Berawal dari kecintaan terhadap buku digital, Humaira Fadlina tidak hanya menjadikan membaca sebagai aktivitas pribadi.
Ia justru mengambil langkah lebih jauh dengan membangun ruang bagi orang lain yang memiliki kegemaran serupa melalui Komunitas Baca Digital (Koca).
Ide tersebut muncul ketika Humaira mulai aktif menggunakan iPusnas. Ia melihat adanya keterbatasan ruang interaksi antarpembaca di dalam aplikasi tersebut.
Dari keresahan sederhana itu, ia kemudian berinisiatif membuat grup WhatsApp agar para pembaca dapat saling berkomunikasi dan membantu mendapatkan buku yang ingin dibaca.
“Saya awalnya cuma merasa fitur DM di iPusnas sebenarnya sudah bermanfaat, tetapi belum terlalu optimal untuk interaksi sesama pembaca. Akhirnya saya berpikir untuk membuat grup WhatsApp. Waktu itu niatnya sederhana, supaya pembaca bisa saling membantu mengantre buku dan punya tempat untuk berinteraksi,” ceritanya.
Ia kemudian mulai memperkenalkan grup tersebut melalui kolom komentar buku-buku populer di iPusnas dan komunitas pembaca di media sosial.
Tak disangka, semakin banyak orang yang tertarik bergabung. Dari sana, muncul berbagai ide kegiatan yang membuat komunitas tersebut berkembang.
Bagi Humaira, perkembangan Koca menjadi pengalaman tersendiri. Perempuan asal semarang ini tidak hanya belajar bagaimana membangun sebuah komunitas, tetapi juga belajar memahami karakter banyak orang, menerima masukan, hingga menjaga agar sebuah kegiatan dapat tetap berjalan.
Namun, membangun komunitas bukan satu-satunya kesibukan yang harus ia jalani. Di luar aktivitasnya bersama Koca, Humaira juga menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Psikologi di International Open University.
Saat ini, ia baru menyelesaikan semester kedua English Preparation Program dan bersiap memasuki pembelajaran perkuliahan.
Karena sistem perkuliahannya berlangsung secara daring pada malam hari, ia juga memanfaatkan waktu lainnya untuk bekerja.
Pada pagi hari, ia bekerja paruh waktu sebagai florist di suatu toko bunga, sementara sore harinya digunakan untuk mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) dekat rumah.
Rutinitas tersebut membuat pengelolaan waktu menjadi bagian penting dalam kesehariannya.
Kesibukan yang bertambah juga memberikan tantangan baru dalam mempertahankan Koca. Sebagai pendiri sekaligus salah satu pengurus utama, ia harus berusaha tetap hadir untuk komunitas meskipun memiliki tanggung jawab lain di luar kegiatan tersebut.
“Kalau tantangan terbesar dari saya sendiri sebenarnya bagaimana caranya tetap konsisten hadir di komunitas di tengah kesibukan real life. Kadang kegiatan Koca harus di-hiatus karena saya dan ibu asuh yang lain punya kesibukan masing-masing. Tapi saya tetap berusaha supaya komunitas ini tidak benar-benar berhenti,” ujarnya.
Meski beberapa kegiatan harus dihentikan sementara, ia tidak melihat kondisi tersebut sebagai kegagalan. Baginya, komunitas yang dibangun secara sukarela memang membutuhkan fleksibilitas.
Ia memilih mempertahankan kegiatan yang masih memungkinkan untuk dijalankan daripada memaksakan terlalu banyak program.
Salah satu kegiatan yang masih dipertahankan adalah Ibadah Membaca Berjamaah, yang dilaksanakan secara daring setiap malam Minggu pada pekan pertama. Para anggota membaca buku masing-masing secara bersamaan melalui Google Meet.
Selain itu, ia juga mengembangkan fasilitas iuran e-book melalui Google Play Books. Program tersebut dibuat sebagai salah satu alternatif bagi anggota untuk mendapatkan bahan bacaan digital secara bersama-sama.
Baca Juga: Mengenal Yoviana Vatmasari : Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an Aktif Berorganisasi dan Menuntut Ilmu
Perjalanan membangun Koca juga membuat Humaira semakin memahami bahwa sesuatu yang awalnya dilakukan karena kesukaan pribadi ternyata dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Ia tidak pernah memulai komunitas tersebut dengan target besar. Semua berawal dari keinginan sederhana untuk memiliki teman membaca dan membuat interaksi antarpembaca menjadi lebih mudah.
Justru dari langkah sederhana itu, ia belajar mengenai tanggung jawab. Ketika orang lain mulai bergabung dan berharap pada keberadaan komunitas, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga ruang tersebut tetap hidup.
“Dulu saya tidak pernah membayangkan Koca bisa bertahan sampai sekarang. Awalnya benar-benar cuma karena saya ingin membuat tempat untuk pembaca saling membantu. Ketika ternyata ada orang yang merasa terbantu dan kemudian ikut memberikan ide kegiatan, rasanya senang sekaligus merasa punya tanggung jawab untuk mempertahankannya,” tuturnya. (nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa