KEMAJUAN sebuah wilayah tidak selalu dimulai dari pembangunan fisik.
Di Karimunjawa, upaya membangun masa depan pulau justru tumbuh dari ruang-ruang pendidikan, budaya, seni, hingga wisata.
Hampir semuanya berawal dari keberanian anak muda, untuk kembali dan mengabdikan pengetahuan di tanah kelahirannya.
Semangat itu diwarisi oleh Nur Sayyidah, perempuan asal Dukuh Legon Nipah, Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa.
Ia memilih kembali ke kampung halaman setelah menyelesaikan pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Perempuan kelahiran 28 Oktober 2004 ini, semula menempuh pendidikan di Jurusan Seni Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Aktif berkuliah pada 2021 dan menyelesaikan studinya pada 2025.
Kini, ilmu dan pengalaman yang diperolehnya selama merantau, digunakan untuk berkontribusi melalui Yayasan Kejora Karimunjawa.
Di yayasan tersebut, ia dipercaya sebagai Macom (Marketing Communication) and Fundraising Coordinator.
Bagi Sayyidah, keputusan untuk kembali bukan sekadar pulang ke kampung halaman.
Ada keinginan lebih besar untuk ikut menciptakan ruang belajar sekaligus ruang kreativitas bagi masyarakat Karimunjawa, utamanya generasi muda.
"Hal pertama yang membuat saya kagum ialah berbagai program yang diinisiasi Yayasan Kejora Karimunjawa dan keberaniannya memberikan inovasi baru di pulau ini," ungkapnya pada Rabu (26/8).
Menurutnya, Kejora berkeyakinan bahwa kemajuan pendidikan dapat berjalan beriringan dengan gagasan untuk mengembangkan sumber daya masyarakat di kepulauan tersebut.
Gagasan itu diwujudkan melalui berbagai kegiatan. Mulai dari sekolah alam, sekolah bahasa Inggris, ruang baca gratis atau perpustakaan, hingga upaya merawat dan mengembangkan seni dan budaya.
Kejora sendiri merupakan yayasan nirlaba yang berfokus pada bidang pendidikan. Saat ini, yayasan tersebut mengelola Satuan PAUD Sejenis (SPS) dan tengah berproses membangun sekolah dasar.
Cikal bakal gerakan tersebut bermula pada 2021 melalui kursus bahasa Inggris. Seiring waktu, kegiatan berkembang dengan melibatkan wisatawan yang datang ke Karimunjawa serta komunitas bisnis yang berada di wilayah kepulauan tersebut.
Bagi Sayyidah, keberadaan Kejora memberikan ruang bagi dirinya untuk kembali mengenalkan diri kepada masyarakat, usai bertahun-tahun berada di luar daerah.
"Saya merasa Kejora mampu menjadi ruang saya berkembang untuk mengenalkan diri lagi, mengabdikan diri setelah lama merantau," imbuhnya.
Ia masih mengingat bagaimana dahulu harus meninggalkan keluarga dengan berat hati demi memperoleh pendidikan yang lebih baik. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu alasan yang mendorongnya untuk kembali.
Ketika kembali dan melihat Kejora mulai membangun gerakan pendidikan di Karimunjawa, ia merasa memiliki alasan untuk ikut terlibat.
"Jiwa saya terpanggil. Satu jalan yang semoga membantu anak-anak di pulau Karimunjawa seutuh-utuhnya mengenal tanah dan laut yang ditinggali bersama" ucapnya.
Pendidikan tidak berhenti pada ruang kelas. Kebiasaan membaca, belajar, berdiskusi, dan berani mempertanyakan sesuatu merupakan bagian penting dalam membentuk cara masyarakat melihat lingkungan di sekitarnya.
Ia meyakini perkembangan suatu wilayah selalu berawal dari kualitas manusianya.
Ketajaman berpikir dan kreativitas dapat terus diasah melalui kebiasaan membaca, belajar, serta keberanian mempertanyakan berbagai hal.
"Masyarakat yang terbiasa berpikir dan mempertanyakan akan lebih mampu menciptakan perubahan, bukan sekadar menerima apa yang sudah ada," ujarnya.
Pemikiran tersebut juga menjadi relevan dengan pengembangan pariwisata Karimunjawa. Menurutnya, kekuatan wisata tidak hanya terletak pada keindahan alam, tetapi juga pada manusia dan kebudayaan yang hidup di dalamnya.
Atraksi wisata yang kuat membutuhkan kreativitas masyarakat lokal. Seni, cerita, tradisi, literasi, serta kemampuan masyarakat dalam mengemas potensi daerah dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang lebih bermakna.
Di titik itulah pendidikan dan seni memiliki peran penting. Generasi muda tidak hanya didorong untuk menjadi penonton perkembangan pariwisata, tetapi juga menjadi pelaku yang mampu menciptakan gagasan dan atraksi baru tanpa kehilangan identitas sebagai masyarakat kepulauan.
"Saya sendiri antusias pada seni, sastra, dan film. Saya juga gemar merenung dan mendalami makna dari hal-hal yang saya temui," ujarnya.
Dari Kemujan, ia kini memilih menyalurkan ketertarikan tersebut untuk sesuatu yang lebih besar, dengan membangun ruang bagi pendidikan, seni, dan kreativitas masyarakat Karimunjawa.
Baginya, kembali ke pulau bukan berarti berhenti bermimpi.
Justru dari pulau kecil itulah ia ingin menunjukkan bahwa pendidikan dan seni dapat menjadi pintu untuk membuka lebih banyak kemungkinan bagi masa depan masyarakat.
“Memajukan Karimunjawa bukan hanya tentang bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan. Namun bagaimana memastikan masyarakat lokal tumbuh bersama, mampu mengenali potensi tanah dan laut, serta memiliki keberanian untuk menciptakan masa depan dari pelataran rumah sendiri,” pungkasnya.(fik)
Editor : Support