Kesempatan untuk belajar di luar negeri tidak selalu berawal dari mimpi yang sudah direncanakan sejak lama.
Bagi fitrya salwa yusuf , rencana untuk menempuh pendidikan bahasa di Tiongkok justru muncul dari sebuah pertemuan sederhana yang kemudian membawanya pada pengalaman baru.
Saat ini, Salwa tengah mempersiapkan berbagai dokumen dan kebutuhan sebelum berangkat ke Tiongkok untuk mengikuti program kuliah bahasa. Ia dijadwalkan berangkat pada Oktober mendatang.
Tiongkok sendiri sebelumnya tidak pernah masuk dalam rencana pendidikannya. Ketertarikan tersebut muncul ketika ia mengikuti salah satu kelas Bahasa Inggris untuk melatih kemampuan speaking.
Di sana, ia bertemu dengan seorang teman yang sebelumnya mendapatkan beasiswa untuk belajar di Tiongkok.
Rasa penasaran membuatnya mulai bertanya mengenai pengalaman belajar di sana. Ia mendapatkan penjelasan mengenai sistem pembelajaran, teknis pendaftaran, hingga cara memilih universitas.
Setelah berdiskusi dengan orang tua dan mempertimbangkan berbagai hal, ia akhirnya memberanikan diri mendaftar pada akhir 2025.
“Awalnya aku nggak pernah kepikiran buat daftar di China. Sampai suatu hari aku ikut English class buat latihan speaking dan ketemu temanku yang dapat scholarship di China. Aku akhirnya coba tanya-tanya tentang teknis belajarnya, sampai cara pilih universitas. Ternyata sistem belajarnya sesuai banget sama aku. Setelah itu aku diskusi sama orang tua dan akhirnya memutuskan buat daftar,” ceritanya.
Karena merasa belum cukup percaya diri mengurus proses pendaftaran secara mandiri, ia kemudian menggunakan bantuan agent.
Dokumen yang diperlukan disiapkan dan diserahkan untuk membantu proses administrasi hingga akhirnya ia hanya perlu menunggu jadwal wawancara.
Tidak disangka, satu hari setelah menjalani wawancara, kabar baik datang. Ia dinyatakan lolos dari pihak universitas dan mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program kuliah bahasa di Tiongkok.
Namun, keberhasilan tersebut tidak lepas dari perjalanan pribadi yang cukup panjang. Sebelum berani mendaftar, Salwa mengaku pernah menjadi pribadi yang mudah merasa minder dan sering meragukan kemampuan diri sendiri.
Perasaan tersebu t bahkan sempat muncul ketika ia sedang menjalani proses pendaftaran ke Tiongkok. Alih-alih merasa yakin akan berhasil, ia justru beberapa kali berpikir untuk membatalkan rencananya.
“Kendalanya sebenarnya lebih banyak dari diriku sendiri. Aku memang dulu sering banget minder dan berpikir, ‘Emangnya aku bisa?’ Jadi waktu proses daftar China pun aku masih sering merasa kayaknya aku nggak bakal dapat. Kadang sampai mikir, apa aku cancel aja atau mundur aja. Jadi sebenarnya yang paling berat itu meyakinkan diri sendiri kalau aku mampu mencoba,” ungkapnya.
Perlahan, Perempuan asal Sulawesi Tenggara ini mulai belajar untuk tidak terlalu membebani dirinya dengan berbagai keraguan.
Salah satu hal yang terus ia ingat adalah pesan dari ibunya untuk tidak terlalu menyalahkan keadaan dan tetap berusaha berpikir positif.
Pesan sederhana tersebut kemudian menjadi salah satu pengingat baginya ketika kembali merasa ragu.
“Ibuku pernah bilang supaya aku tetap berpikir positif. Waktu itu aku belum terlalu paham, tapi sekarang aku merasa perkataan itu benar-benar ada hubungannya sama apa yang aku alami,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menemukan sebuah buku berjudul A Quarter of Life karya Inka Aghista yang membuatnya kembali merefleksikan cara dirinya memandang kehidupan.
Salah satu gagasan yang ia dapatkan adalah pentingnya memaafkan diri sendiri dan menerima berbagai kekurangan yang dimiliki.
