RADAR KUDUS - Miliarder yang juga merupakan salah satu pendiri dan CEO aplikasi pesan Telegram, ditangkap di bandara Bourget, Paris, pada Sabtu malam.
Menurut laporan dari TF1 TV yang mengutip sumber anonim, Durov ditangkap saat bepergian dengan jet pribadinya.
Penangkapan ini dilakukan berdasarkan surat perintah penangkapan yang dikeluarkan di Prancis, meskipun rincian lebih lanjut mengenai alasan penangkapan tersebut masih belum jelas.
Baca Juga: Terbaru! Isu Video Syur dan Perselingkuhan Mereda, Azizah Salsha Pilih Umroh Temani Pratama Arhan
Perjalanan dari Azerbaijan Berujung Penangkapan
Durov, yang saat itu sedang dalam perjalanan dari Azerbaijan, ditangkap sekitar pukul 8 malam waktu setempat.
Penangkapan ini menarik perhatian karena Durov tinggal di Dubai, tempat berbasis Telegram, dan memiliki kewarganegaraan ganda Prancis dan Uni Emirat Arab.
Langkah penangkapan ini memicu spekulasi mengenai hubungan Durov dengan pemerintah Prancis dan apakah ada latar belakang politik di balik penangkapan ini.
Kejutan di Dunia Teknologi dan Reaksi Internasional
Penangkapan Durov mengejutkan banyak pihak, terutama di kalangan komunitas teknologi dan pegiat privasi digital.
Durov dikenal sebagai sosok yang gigih mempertahankan definisi kebebasan dan privasi pengguna.
Ketika dia meninggalkan Rusia pada tahun 2014 setelah menolak menutup komunitas oposisi di platform media sosialnya, VK, yang kemudian ia jual, banyak yang melihatnya sebagai simbol perlawanan terhadap otoritarianisme.
Langkah Cepat Kedutaan Rusia
Kedutaan Besar Rusia di Prancis langsung mengambil langkah-langkah untuk mengklarifikasi situasi ini.
Meskipun tidak ada permintaan resmi dari pihak Durov kepada kedutaan, perwakilan Rusia di Prancis telah secara proaktif mencoba mendapatkan informasi lebih lanjut.
Hal ini menunjukkan perhatian serius pihak Rusia terhadap penangkapan warganya, terutama mengingat status Durov sebagai pengusaha terkenal dengan pengaruh global.
Masa Depan Telegram di Bawah Bayangan Penangkapan Ini
Telegram, yang didirikan Durov bersama saudaranya Nikolai pada tahun 2013, kini memiliki sekitar 900 juta pengguna aktif dan dikenal karena fitur enkripsi end-to-end yang kuat serta kemampuannya untuk menyebarkan informasi dengan cepat melalui "channel".
Namun, penangkapan ini menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan Telegram, terutama terkait dengan keamanan dan privasi pengguna, serta bagaimana platform ini akan merespons tekanan dari pemerintah yang ingin mendapatkan akses ke data pengguna.
Penampilan di Pengadilan dan Langkah Berikutnya
Durov dijadwalkan untuk tampil di pengadilan pada hari Minggu. Banyak yang menunggu untuk melihat bagaimana kasus ini akan berkembang dan apa yang disampaikannya kepada Durov dan Telegram.
Komunitas internasional, termasuk pengguna setia Telegram, mengamati dengan cermat perkembangan ini, mengingat potensi dampaknya terhadap kebebasan digital dan keamanan data di era modern.
Editor : Noor Syafaatul Udhma