RADAR KUDUS - Ketegangan internasional kembali memuncak setelah Garda Revolusi Islam Iran pada Minggu (22/6) mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait serangan terhadap fasilitas nuklir mereka.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan televisi pemerintah, Iran menyatakan bahwa pihak agresor akan "menghadapi respons yang akan disesali."
Mengutip AFP, pernyataan tersebut menegaskan bahwa "Iran akan mengambil langkah-langkah di luar dugaan pihak agresor."
Baca Juga: 5 cara Praktis Membuat Infused Water Lemon, Minuman untuk Menurunkan Kolesterol
Ketegangan ini bermula dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang menyebut bahwa fasilitas penting Iran untuk pengayaan uranium “telah sepenuhnya dilumatkan.”
Trump menambahkan, "Masih banyak target yang akan menjadi sasaran AS."
Fasilitas yang menjadi sasaran meliputi situs pengayaan uranium bawah tanah di Fordo, serta instalasi di Natanz dan Isfahan.
Serangan tersebut memicu reaksi keras dari Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan dalam pernyataan di platform X: “Negara kami mempertahankan semua opsi untuk membela diri.” Ia juga menyebut serangan itu sebagai “tindakan yang sangat keterlaluan.”
Tak lama setelah pernyataan itu, Iran meluncurkan serangan balasan. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa 30 roket ditembakkan ke arah Tel Aviv pada Minggu pagi.
Serangan ini diikuti oleh respons Israel, yang mengklaim telah menyerang fasilitas militer Iran di wilayah barat.
Baca Juga: Peringati Hari Bhayangkara ke-79, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Gelar Ziarah ke Makam Tokoh Bangsa
Media AS melaporkan bahwa enam pesawat pembom siluman milik militer Amerika menjatuhkan bom penembus bunker GBU-57 di situs Fordo.
Bom seberat lebih dari 13 ton ini dirancang untuk menghantam target bawah tanah. Dua bom serupa dijatuhkan di Natanz, disusul rudal jelajah dari kapal selam yang menargetkan Isfahan dan Natanz.
Meskipun serangan ini menghancurkan fasilitas penting, Badan Energi Atom Iran memastikan tidak ada pencemaran radioaktif.
Pernyataan itu juga dikonfirmasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang menyatakan tidak ada bahaya bagi penduduk sekitar.
Kepala IAEA Rafael Grossi dijadwalkan menggelar pertemuan darurat Dewan Gubernur IAEA pada Senin (23/6).
Dari pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberikan pujian atas langkah AS, menyebutnya sebagai “keputusan berani” dan menyatakan bahwa Presiden Donald Trump telah bertindak "dengan kekuatan besar untuk mencegah rezim paling berbahaya mendapatkan senjata paling berbahaya di dunia."
Namun, Sekjen PBB António Guterres memperingatkan bahwa eskalasi ini berpotensi memicu “spiral kekacauan.” Ia menyerukan penyelesaian damai dan diplomatik, mengingat kawasan tersebut sudah berada di ambang kehancuran. (Labib Azka)
Editor : Ali Mustofa