Sehari-hari, Etsa Maulidia Qatrunnada (20) terbiasa hidup dalam rutinitas yang cukup padat.
Bangun pagi, menjalankan aktivitas pondok, mengikuti perkuliahan, mengerjakan berbagai kegiatan jurnalistik, hingga menghabiskan sore dengan mengajar les.
Di sela rutinitas tersebut, ia tetap harus membagi waktu dengan kewajiban lain seperti rapat organisasi dan piket di pondok.
Sebagai mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Etsa aktif di dua Organisasi yang sama-sama bergerak di bidang berita, liputan, dan jurnalistik.
Di luar aktivitas tersebut, mahasiswa UIN Walisongo asal Bojonegoro ini juga mengajar empat murid yang terdiri dari dua pasang kakak-adik.
Mengajar les bagi Etsa bukan semata-mata kegiatan untuk mengisi waktu luang. Justru, aktivitas tersebut menjadi ruang untuk beristirahat sejenak dari kesibukan perkuliahan dan organisasi.
Menurutnya, berada di lingkungan kampus membuatnya lebih sering berinteraksi dengan orang-orang dewasa.
Rutinitas tersebut terkadang terasa melelahkan dan membuat pikirannya penuh. Bertemu anak-anak kemudian menjadi cara tersendiri baginya untuk menyegarkan pikiran.
"Menurutku kalau kita kuliah terus itu kan kita ketemu sama orang-orang gede. Nah, kalau kita ada sedikit waktu buat bermain atau belajar sama anak kecil itu bikin otak kita refresh dan juga bisa menghibur," tuturnya.
Keputusannya untuk mulai mengajar les sebenarnya baru dilakukan ketika memasuki semester tiga.
Ia mengaku sebagai orang yang mudah merasa bosan ketika tidak memiliki kegiatan. Daripada membiarkan waktu luang terbuang, ia memilih mencari aktivitas yang sekaligus dapat memberikan manfaat.
Namun, mengajar anak-anak bukan pengalaman yang benar-benar baru baginya. Ketika berada di rumah, ia sudah terbiasa membantu mengajar di sekolah milik keluarganya, termasuk membantu kegiatan pendidikan anak usia dini.
“Soalnya aku di rumah kan juga bantuin ngajar di sekolahan tanteku juga jadi rumah itu sering ketemu sama anak kecil, terus disini tuh menurutku sepi, makanya aku nyari bocah buat ajar gitu” ucapnya
Selain menjadi ruang untuk refreshing, kegiatan mengajar juga menjadi kesempatan baginya untuk kembali menggunakan kemampuan Bahasa Inggris yang pernah dipelajarinya.
Sebelum memilih KPI, ia sempat memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan di bidang Bahasa Inggris.
Meskipun pada akhirnya mengambil jurusan yang berbeda, ketertarikannya terhadap Bahasa Inggris tidak benar-benar ditinggalkan.
Sebelum mengajar, ia bahkan kembali membuka catatan-catatan lama dan mencari materi Bahasa Inggris untuk memastikan pengetahuan yang dimilikinya tetap relevan.
Baginya, mengajar menjadi cara untuk menggunakan kembali ilmu yang pernah dipelajari sekaligus menambah pengetahuan baru.
Dengan begitu, aktivitas tersebut memberikan lebih dari satu manfaat. Ia dapat menyalurkan ilmu Bahasa Inggris kepada murid, sekaligus kembali belajar melalui proses mempersiapkan materi.
Di sisi lain, aktivitas jurnalistik menjadi ruang lain baginya untuk mengembangkan kemampuan.
Ia mengaku menyukai kegiatan bepergian dan bertemu dengan berbagai tempat. Ketertarikannya tersebut kemudian ia salurkan melalui jurnalistik.
Baginya, menjadi bagian dari organisasi jurnalistik memberikan kesempatan untuk mengunjungi berbagai tempat dengan tujuan yang jelas, sekaligus menghasilkan karya berupa berita atau liputan.
"Daripada aku jalan-jalan nggak ada gunanya, mending aku ikut jurnalistik. Selain bisa nulis berita, aku juga punya privilege untuk mendatangi semua tempat karena punya nama sebagai pers," ujarnya.
Dua dunia tersebut akhirnya berjalan beriringan. Jurnalistik memberinya kesempatan untuk bertemu banyak orang dan tempat, sementara mengajar memberinya ruang untuk berinteraksi dengan anak-anak sekaligus mengistirahatkan pikirannya dari rutinitas kampus.
Meski terdengar menyenangkan, menjalankan berbagai aktivitas tersebut tetap memiliki tantangan.
Sore hari menjadi waktu yang paling sulit untuk diatur karena jadwal les terkadang bersamaan dengan rapat organisasi maupun tugas piket di pondok.
Karena itu, kemampuan mengatur waktu menjadi hal yang terus ia pelajari.
Kesehariannya sendiri dimulai sejak pagi. Setelah bangun, ia menjalankan ibadah berjamaah dan setoran Juz 30.
Pada waktu tertentu ia juga mendapat jadwal piket memasak. Setelah itu, aktivitas berlanjut dengan perkuliahan, mengajar les, atau menjalankan tugas pondok.
Pada malam hari, rutinitas kembali diisi dengan salat berjamaah, mengaji kitab, hingga akhirnya beristirahat.
Di tengah padatnya aktivitas tersebut, ia tidak ingin kegiatan yang dijalani justru menghambat pendidikan utamanya.
Etsa berharap dapat semakin baik dalam membagi waktu sehingga jurnalistik, mengajar, maupun berbagai hobinya tetap dapat berjalan tanpa mengganggu perkuliahan.
"Semoga hobi-hobi dan juga pekerjaanku sekarang nggak menghambat kelulusanku nanti," katanya. (nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa