Mengenal Faiska Putri: Belajar Tenang Memimpin UKM SPEAC di Tengah Padatnya Aktivitas

uinbroadcasting • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:43 WIB
Faiska Putri (doc. pribadi)
Faiska Putri (doc. pribadi)
Pagi hingga malam menjadi rutinitas yang hampir setiap hari dijalani Faiska Putri (20). Saat perkuliahan belum dimulai, waktunya justru banyak dihabiskan untuk kegiatan organisasi, pekerjaan, dan berbagai persiapan untuk mengembangkan dirinya.
Ia berangkat dari rumah sekitar pukul 09.00 WIB dan baru kembali sekitar pukul 21.30 WIB. Saat ini, Faiska dipercaya menjadi Ketua Umum UKM SPEAC (Spirit English Association), salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di tingkat universitas yang berfokus pada pengembangan kemampuan Bahasa Inggris mahasiswa.

Di tengah masa libur perkuliahan, mhasiswi asal kabupaten Batang ini tengah mempersiapkan rangkaian proses penjaringan anggota baru untuk UKM SPEAC.

Selain menjalankan tanggung jawab organisasi, ia juga tengah mempersiapkan diri untuk mendaftar program internship di International Office UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur).

Kesempatan tersebut menjadi salah satu langkah yang ingin ia ambil untuk memperluas pengalaman sekaligus mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris yang selama ini menjadi salah satu minatnya.

“Untuk saat ini aku lagi fokus ke organisasi, karena pembelajaran di kampus belum mulai. Ini lagi masa rangkaian PBAK, jadi kita sebagai anak organisasi lagi fokus untuk penjaringan member atau oprec. Aku juga lagi mempersiapkan diri buat daftar internship di International Office UIN Gus Dur” ujarnya

Rutinitas tersebut belum selesai ketika kegiatan organisasi berakhir. Pada malam hari, ia masih bekerja sebagai host live. Pekerjaan tersebut biasanya dilakukan mulai pukul 19.30 hingga 21.00 WIB.

Dengan jadwal yang demikian padat, hari-harinya seolah berjalan dalam pola yang sama. Berangkat pagi, menjalankan aktivitas organisasi, kemudian bekerja hingga malam sebelum akhirnya kembali ke rumah.

Baca Juga: Mengenal Aliva Briliana Aulia : Delapan Kali Ditolak PTN, Belajar Tumbuh di Jalan yang Tak Pernah Direncanakan

“Aku kerja juga jadi host live kalau malam, biasanya sekitar setengah tujuh sampai jam sembilan. Jadi berangkat dari rumah jam sembilan pagi, terus aktivitas organisasi, dan malamnya kerja. Pulang sampai rumah sekitar setengah sepuluh. Jadi memang on repeat seperti itu. ”katanya.

Keterlibatannya di UKM SPEAC bukan sekadar aktivitas organisasi. Bagi Faiska, SPEAC menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan Bahasa Inggris sekaligus mengekspresikan dirinya.

Berbagai program dijalankan organisasi tersebut, mulai dari study club, Awesome English, hingga Speac Got Talent.Salah satu kegiatan besar yang telah dilaksanakan adalah seminar nasional yang berfokus pada student exchange dan mobility.

Berbagai kegiatan tersebut membuatnya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang dari latar belakang dan pengalaman yang lebih luas.

Ia merasa kemampuan yang dimilikinya dapat berkembang ketika berada di lingkungan yang mendukungnya untuk terus menggunakan Bahasa Inggris.

“Seneng sih, aku bisa improve dan mengekspresikan diri lebih banyak, apalagi aku memang suka kalau disuruh ngomong Inggris. Dari SPEAC aku bisa ketemu banyak orang dan belajar banyak hal yang sebelumnya mungkin belum pernah aku temui. Jadi buatku UKM ini bukan cuma tempat buat organisasi, tapi kayak bridge-ku untuk bisa lihat dunia lebih luas,” ungkapnya.

Salah satu pengalaman yang paling membekas justru datang dari kesempatan sederhana yang kemudian berkembang menjadi pengalaman baru. Ia pertama kali dipercaya menjadi Master of Ceremony (MC) dalam sebuah kegiatan unit bahasa acara academic writing 2025.

Setelah itu, kesempatan serupa terus datang.Seiring waktu, Kemampuan tersebut tidak hanya mem berinya pengalaman berbicara di depan publik, tetapi juga membuka peluang untuk mendapatkan penghasilan dari keterampilan yang dimilikinya.

