Bagi sebagian mahasiswa, libur semester menjadi waktu untuk pulang ke kampung halaman dan beristirahat dari rutinitas perkuliahan.
Namun, Silvi Dwi Ananta (19), mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Semarang (UNNES), justru memilih menghabiskan waktu liburnya dengan cara berbeda.
Alih-alih pulang ke rumahnya di Sumatera Utara, ia memilih belajar selama satu bulan di Kampung Inggris, Pare, Kediri, untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggrisnya.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Pengalaman mengikuti program student mobility ke Malaysia membuatnya menyadari bahwa kemampuan Bahasa Inggris menjadi salah satu hal yang perlu ia kembangkan.
Dalam program tersebut, Silvi mengikuti kelas internasional di University of Selangor (UNISEL) dengan mengambil program Teaching English as a Second Language (TESL).
Selama mengikuti program yang menjadi bagian dari Global Exchange Malaysia (GEM) tersebut, ia mendapatkan pengalaman belajar dalam lingkungan akademik yang menggunakan Bahasa Inggris.
Mulai dari bahan ajar, buku, pemaparan materi, hingga penjelasan dosen menggunakan Bahasa Inggris.
Awalnya, Silvi merasa kemampuan Bahasa Inggris dasar yang dimilikinya sudah cukup untuk mengikuti kegiatan. Ia juga mengira komunikasi dengan masyarakat Malaysia tidak akan terlalu sulit karena terdapat kemiripan bahasa dengan Indonesia.
Namun, pengalaman mengikuti perkuliahan internasional membuatnya menyadari bahwa kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Inggris tidak hanya soal memahami perkataan orang lain.
“Saat itu sebenarnya bukan aku nggak bisa English, aku masih bisa meskipun basic. Tapi aku kesulitan menyampaikan pemahamanku sendiri, menjelaskan sesuatu dari sudut pandangku, atau sekadar menceritakan budaya Indonesia. Aku merasa masih minim vocabulary, terutama vocabulary akademik. Dari situ aku berpikir kalau aku bisa berbahasa Inggris tanpa terlalu bergantung pada internet, pasti aku akan jauh lebih nyaman,” ungkapnya.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi titik balik bagi Silvi. Ia mulai memiliki keinginan untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sekaligus membuka peluang untuk kembali mengikuti pengalaman akademik di luar negeri.
Program student mobility ke Malaysia sendiri memberikan pengalaman akademik yang cukup besar baginya. Selama mengikuti program tersebut, ia berhasil mendapatkan rekognisi sebanyak 10 SKS atau setara lima mata kuliah dari kegiatan pembelajaran yang diikutinya di UNISEL.
Alih-alih menggunakan masa libur untuk kembali ke Sumatera Utara, Silvi kemudian memilih menginvestasikan waktunya untuk belajar di Kampung Inggris, Pare.
Salah satu pertimbangannya adalah biaya perjalanan pulang-pergi yang cukup besar, sementara ia merasa tidak memiliki banyak aktivitas selama berada di kampung halaman.
Setelah berdiskusi dengan ibunya, ia akhirnya memutuskan mendaftarkan diri ke salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris di Pare dan mengambil program camp selama satu bulan.
Lingkungan belajar yang diterapkan menjadi salah satu hal yang paling membantu perkembangannya. Ia tinggal di camp yang menerapkan English Area, sehingga penggunaan Bahasa Inggris dilakukan dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari bangun tidur hingga kembali beristirahat.
Selain pembelajaran di camp, ia juga mengikuti berbagai kegiatan speaking yang mendorong peserta untuk berani berbicara di depan orang lain.
Salah satunya adalah sesi speech selama satu menit yang membuatnya terbiasa menyampaikan gagasan menggunakan Bahasa Inggris.
Pengalaman tersebut perlahan meningkatkan rasa percaya dirinya. Ia tidak hanya mendapatkan tambahan kosakata, tetapi juga terbiasa menggunakan Bahasa Inggris secara langsung tanpa terlalu banyak berpikir mengenai kesalahan.
Bagi Silvi, pengalaman belajar di Malaysia dan Pare memberikan satu pelajaran penting tentang keberanian mengambil kesempatan.
Ia menyadari bahwa kesempatan untuk berkembang sering kali datang ketika seseorang berani meninggalkan zona nyaman.
“Pelajaran terbesar yang aku dapatkan adalah kalau kamu punya keinginan, kamu juga harus punya kemauan untuk mewujudkannya. Sebisa mungkin aku manfaatkan waktu yang ada dan mengambil kesempatan yang datang dengan keberanian penuh, karena aku percaya kesempatan yang sama nggak akan pernah datang dua kali. Selagi masih muda, aku lebih memilih belajar dari kesalahan karena itu bagian dari proses daripada menyesal karena nggak pernah mencoba,” tuturnya.
Di luar aktivitas akademik, Silvi juga aktif dalam organisasi kampus. Ia bergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNNES dan menjadi bagian dari Departemen Advokasi dan Kesejahteraan Mahasiswa (ADKESMA).
Pengalamannya dalam organisasi turut menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan. Saat ini, ia juga tengah mempersiapkan program Kelas Advokasi yang menjadi salah satu program kerja di departemennya.
Berbagai pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin untuk terus mengembangkan diri. Pengalaman belajar di luar negeri, meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris, hingga aktif dalam organisasi menjadi bagian dari proses untuk mempersiapkan rencana pendidikan dan kariernya.
Ke depan, Silvi memiliki dua kemungkinan rencana. Ia mempertimbangkan mengikuti program fast track di kampusnya atau melanjutkan pendidikan magister di luar negeri melalui beasiswa LPDP.
“ rencana kedepan mungkin fast tract dan dapetin LPDP . The key is, you must trust yourself that you can do it. Aku belajar bahwa ketika kita punya kesempatan, jangan terlalu takut untuk mengambilnya. Karena mungkin dari kesempatan kecil itu justru bisa membuka jalan untuk pengalaman yang lebih besar,” katanya. (nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa