RADAR KUDUS - Pemerintah China akhirnya buka suara menyusul meningkatnya ketegangan setelah serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap Iran.
Beijing menegaskan pentingnya menahan diri dan mengedepankan diplomasi, sembari mengambil langkah konkret untuk melindungi warga negaranya yang berada di kawasan terdampak konflik.
Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China menekankan bahwa situasi AS–Iran dipantau secara serius dan berkelanjutan.
Beijing secara konsisten menolak penggunaan kekuatan dalam hubungan internasional dan meminta semua pihak kembali ke jalur dialog politik guna mencegah eskalasi yang lebih luas di Timur Tengah.
Dorongan Kuat untuk Dialog dan Stabilitas Regional
Juru bicara pemerintah China menyampaikan bahwa penyelesaian melalui negosiasi merupakan satu-satunya jalan realistis untuk meredakan ketegangan.
Beijing menilai aksi militer hanya akan memperburuk stabilitas kawasan dan meningkatkan risiko konflik regional.
China juga menegaskan komitmennya terhadap stabilitas Timur Tengah, mengingat kawasan tersebut memiliki arti strategis bagi keamanan global dan perekonomian dunia.
Sebagai salah satu pengimpor minyak terbesar dari wilayah Teluk, Beijing berkepentingan langsung menjaga kelancaran pasokan energi dan stabilitas jalur perdagangan internasional.
Warga China Diminta Tingkatkan Kewaspadaan dan Pertimbangkan Evakuasi
Di tengah memburuknya situasi keamanan, pemerintah China mengeluarkan peringatan resmi kepada warganya yang berada di Iran.
Mereka diminta meningkatkan kewaspadaan, membatasi aktivitas di luar rumah, serta mempertimbangkan untuk segera meninggalkan wilayah berisiko tinggi.
Kementerian Luar Negeri juga menyarankan warga China menunda seluruh rencana perjalanan ke Iran sampai situasi benar-benar dinyatakan aman.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan sejumlah negara lain yang telah lebih dulu mengevakuasi staf diplomatik dan mengeluarkan travel advisory bagi warganya.
Tegas Soal Hukum Internasional
Sikap Beijing terhadap konflik ini tidak terlepas dari posisi sebelumnya ketika AS melakukan serangan terhadap target di Iran pada tahun 2025.
Saat itu, China mengecam tindakan militer tersebut dan menyebutnya berpotensi melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa serta prinsip hukum internasional.
China berulang kali menyerukan penghentian aksi militer sepihak dan mendorong penyelesaian sengketa melalui mekanisme damai.
Menurut Beijing, stabilitas global hanya dapat dicapai melalui penghormatan terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.
Pilih Diplomasi Ketimbang Konfrontasi
Meski memiliki hubungan ekonomi dan energi yang erat dengan Iran, China tetap mengambil jarak dari keterlibatan militer langsung.
Para pengamat menilai pendekatan Beijing lebih bersifat strategis jangka panjang—mengutamakan diplomasi, menjaga keseimbangan geopolitik, serta menghindari risiko terseret dalam perang terbuka.
Kebijakan ini sekaligus mencerminkan kepentingan China untuk menjaga stabilitas kawasan dan melindungi kepentingan ekonominya, termasuk jalur perdagangan dan pasokan energi.
Secara keseluruhan, respons China terhadap serangan AS ke Iran memperlihatkan pendekatan yang hati-hati namun tegas: menolak penggunaan kekuatan, mendesak dialog sebagai solusi utama, serta memastikan keselamatan warganya di tengah meningkatnya ancaman konflik berskala besar.
Editor : Mahendra Aditya