Harga Minyak Anjlok Usai Serangan Iran Tak Timbulkan Korban, Pasar Global Bernapas Lega
Redaksi Radar Kudus• Selasa, 24 Juni 2025 | 16:57 WIB
Ilustrasi Minyak Dunia
RADAR KUDUS - Pasar minyak global menunjukkan reaksi signifikan terhadap perkembangan terbaru di Timur Tengah.
Harga minyak mentah anjlok tajam pada perdagangan hari Senin (23/6/2025), setelah serangan rudal Iran terhadap pangkalan udara Amerika Serikat di Qatar tidak menimbulkan korban jiwa.
Peristiwa ini membuka ruang optimisme baru di kalangan investor bahwa konflik antara Iran dan AS bisa dicegah dari eskalasi lebih lanjut.
Mengutip laporan CNBC pada Selasa (24/6/2025), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh USD 5,33 atau 7,22%, dan ditutup pada USD 68,51 per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai patokan global turun USD 5,53 atau 7,18%, berakhir di angka USD 71,48 per barel.
Angka ini menjadi level terendah sejak Israel memulai serangan udara ke Iran pada 13 Juni lalu.
TV pemerintah Iran mengabarkan bahwa serangan rudal ke Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar merupakan balasan atas serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran akhir pekan lalu.
Namun, serangan tersebut tidak menimbulkan korban jiwa karena sistem pertahanan udara Qatar berhasil mencegat rudal yang masuk, menurut keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Qatar.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak tajam pada Minggu malam ketika kabar keterlibatan langsung AS dalam konflik bersama Israel muncul ke publik.
Harga Brent bahkan menembus USD 81 per barel, sementara WTI sempat mencapai titik tertinggi sejak Januari, sebelum kembali turun.
Pengamat pasar menilai bahwa pergerakan harga ini mencerminkan ekspektasi investor bahwa ketegangan tidak akan berlarut-larut.
“Pasar minyak menunjukkan bahwa investor percaya konflik tidak akan melebar,” ujar Menteri Energi Chris Wright dalam wawancara dengan CNBC.
Sementara itu, Kepala Analis Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai Presiden Trump menggunakan pendekatan “perdamaian lewat kekuatan”.
“Jika kita tidak mendapatkan balasan lebih lanjut dari Iran, Presiden Trump akan menang besar dalam hal ini,” kata Croft.
Trump pun mengungkapkan terima kasihnya kepada Iran karena memberikan "pemberitahuan awal" sebelum serangan rudal dilancarkan, yang disebutnya “memungkinkan tidak ada nyawa yang hilang”.
Ia juga menyerukan agar Iran memilih jalan damai dan menyatakan akan mendorong Israel untuk melakukan hal serupa.
Sementara itu, kekhawatiran pasar soal potensi penutupan Selat Hormuz jalur vital pengiriman minyak dunia mulai mereda.
Meski media pemerintah Iran melaporkan bahwa parlemen mendukung opsi penutupan selat, keputusan akhir berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman sekitar 20 juta barel minyak per hari atau 20% dari total konsumsi global, menurut data Badan Informasi Energi AS.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menanggapi kemungkinan penutupan itu dengan keras. Dalam wawancaranya bersama Fox News, ia menyebut, “Itu akan menjadi 'bunuh diri ekonomi' bagi Iran karena ekspor mereka sendiri bergantung pada jalur itu.”
“Kami memiliki opsi untuk mengatasinya. Hal itu akan jauh lebih merugikan negara lain daripada ekonomi kita sendiri,” tegas Rubio.
Pasar global kini memantau dengan cermat setiap perkembangan baru.
Meski gejolak belum sepenuhnya usai, ketenangan sementara ini memberi ruang bernapas bagi ekonomi dunia dan pelaku usaha yang bergantung pada kestabilan harga minyak. (Labib Azka)