RADAR KUDUS – Laporan yang belum terkonfirmasi mengenai kematian Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sempat beredar luas di media sosial pada Minggu pagi di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan Iran.
Namun, pemerintah Israel serta sejumlah media internasional memastikan bahwa kabar tersebut tidak benar.
Informasi palsu itu muncul saat Iran melancarkan gelombang ke-20 serangan rudal balistik yang menargetkan wilayah Israel.
Serangan tersebut memaksa jutaan warga Israel mencari perlindungan di bunker darurat.
Laporan awal menyebutkan sedikitnya satu orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Rumor mengenai kematian Netanyahu dengan cepat menyebar secara daring, memicu kebingungan publik di tengah situasi keamanan yang tegang.
Meski demikian, pejabat Israel segera memberikan klarifikasi bahwa sang perdana menteri berada dalam kondisi aman dan masih secara aktif memimpin respons pemerintah terhadap serangan Iran.
Sejumlah media internasional ternama, termasuk Reuters, BBC, dan CNN, turut mengonfirmasi bahwa laporan mengenai kematian Netanyahu tidak memiliki dasar fakta dan merupakan disinformasi yang berkembang di tengah konflik bersenjata.
Penyebaran rumor tersebut terjadi hanya beberapa hari setelah operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel bertajuk “Roaring Lion” pada 28 Februari lalu.
Operasi tersebut dilaporkan menargetkan fasilitas strategis Iran dan diklaim menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Hosseini Khamenei, komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta pejabat program nuklir Iran.
Netanyahu sebelumnya menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan langkah penting untuk mengakhiri ancaman eksistensial terhadap Israel.
Pernyataan itu semakin meningkatkan ketegangan regional dan memicu respons militer dari Iran dalam bentuk serangan rudal berulang.
Para pengamat menilai bahwa penyebaran informasi palsu di tengah konflik bersenjata berpotensi memperburuk situasi keamanan dan meningkatkan kepanikan publik.
Disinformasi yang muncul secara cepat melalui media sosial dinilai menjadi tantangan baru dalam dinamika perang modern, di mana perang informasi berjalan bersamaan dengan operasi militer di lapangan.
Hingga saat ini, pemerintah Israel terus memantau perkembangan situasi keamanan, sementara komunitas internasional menyerukan deeskalasi guna mencegah konflik meluas di kawasan Timur Tengah. (*)
Editor : Mahendra Aditya