“Yang paling memorable itu sebenar nya first time disuruh nge-MC dan malah keterusan sampai sekarang. Setelah itu beberapa kali nge-MC dan moderator di acara yang related to English, seperti conference prodi, orientasi foreign student, sama seminar dari unit bahasa. Jadi nggak cuma gain pengalaman, tapi ternyata skill yang aku punya juga bisa menghasilkan duit. Itu salah satu hal yang bikin aku semakin senang buat terus belajar,” tuturnya.

Namun, menjadi Ketua Umum UKM SPEAC membuat pengalaman yang ia dapatkan tidak selalu berkaitan dengan kemampuan berbicara atau Bahasa Inggris.

Ia juga harus belajar mengenai kepemimpinan, tanggung jawab, serta bagaimana menghadapi berbagai karakter dalam organisasi.

Menurutnya, menjadi seorang pemimpin berarti harus mampu mengesampingkan kepentingan pribadi ketika situasi menuntutnya untuk mengambil keputusan demi kepentingan bersama.

Hal tersebut menjadi salah satu tantangan yang paling ia rasakan selama menjalankan kepemimpinannya.

“Ya namanya juga jadi leader, enak dan ggak enak tetap harus bertanggung jawab. Kadang kita nggak bisa mengekspresikan semua emosi kita, apalagi pas nge-event atau waktu evaluasi. Kita harus tetap nge-lead supaya kondisinya tetap kondusif. Jadi mau nggak mau harus belajar mengontrol diri, karena sebagai ketum kita nggak bisa cuma mikirin perasaan sendiri,” jelasnya.

Tantangan tersebut semakin terasa ketika ia harus membimbing anggota baru yang belum memiliki pengalaman dalam menjalankan kegiatan.

Mengajarkan sesuatu dari awal membutuhkan kesabaran, terutama ketika hasil yang diharapkan belum langsung terlihat.

Dari situ, ia mulai memahami bahwa kep emimpinan bukan hanya tentang memberikan arahan kepada orang lain. Seorang pemimpin juga dituntut untuk mampu mengendalikan dirinya sendiri.

“Yang paling kerasa itu ketika ngajari n anak baru buat nge-event, yang benar-benar dari nol. Kadang agak menguras emosi karena kita harus menjelaskan hal yang menurut kita sudah biasa, tapi buat mereka mungkin memang benar-benar baru. Dari situ aku belajar satu hal, yaitu ilmu tenang. Belajar buat nggak langsung emosi, belajar menahan ego, dan tetap menyelesaikan masalah dengan kepala dingin,” katanya.

Setelah nanti akan menjalani satu periode sebagai Ketua Umum, Faiska mulai memikirkan apa yang ingin dilakukan setelah masa kepemimpinannya berakhir.

Ia sempat mempertimbangkan untuk melanjutkan aktivitas organisasi melalui Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas (DEMA U), tetapi pilihan tersebut masih dipertimbangkan

“Rencanaku untuk sekarang sih demisioner dengan tenang. Aku sempat kepikiran mau maju ke DEMA U, tapi takut kalau kabinetnya nggak efektif, apalagi aku juga nggak join oorganisasi ekstra. Jadi mungkin fokus ke kuliah dulu. Setelah demis aku pengen have fun, mungkin join organisasi atau komunitas di luar kampus, dan hidup seperti rakyat biasa. Karena selama jadi ketum itu cukup menahan dan memendam banyak ego sendiri,” ujarnya.

Di luar organisasi, ia juga mulai memikirkan rencana karier jangka panjang. Berasal dari jurusan Tadris Bahasa Inggris, ia sebenarnya terbuka untuk bekerja sebagai guru.

Namun, ia juga memiliki ketertarikan untuk bekerja sebagai translator atau tour guide, terutama jika kesempatan tersebut membawanya bekerja di luar negeri.

“Aku pengennya kerja di luar negeri, ngejar itu dulu kalau possible. Kalau untuk kerjaannya sebenarnya aku terbuka, karena jurusanku pendidikan, jadi kalau jadi guru juga nggak apa-apa. Tapi aku juga tertarik jadi translator atau tour guide karena aku suka Bahasa Inggris. Sekarang aku pengen coba cari pengalaman sebanyak mungkin dulu, siapa tahu dari pengalaman itu nanti bisa membuka jalan buat kerja di luar negeri,” Akhirnya. (nuril baiti amiliah)

Editor : Ali Mustofa
belajar tenang mahasiswa ukm pemimpin organisasi