam.

Donald Trump mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat telah melancarkan serangan terhadap kepemimpinan baru Iran.

Baca Juga: Tiongkok dan Ketegangan Selat Hormuz: Strategi Diplomasi Ekonomi di Tengah Krisis Timur Tengah

Ia menyebut serangan tersebut sebagai tindakan yang “cukup substansial” dan mengklaim bahwa Iran kini “kalah secara militer”, dengan kemampuan angkatan laut, angkatan udara, serta sistem radar yang disebut telah lumpuh.

Trump juga tidak menutup kemungkinan pengerahan pasukan darat apabila situasi terus berkembang.

Di sisi lain, Israel dilaporkan membombardir Majelis Ahli Iran saat lembaga tersebut tengah menggelar pertemuan untuk memilih Pemimpin Tertinggi yang baru.

Sebelum serangan berlangsung, badan intelijen Israel, Mossad, mengunggah pesan berbahasa Persia yang menyatakan bahwa siapa pun yang terpilih, “nasibnya telah ditentukan.”

Militer Israel melalui Israel Defense Forces (IDF) juga memberikan ultimatum 24 jam kepada seluruh perwakilan rezim Iran yang tersisa di Lebanon untuk meninggalkan wilayah tersebut atau menghadapi serangan langsung.

Perkembangan paling mengejutkan datang dari Lebanon. Pemerintah Lebanon secara resmi melarang operasi militer Hezbollah dan memerintahkan kelompok tersebut untuk menyerahkan seluruh persenjataan kepada Angkatan Bersenjata Lebanon. Langkah ini dinilai sebagai momen bersejarah dalam dinamika politik dan keamanan domestik Lebanon.

Sementara itu, ketegangan juga merambah kawasan Teluk. Konsulat Amerika Serikat di Dubai dilaporkan terkena serangan drone Iran.

Di sektor energi, harga gas di Amerika Serikat mencatat lonjakan harian terbesar sejak 2005, dengan rata-rata nasional naik 12 sen hanya dalam satu hari.

Sebagai respons terhadap ancaman terhadap jalur energi global, Trump memerintahkan Development Finance Corporation untuk menyediakan asuransi bagi kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Ia juga menyatakan bahwa Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker jika diperlukan. Pengumuman tersebut sempat menenangkan pasar, membuat harga minyak yang sebelumnya melonjak hingga 9 persen kembali turun ke kisaran kenaikan 2 persen.

Namun risiko tetap tinggi. Irak dilaporkan menutup ladang minyak Rumaila—salah satu yang terbesar di dunia. Jika krisis di Selat Hormuz berlanjut, produksi global bisa kehilangan hingga tiga juta barel per hari.

Uni Emirat Arab menyatakan telah mencegat 11 rudal balistik dan 123 drone hanya dalam satu hari. Sejak konflik dimulai, negara tersebut mengklaim telah menghadapi total 186 rudal balistik.

Angkatan Udara Israel mengonfirmasi telah melaksanakan 1.600 misi dan menjatuhkan sekitar 4.000 bom di 24 dari 31 provinsi Iran sejak akhir pekan lalu.

Sementara itu, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut bahwa dua hari lalu Iran memiliki 11 kapal perang di Teluk Oman, namun kini tidak tersisa satu pun.

Citra satelit terbaru dari fasilitas nuklir Natanz juga menunjukkan kerusakan baru. Perkembangan ini semakin memperbesar kekhawatiran internasional terkait program nuklir Iran.

Dampak konflik juga terasa di sektor keuangan global. Pejabat Federal Reserve, Neel Kashkari, menyatakan ketidakpastian perang membuat prospek pemangkasan suku bunga tahun ini menjadi diragukan.

Respons internasional terus bermunculan. Presiden Volodymyr Zelensky menawarkan keahlian pertahanan drone Ukraina kepada Uni Emirat Arab.

Prancis mengirim kapal perang ke Siprus setelah sebuah drone Iran menghantam pangkalan militer Inggris di pulau tersebut.

Trump juga mengkritik Inggris dan Spanyol karena dinilai tidak kooperatif, bahkan menyebut hubungan AS-Inggris “jelas tidak seperti dulu.” Sebaliknya, ia memuji Prancis dan Jerman atas dukungan mereka.

Di Washington, pemungutan suara Senat terkait War Powers dijadwalkan berlangsung esok hari. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa “gerbang neraka akan terus terbuka” dan menegaskan seluruh komandan serta unit tempur berada dalam kondisi operasional penuh.

Di tengah eskalasi militer dan diplomatik, dampak kemanusiaan juga membesar. Lebih dari satu juta pelancong dilaporkan terdampar, dengan 1.900 penerbangan tambahan dibatalkan hari ini.

Departemen Luar Negeri AS tengah mengatur penerbangan carter dari Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania untuk membantu evakuasi warga.

Konflik ini kini bergerak cepat menuju babak yang semakin tidak terprediksi, dengan konsekuensi regional dan global yang kian meluas. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#perkembangan #iran