Dari sana, ia mencoba menjalani proses dengan lebih santai. Tidak semua hal harus berjalan sesuai dengan harapan, dan tidak semua kegagalan harus dianggap sebagai akhir.
“Aku coba pelan-pelan buat memaafkan diri sendiri dan menerima kekurangan yang ada. Jadi kalau ada sesuatu yang nggak sesuai sama yang aku mau, aku belajar buat lebih enjoy menjalaninya. Namanya juga hidup, pasti ada hal-hal yang nggak sesuai rencana,” katanya.
Proses tersebut berjalan bersamaan dengan persiapannya untuk mendaftar ke Tiongkok. Di satu sisi, ia tengah berusaha mengejar kesempatan belajar di luar negeri.
Di sisi lain, ia masih harus berhadapan dengan rasa tidak percaya diri yang beberapa kali muncul.
Karena itu, ketika akhir nya dinyatakan lolos, kabar tersebut terasa lebih dari sekadar keberhasilan mendapatkan tempat belajar.
Bagi Salwa, hasil tersebut menjadi bukti bahwa keraguan yang selama ini ada di dalam dirinya tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
“Pas akhirnya dinyatakan lulus, aku benar-benar kaget dan senang. Karena sebelumnya aku sudah bolak-balik merasa nggak bisa dan sempat berpikir untuk mundur. Ternyata setelah aku coba, hasilnya justru di luar yang aku bayangkan. Dari situ aku merasa ternyata kita memang harus berani mencoba dulu sebelum menyimpulkan kalau kita nggak mampu,” tuturnya
Oktober mendatang, Salwa akan memulai pengalaman baru di Tiongkok. Ia berharap kesempatan tersebut dapat membuatnya semakin berkembang, baik dari segi kemampuan maupun kepercayaan diri.
Ia juga ingin pengalaman yang diperolehnya selama berada di luar negeri nantinya dapat diterapkan dalam rencana karier yang ingin dibangunnya.
Lulusan SMK NU Banat Kudus tersebut masih memiliki ketertarikan besar terhadap dunia fashion. Namun, ia tidak ingin membatasi masa depannya hanya pada satu bidang.
Ia ingin mengeksplorasi berbagai kemungkinan di industri kreatif dan melihat bidang mana yang paling sesuai dengan minat sekaligus memiliki prospek yang baik.
“Aku masih suka banget sama fashion dan Fashion Design masih jadi hobi favoritku. Tapi aku juga harus lihat prospeknya di dunia nyata. Kalau nanti ada bidang lain yang prospeknya lebih tinggi dan aku juga merasa enjoy, mungkin aku akan geluti lebih dalam. Jadi untuk sekarang aku ingin belajar dan eksplor sebanyak mungkin dulu,” jelasnya.
Ke depan, ia memiliki keinginan untuk memanfaatkan pengalaman internasional yang diperoleh untuk menghasilkan karya atau produk kreatif.
Salah satu impiannya adalah memiliki brand atau usaha sendiri yang dapat membawa adat, budaya, dan tradisi Indonesia ke tingkat internasional.
“Aku pengen ilmu dan wawasan internasional yang nanti aku dapat bisa diterapkan untuk bikin karya atau produk kreatif. Aku pengen mengejar industri kreatif, eksplor berbagai peluang kerja di bidang yang aku suka, atau suatu hari punya brand atau usaha sendiri yang mengangkat adat, budaya, dan tradisi Indonesia sampai go international,” katanya.
Bagi Salwa, keberangkatan ke Tiongkok bukan sekadar tentang pergi ke luar negeri untuk belajar.
Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi sebuah pembuktian bagi dirinya sendiri bahwa rasa ragu tidak harus menjadi batas dalam menentukan seberapa jauh seseorang dapat melangkah.
Ia pun ingin pengalamannya menjadi motivasi bagi orang lain yang masih sering merasa kecil hati atau tidak percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki.
“Untuk teman-teman yang sering merasa kecil hati atau nggak percaya diri, jangan biarkan masa lalu atau rasa ragu di kepala membatasi seberapa jauh kalian bisa melangkah. Dunia ini terlalu luas dan kesempatan itu nyata untuk siapa saja yang mau berani mencoba dan berproses. Kalau aku yang dulunya penuh keraguan bisa sampai menembus batas ke China, kalian juga pasti bisa,” pesannya. (nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa