Menjadi mahasiswa dengan berbagai kesibukan bukan hal yang mudah.
Di tengah jadwal perkuliahan, aktivitas organisasi, pekerjaan sampingan, hingga memenuhi pesanan, Yoviana Vatmasari (21) tetap berusaha menjaga hafalan 30 juz Al-Qur’an yang telah diselesaikannya sejak duduk di bangku sekolah menengah atas.
Dalam kesehariannya, Yovi menjalani aktivitas sebagai mahasiswa sekaligus pengajar les. Setiap Senin dan Kamis. Selain itu, perempuan asal semarang ini juga aktif dalam tiga organisasi di UIN Walisongo.
Di tengah rutinitas tersebut, menjaga hafalan Al-Qur’an tetap menjadi bagian yang tidak ditinggalkan.
Baginya, hafalan bukan sekadar pencapaian yang selesai setelah mencapai 30 juz, tetapi tanggung jawab yang harus terus dirawat melalui murojaah.
Menariknya, menjadi penghafal Al-Qur’an sebenarnya bukan sesuatu yang sejak awal menjadi rencana Yovi.
Ketika berada di kelas sembilan, ia bahkan sempat meminta izin kepada orang tua untuk keluar dari pondok.
Namun, keinginannya tersebut tidak mendapatkan izin sehingga Yovi tetap melanjutkan pendidikan di lingkungan pesantren.
“Sebenarnya aku nggak ada niatan buat hafalan karena menurutku itu bukan basic aku. Pas kelas 9 aku sempat minta keluar pondok, tapi nggak dibolehin orang tua. Waktu itu aku sudah khatam bin nadzhor, terus aku mikir, masa sampai SMA cuma bin nadzhor? Akhirnya aku coba masuk tahfidz. Bahkan waktu sudah hafal sampai juz 7 pun sebenarnya belum ada niatan untuk benar-benar meneruskan sampai selesai,” ceritanya.
Seiring berjalannya waktu, pandangannya terhadap proses menghafal Al-Qur’an mulai berubah.
Yovi mulai memahami bahwa hafalan yang dijalani bukan hanya tentang menambah jumlah juz, tetapi juga memiliki manfaat yang dapat dirasakan dalam kehidupan.
Dari sanalah keinginannya untuk menyelesaikan hafalan semakin tumbuh. Hafalan yang awalnya dilakukan tanpa target besar perlahan menjadi perjalanan yang ingin ia tuntaskan.
Hingga akhirnya, pada usia 18 tahun ketika duduk di kelas tiga SMA, Yovi berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an.
Pencapaian tersebut kemudian turut memengaruhi rencana pendidikannya. Ia sebenarnya sudah memiliki rencana untuk melanjutkan kuliah setelah lulus sekolah.
Namun, ia memilih menunda selama satu tahun untuk memperkuat dan melancarkan hafalan sebelum akhirnya mendaftar kuliah di program studi Gizi Uin Walisongo pada 2024 melalui jalur beasiswa prestasi tahfidz.
Keputusan tersebut menjadi salah satu bentuk keseriusannya dalam menjaga hafalan sekaligus mempersiapkan diri sebelum melanjutkan pendidikan tinggi.
Memasuki dunia perkuliahan, ia pun harus beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda dari kehidupan pesantren.
Perubahan suasana tersebut membuatnya mengalami culture shock, terutama karena kehidupan kampus dan masyarakat luar memiliki kebebasan yang lebih luas dibandingkan lingkungan pondok.
Meski demikian, pengalaman selama berada di pesantren justru menjadi bekal yang tetap dibawanya hingga sekarang.
Ilmu dan kebiasaan yang diperoleh selama menjadi santri menjadi pegangan ketika harus menghadapi lingkungan baru.
“Pasti ada banget culture shock karena dunia pondok itu nggak sebebas dunia luar. Tapi alhamdulillah karena dulu aku di pondok, aku punya pegangan ilmu yang masih aku bawa sampai sekarang dan seterusnya. Jadi meskipun lingkungan sudah berbeda, aku tetap berusaha mempertahankan kebiasaan dan prinsip yang sudah aku dapat selama di pondok,” ujarnya.
Menjaga hafalan di tengah kesibukan sebagai mahasiswa menjadi tantangan tersendiri. Terlebih, Yovi tidak hanya menjalani perkuliahan, tetapi juga aktif dalam tiga organisasi dan memiliki aktivitas mengajar serta mengantarkan pesanan.
Untuk menjaga hafalan, ia berusaha menerapkan rutinitas murojaah setiap hari. Dukungan dari orang tua juga menjadi pengingat agar hafalan yang telah diperoleh tidak berhenti hanya pada pencapaian khatam.
Ia memiliki target untuk mengulang setidaknya satu juz setiap hari, yang biasanya dilakukan setelah salat Subuh.
Bagi Yovi, kebiasaan tersebut tidak hanya berguna untuk menjaga hafalan Al-Qur’an. Pola belajar yang mengharuskannya mengulang materi berkali-kali sebelum melanjutkan ke bagian berikutnya juga ia terapkan dalam kehidupan akademik.
Cara tersebut bahkan menjadi kebiasaan ketika menghadapi materi perkuliahan yang membutuhkan hafalan, seperti rumus-rumus.
Baca Juga: Mengenal Dea Devina, Penyanyi Asal Lasem yang Sukses Memukau Ribuan Penonton di Hari Jadi Rembang
“Jujur memang susah banget bagi waktu, apalagi aku aktif di tiga organisasi. Tapi aku selalu diingatkan orang tua juga buat murojaah. Aku punya niat pokoknya sehari harus murojaah satu juz dan itu benar-benar aku usahakan setelah salat Subuh. Pola pikir dari hafalan juga masih aku bawa sampai sekarang. Kalau menghafal, aku harus mengulang beberapa kali dulu baru lanjut. Cara itu juga aku terapkan kalau harus menghafal rumus di kampus,” jelasnya.
Selain menjaga hafalan, Yovi juga memiliki tujuan lain dalam menjalani pendidikan tinggi. Baginya, kuliah bukan sekadar upaya mendapatkan gelar, tetapi juga kesempatan untuk memperluas pengetahuan dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah lulus.
Ia ingin menjadi perempuan yang memiliki pendidikan sekaligus mampu membangun karier. Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu bekal penting agar seseorang memiliki wawasan yang luas dan tidak mudah menerima informasi tanpa memahami kebenarannya.
Karena itu, ia berusaha menjalani dua hal secara beriringan: mempertahankan hafalan Al-Qur’an sekaligus mengejar pendidikan dan karier.
Ke depan, ia berharap dapat menjaga hafalan 30 juz yang telah dicapainya dan menyelesaikan pendidikan hingga memperoleh gelar Sarjana Gizi (S.Gz).
“Harapanku bisa menjaga hafalan dan meraih gelar S.Gz, jadi antara dunia dan akhirat bisa seimbang. Aku ingin terus berusaha, berdoa, dan melakukan hal-hal baik setiap hari. Target terbesarku sebenarnya bukan cuma sukses untuk diri sendiri, tapi bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya. (nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa