Jakarta – Kisah inspiratif datang dari China. Seorang pria bernama Liu Wenjadi (45) menjadi perhatian publik setelah perjalanan hidupnya yang penuh luka berubah menjadi cerita kesuksesan luar biasa.
Dulu menjadi korban perdagangan anak, kini ia menjelma sebagai konglomerat pemilik bisnis perangkat elektronik dengan omzet ratusan miliar rupiah per tahun.
Diculik Saat Usia 3 Tahun
Dilansir dari media lokal China, perjalanan Liu dimulai dari peristiwa tragis pada usia tiga tahun. Ketika sedang pergi ke pasar bersama ibunya, Liu tiba-tiba menghilang.
Ia kemudian ditemukan hidup bersama pasangan petani yang mengaku menemukannya dalam kondisi terlantar.
Walau tidak mengalami kekerasan, Liu mengaku tumbuh dengan perasaan asing dan tidak pernah merasa benar-benar menjadi bagian dari keluarga angkatnya.
Ia bahkan sempat mencoba kabur saat berusia delapan tahun, namun aksinya digagalkan oleh ayah angkatnya.
Untuk meraih perhatian dan kasih sayang keluarga angkatnya, Liu kecil memilih membantu pekerjaan ladang sepulang sekolah—mulai dari memotong rumput liar hingga mengurus hewan ternak.
Merantau ke Shenzhen
Ketika berusia 15 tahun, keluarga angkatnya mengirim Liu ke Shenzhen untuk bekerja dan tinggal bersama kerabat jauh mereka.
Di kota besar itu, ia pertama kali bekerja sebagai pengasuh anak, sebelum beralih ke pekerjaan lain.
Memasuki usia 19 tahun, Liu mendapat kesempatan bekerja sebagai staf penjualan di perusahaan elektronik. Meski tidak memiliki pendidikan tinggi, ia bertekad mengubah jalan hidupnya.
Ia menghabiskan hari-hari dengan menelepon ratusan calon klien dan bepergian ke banyak wilayah untuk menggaet pelanggan dan memahami industri elektronik.
Kerja kerasnya mulai membuahkan hasil ketika ia dipromosikan menjadi manajer penjualan, hingga akhirnya dipercaya sebagai wakil direktur divisi pemasaran.
Membangun Bisnis Sendiri
Dengan pengalaman dan relasi yang ia bangun, Liu memberanikan diri mendirikan perusahaan elektronik sendiri.
Awal perjalanan tidak mudah, namun keteguhan dan kedisiplinan membuat bisnisnya berkembang cepat.
Perusahaannya kini memiliki puluhan toko cabang di beberapa kota besar di China dengan omzet tahunan mencapai hampir 70 juta yuan atau sekitar Rp 160 miliar.
Kesuksesan itu membuatnya mampu membeli rumah di pusat Shenzhen dan beberapa properti lainnya.
Namun dengan semua pencapaian itu, Liu mengaku hidupnya tetap terasa “tidak lengkap”.
Mencari Keluarga Kandung
Pada 2020, Liu memutuskan tampil di sebuah acara televisi nasional yang membantu korban perdagangan anak menemukan keluarga biologisnya.
Setelah melalui tes DNA dan penyelidikan panjang, fakta sebenarnya terungkap.
Ternyata pada hari ia hilang, ibunya—yang sedang menjalani pengobatan psikiatri—pingsan di tengah keramaian pasar. Saat sadar, Liu sudah tidak lagi berada di dekatnya.
Ayah kandungnya kemudian mencari Liu ke berbagai kota, namun pencarian panjang itu menggerogoti kesehatan sang ayah hingga akhirnya meninggal akibat masalah paru-paru.
“Saya akhirnya tahu kebenarannya… Saya tidak pernah dibuang,” kata Liu sambil menangis saat bertemu ibunya untuk pertama kali setelah lebih dari 40 tahun.
Kembali ke Kampung Halaman
Setelah mengetahui asal-usulnya, Liu kembali ke provinsi Hunan dan kini rutin merawat ibunya bersama keluarga kandungnya.
Meski tetap menjalankan bisnis elektroniknya di Shenzhen, ia selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi makam ayah kandungnya setiap tahun.
Kisah perjalanan Liu dari korban penculikan hingga menjadi pebisnis sukses disebut banyak netizen sebagai bukti bahwa keteguhan dan harapan dapat membawa seseorang melewati masa paling gelap dalam hidup.
Editor : Mahendra Aditya