RADAR KUDUS - Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai level paling berbahaya setelah Presiden Donald Trump secara resmi mengumumkan dimulainya operasi militer besar terhadap Iran.
Dalam pidato terbarunya, Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada militer Teheran: menyerah dan memperoleh jaminan keselamatan, atau menghadapi risiko kehancuran.
Mengutip laporan berbagai media internasional seperti CBC News dan Reuters, Trump secara spesifik menyoroti Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), pasukan elite yang berada di bawah kendali langsung Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Ia meminta seluruh elemen militer dan aparat keamanan Iran untuk meletakkan senjata.
“Letakkan senjata dan dapatkan kekebalan penuh, atau hadapi konsekuensi yang sangat berat,” tegas Trump dalam pernyataannya, Sabtu (28/2/2026) waktu setempat.
Serangan Udara dan Rudal Mulai Menghantam Iran
Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Laporan dari lapangan mengonfirmasi bahwa militer Amerika Serikat telah melancarkan serangan udara dan rudal presisi yang diklaim menyasar fasilitas militer strategis Iran.
Operasi tersebut disebut dilakukan secara terkoordinasi dengan Israel.
Ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah kota besar Iran, termasuk Teheran, Isfahan, dan Shiraz.
Saksi mata menggambarkan langit malam dipenuhi kilatan cahaya dan dentuman keras, sementara sistem pertahanan udara Iran berupaya mencegat proyektil yang masuk.
Hingga kini, belum ada data resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun tingkat kerusakan.
Namun situasi di beberapa wilayah disebut mencekam, dengan kepulan asap terlihat di sekitar instalasi militer.
Trump Serukan Rakyat Iran Bangkit
Selain menyasar kekuatan militer, Trump juga menyampaikan pesan langsung kepada warga Iran.
Ia memperingatkan adanya potensi pengeboman lanjutan dan meminta masyarakat mencari perlindungan.
Di sisi lain, ia secara terbuka mendorong rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan Republik Islam yang berkuasa sejak Revolusi 1979.
Menurutnya, momentum ini bisa menjadi peluang langka bagi perubahan politik besar di negara tersebut.
Pernyataan tersebut menuai reaksi beragam dari komunitas internasional.
Sejumlah negara menyerukan de-eskalasi dan mendesak kedua pihak kembali ke jalur diplomasi guna mencegah perang regional berskala luas.
Risiko Perang Kawasan Kian Besar
Keterlibatan langsung Washington dalam operasi ofensif terhadap Iran menandai babak baru konflik terbuka, bukan lagi sekadar perang proksi atau serangan terbatas.
Para analis keamanan memperingatkan bahwa situasi ini berpotensi menyeret sekutu Iran di Lebanon, Suriah, dan Irak ke dalam pusaran konflik.
Pasar global langsung merespons. Harga minyak dunia bergerak naik tajam karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari kawasan Teluk, terutama jika ketegangan merembet ke Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global.
Sementara itu, sejumlah maskapai internasional mulai mengalihkan rute penerbangan, dan beberapa negara mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya di Timur Tengah.
Hingga Sabtu malam, belum ada tanggapan resmi terperinci dari Teheran terkait skala kerusakan atau strategi balasan.
Namun satu hal jelas: dengan serangan masif ini, konflik AS–Iran telah memasuki fase paling kritis dalam beberapa dekade terakhir.
Dunia kini menunggu, apakah situasi akan mereda melalui diplomasi, atau justru berubah menjadi perang besar yang mengguncang kawasan.
Editor : Mahendra Aditya