Sempat Ragu, Galuh Widy Pramesti Kini Jadi Duta Wisata dan Siap Kenalkan Potensi Blora

Ali Mustofa • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 10:48 WIB
Galuh Widy Pramesti (DOK PRIBADI)
Galuh Widy Pramesti (DOK PRIBADI)

Rasa gugup dan keraguan sempat muncul dalam diri Galuh Widy Pramesti ketika pertama kali memutuskan mengikuti ajang duta wisata.

Bagi perempuan yang tinggal di Kelurahan Kunden, Kecamatan Blora, Kabupaten Blora, dunia pemilihan duta wisata merupakan pengalaman yang sama sekali baru.

Meski sempat merasa takut, Galuh akhirnya memilih untuk berani mencoba.

Ia menjadikan ajang tersebut sebagai kesempatan untuk belajar, menambah pengalaman, sekaligus menikmati setiap tahapan yang harus dilalui.

Keikutsertaannya tidak hanya memberinya pengalaman dalam sebuah kompetisi. Galuh justru mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat kekayaan pariwisata dan budaya yang dimiliki Kabupaten Blora.

Bagi Galuh, menjadi bagian dari duta wisata bukan sekadar soal kemampuan tampil di depan banyak orang.

Ia juga dituntut untuk memahami berbagai potensi daerah yang nantinya dapat diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

Menurutnya, upaya memperkenalkan pariwisata daerah tidak semestinya hanya menjadi tanggung jawab pemerintah ataupun pelaku usaha wisata.

Generasi muda juga memiliki peran penting dalam memperluas jangkauan promosi tersebut.

Terlebih, anak muda saat ini sangat dekat dengan teknologi digital dan media sosial.

Kondisi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan berbagai destinasi, kebudayaan, hingga produk ekonomi kreatif yang ada di Blora.

“Saya ingin berkontribusi mengenalkan dan mempromosikan potensi pariwisata, budaya, serta ekonomi kreatif di Blora,” ujar Galuh.

Bagi Galuh, pengalaman mengikuti ajang duta wisata juga menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan pribadi.

Salah satu perubahan yang paling ia rasakan adalah meningkatnya kemampuan berkomunikasi dan berbicara di depan publik.

Ia belajar menyampaikan gagasan dengan lebih percaya diri sekaligus menyesuaikan cara berkomunikasi ketika berhadapan dengan orang-orang dalam situasi yang berbeda.

Proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Pada awalnya, rasa takut dan keraguan masih kerap muncul. Namun, Galuh memilih untuk tetap menjalani proses dan tidak mudah menyerah.

“Awalnya saya ragu dan takut, tetapi saya mencoba tetap semangat dan tidak menyerah. Hasilnya membuat saya puas meski masih banyak yang perlu diperbaiki,” katanya.

Menurut Galuh, pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa mengikuti ajang duta wisata tidak hanya berorientasi pada hasil akhir atau pencapaian dalam kompetisi.

Lebih dari sekadar perlombaan, rangkaian kegiatan yang dijalani menjadi kesempatan bagi Galuh untuk membangun keberanian, memperluas wawasan, dan meningkatkan kemampuan berkomunikasi.

Ia juga semakin memahami bahwa seorang duta wisata memiliki kesempatan untuk ikut memperkenalkan daerah melalui berbagai cara. Salah satunya dengan memanfaatkan perkembangan media digital.

Galuh melihat media sosial sebagai ruang yang sangat potensial untuk mendekatkan promosi pariwisata Blora kepada generasi muda.

Kebiasaan anak muda menggunakan berbagai platform digital dapat menjadi peluang untuk mengenalkan destinasi wisata, seni dan budaya, serta produk ekonomi kreatif lokal dengan kemasan yang lebih menarik dan mudah diterima.

“Media sosial sangat dekat dengan anak muda. Kalau dimanfaatkan dengan baik, bisa menjadi sarana efektif untuk mempromosikan wisata Blora,” tuturnya.

Bagi Galuh, pengalaman menjadi duta wisata bukan hanya tentang membawa nama daerah, tetapi juga tentang belajar menjadi generasi muda yang mampu mengenali potensi di sekitarnya dan ikut memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas. (tos)

Editor : Ali Mustofa
Galuh Widy Pramesti generasi muda duta wisata ekonomi kreatif blora