RADAR KUDUS – Mulai Februari 2024 ini, sebanyak 45 perusahaan di Jerman sedang memberlakukan empat hari kerja tanpa pengurangan gaji. Uji coba ini dilakukan selama enam bulan ini untuk melihat tingkat produktivitas karyawan.
Konsep ini dikembangkan lembaga konsulkan “intraprenr” yang bekerja sama dengan organisasi “4 Day Week Global (4DWG)”. Konsep pengurangan jam kerja ini diharapkan mampu menambah produktivitas karyawan. Selain itu konsep ini juga untuk menjawab tantangan kelangkaan tenaga kerja di Jerman.
Konsep empat hari kerja tanpa pengurangan gaji ini rupanya sudah diujicobakan di beberapa negara seperti, Amerika Serikat, Inggiris, Australia, Irlandia, hingga Afrika Selatan. Uji coba ini sudah diikuti oleh 500 perusahaan. Hasilnya karyawan cenderung bekerja lebieh produktif.
Salah satu negara yang sudah mengikuti ujicoba empat hari kerja tanpa pengurangan gaji ini yakni Inggris. Sebanyak 2.900 karyawan di inggris mencoba eksperimen ini. Hasilnya ada dampak positif yang terjadi seperti jumlah absen karena sakit berkurang, menurunnya tingkat stres karyawan, hingga kasus pengunduran diri juga berkurang. Hasil penelitian dari Universitas Boston dan Cambridge, dari uji coba ini ada kenaikan omzet perusahaan sebesar 1,4 persen.
Jerman pun kepincut untuk mencoba konsep, meski banyak kritikan di sana sini.
Menurut Hans-Bckler-Stiftung, tiga perempat tenaga kerja profesional di Jerman mendukung konsep ini. Namun 17 persen responden tetap bersikeras menolak adanya pengurangan jam kerja.
Kendati demikian, beberapa ekonom meragukan studi Intraprenr dan 4DWG karena data-data yang disajikan masih sangat minim. Enzo Weber dari Universitas Regensburg mengatakan, perusahaan yang uji coba dengan konsep ini kebanyakan sudah menerapkannya, sehingga data yang sudah dihimpun tidak mencerminkan perekonomian secara utuh.
Enzo juga berpendapat, pengurangan jam kerja justru membuat beban kerja semakin bertambah. Dia khawatir konsep ini juga membuat karaywan mengabaikan kreativitas, sosial, hingga komunikasi.
Selain Enzo, Holger Schafer seorang ekonom dari Institut Perekonomian Jerman juga menganggap konsep empat ahri kerja ini tidak masuk akal dalam sebuah bisnis tertentu. Bila perusahaan memotong jam kerja, yang terjadi justru defisit kapasitas produksi. Selain itu, Schafer menganggap hingga saat ini bukti balid pengurangan jam kerja dapat meningkatkan produktivitas belum ada. “Konsep empat hari kerja memangkan 20 persen jam kerja. Untuk membayarnya, tingkat produktivitas per jam harus ditingkatkan sebanyak 25 persen. Ini sesuatu yang utopis,” imbuh Schafer.
Kendati demikian, konsep empat hari kerja ini tetap dipandang menguntungkan pada sejumlah sektor seperti pertukangan.
Presiden Asosisi Sentral Pertukangan Jerman, Jorg Dittrich yakin bisa pereusahaan mampu meningkatkan daya saing dalam mencari tenaga kerja berkualitas. Namun dia mengakui konsep ini tidak bisa berdampak pada semua perusahaan.
Di saat perdebatan tentang konsep empat hari kerja dalam seminggu, sekitar buruh logam Jerman IG Metall mengaku sudah lama menuntut pengurangan jam kerja. Hasilnya sebagian perusahaan di sektor logam sudah menerapkan 35 jam kerja per minggu untuk karyawan.
sumber: Deutsche Welle (DW)
Editor : Noor Syafaatul Udhma