RADAR KUDUS — Konflik terbuka antara Israel dan Iran memasuki hari ketiga dengan situasi yang dinilai semakin genting dan penuh ketidakpastian.
Pernyataan keras dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menegaskan bahwa Israel “lelah menahan ancaman” menjadi sinyal bahwa operasi militer ini berpotensi berlangsung lama.
Koresponden di Yerusalem menyebutkan bahwa konflik saat ini berada di titik krusial dan dapat berkembang ke berbagai arah dengan konsekuensi besar, baik bagi kawasan maupun dunia internasional.
Tekanan Diplomatik dan Sikap Washington
Dalam beberapa jam terakhir, muncul laporan bahwa Qatar dan Uni Emirat Arab disebut menghadapi keterbatasan stok rudal pertahanan udara yang selama ini digunakan untuk menangkal serangan Iran.
Kedua negara tersebut dikabarkan tengah mencari jalur diplomatik untuk mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar menyediakan “jalan keluar” dan menghentikan kampanye militer lebih cepat.
Namun demikian, pernyataan dari Trump dan Menteri Pertahanannya menunjukkan kecenderungan sebaliknya.
Pemerintah AS terkesan mendukung operasi yang berkelanjutan, tanpa mengisyaratkan adanya rencana pascakonflik yang jelas.
Hal ini memicu kekhawatiran tentang kemungkinan kekosongan kekuasaan jika tujuan perubahan rezim benar-benar dijalankan tanpa strategi transisi yang matang.
Dampak di Israel: Korban Sipil dan Keletihan Publik
Di dalam negeri, masyarakat Israel menghadapi tekanan berat. Laporan menyebutkan sedikitnya 12 pemakaman digelar dalam satu hari terakhir akibat serangan yang menembus sistem pertahanan udara Iron Dome.
Gangguan terhadap aktivitas sehari-hari semakin terasa, sementara rasa lelah dan ketidakpercayaan terhadap kepemimpinan saat ini juga mulai mencuat.
Meski sebagian warga mendukung sikap tegas pemerintah, sejumlah kalangan mempertanyakan bagaimana tepatnya tujuan perubahan rezim di Iran akan dicapai, mengingat belum adanya rencana terperinci yang dipublikasikan.
Eskalasi di Lebanon dan Tekanan terhadap Hezbollah
Di tengah konflik dengan Iran, Israel juga melancarkan operasi militer signifikan di Lebanon selatan, khususnya di wilayah Dahiya, Beirut selatan, yang dikenal sebagai basis kuat Hezbollah.
Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan lebih dari 20.000 warga Lebanon mengungsi.
Menariknya, pemerintah Lebanon secara terbuka mengkritik tindakan Hezbollah. Perdana Menteri Lebanon menyatakan bahwa aksi militer kelompok tersebut ilegal dan dilarang.
Bahkan sejumlah pemimpin suku di Lebanon selatan yang sebelumnya cenderung mendukung atau diam terhadap aktivitas Hezbollah kini secara terbuka menyatakan kesetiaan kepada negara dan menolak upaya menyeret Lebanon ke dalam perang baru.
Perkembangan ini dinilai sebagai potensi perubahan besar dalam dinamika politik Lebanon. Serangan Hezbollah ke Israel disebut signifikan secara simbolis, tetapi tidak menimbulkan kerusakan besar, yang dapat mengindikasikan melemahnya kapasitas militer kelompok tersebut.
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai arah konflik selanjutnya. Di satu sisi, pernyataan keras dari para pemimpin menunjukkan kemungkinan kampanye militer jangka panjang.
Di sisi lain, tekanan diplomatik regional dan meningkatnya korban sipil dapat mendorong pencarian solusi politik.
Dengan eskalasi di beberapa front sekaligus — Iran, Israel, dan Lebanon — kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang ketidakstabilan luas.
Para pengamat menilai bahwa tanpa strategi pascaperang yang jelas, konflik ini berisiko menciptakan kekosongan kekuasaan yang justru memperpanjang instabilitas regional. (*)
Editor : Mahendra Aditya