Bagi Hanun Zaizafun Nasywa, menjadi seorang puteri atau duta bukan sekadar tentang mengenakan selempang dan berdiri di atas panggung.
Di balik gelar yang diraihnya, ada tanggung jawab untuk terus belajar, membawa pesan positif, sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia kepada generasi muda.
Hanun berhasil meraih gelar Puteri Remaja Jawa Tengah Budaya 2025. Prestasi tersebut mengantarkannya mengikuti ajang tingkat nasional, yakni Puteri Batik Remaja Indonesia 2025 di Jakarta.
Dalam kompetisi tersebut, siswi SMAN 2 Rembang itu berhasil memperoleh penghargaan dalam kategori presentasi terbaik.
Perjalanan Hanun hingga meraih berbagai prestasi tersebut bermula dari ketertarikannya terhadap dunia modeling. Ia mulai mengenal dunia tersebut ketika duduk di kelas XI SMP.
Saat itu, sang ibu yang pertama kali menawarkan Hanun untuk mencoba modeling. Dari pengalaman tersebut, Hanun kemudian mulai mengikuti sejumlah perlombaan dan semakin tertarik mengembangkan kemampuannya.
Kesempatan berikutnya datang ketika Hanun mengikuti seleksi Puteri Remaja Jawa Tengah yang berlangsung di Semarang. Menariknya, ketika mengikuti seleksi tersebut, ia tidak memasang target tinggi.
Hanun hanya ingin mendapatkan pengalaman baru sekaligus menguji keberaniannya.
Namun, hasil yang diperoleh justru melampaui perkiraannya. Ia berhasil masuk lima besar dan kemudian dinobatkan sebagai Puteri Remaja Jawa Tengah Budaya 2025.
Gelar tersebut menjadi pintu bagi Hanun untuk melangkah ke tingkat nasional. Ia kemudian mengikuti ajang Puteri Batik Remaja Indonesia di Jakarta bersama peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada awalnya, Hanun sempat merasa kurang percaya diri. Persaingan terasa lebih luas karena peserta yang dihadapi datang dari berbagai penjuru Tanah Air.
“Awalnya sempet ku rang percaya diri, karena yang ikut dari seluruh Indonesia,” katanya.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi kesempatan baginya untuk belajar dan menunjukkan kemampuan. Hanun akhirnya berhasil meraih penghargaan presentasi terbaik.
Bagi Hanun, penghargaan yang diterima bukanlah tujuan akhir. Menurutnya, seorang puteri maupun duta memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mengenakan selempang.
Ia merasa gelar tersebut menjadi amanah untuk terus menambah wawasan dan berkontribusi dalam memperkenalkan budaya Indonesia.
Salah satu hal yang menjadi perhatiannya adalah keberadaan batik dan bagaimana warisan budaya tersebut dapat semakin dikenal generasi muda.
Karena itu, Hanun berusaha menjadikan pengalaman di berbagai ajang bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai sarana untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan komunikasi.
Selain berprestasi di dunia modeling dan ajang puteri, Hanun juga aktif dalam kegiatan organisasi di sekolah.
Ia dipercaya menjadi wakil ketua OSIS selama periode 2025/2026. Setelah menjalani satu periode tersebut, Hanun kembali mendapatkan kepercayaan untuk maju sebagai salah satu kandidat calon ketua OSIS periode 2026/2027.
Kesempatan itu sempat membuatnya ragu. Hanun mengaku harus melawan rasa kurang percaya diri sebelum akhirnya mempersiapkan diri untuk mengikuti proses pemilihan.
Ia kemudian menyiapkan materi orasi dan mengikuti tahapan pemilihan ketua OSIS. Hasilnya, Hanun terpilih menjadi ketua OSIS SMAN 2 Rembang periode 2026/2027.
“Setelah satu periode berlangsung, saya diberi amanah sebagai kandidat calon ketua OSIS 2026/2027,” katanya.
Kepercayaan tersebut menjadi pengalaman baru sekaligus tanggung jawab yang ingin dijalankannya dengan sebaik mungkin.
Bagi Hanun, setiap kesempatan yang datang merupakan bagian dari proses belajar untuk menjadi pribadi yang lebih berani, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi orang lain.
Dari panggung modeling hingga organisasi sekolah, Hanun menunjukkan bahwa sebuah gelar bukanlah akhir perjalanan.
Justru, selempang yang dikenakan menjadi pengingat bahwa ada amanah dan tanggung jawab yang harus dijalankan setelah sorotan panggung berakhir. (noe)
Editor : Ali Mustofa