Dari Kegagalan Menuju Al-Azhar Mesir, Perjalanan Aida Nihayatul Labibah Mengejar Pendidikan di Neger

uinbroadcasting • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:27 WIB
Aida Nihayatul Labibah (doc. pribadi)
Aida Nihayatul Labibah (doc. pribadi)

Impian untuk menempuh pendidikan di luar negeri tidak selalu berjalan lurus.

Bagi Aida Nihayatul Labibah, mahasiswi Al-Azhar University, Mesir, perjalanan menuju bangku kuliah di negeri piramida justru diwarnai kegagalan dan kesempatan kedua. 

Setelah gagal dalam seleksi keberangkatan ke Mesir pada 2024, mahasiswi yang akrab disapa labibah ini tetap melanjutkan pendidikan di Indonesia sebelum akhirnya kembali mencoba dan berhasil mewujudkan impiannya.

Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri mulai muncul ketika perempuan asal Jember ini masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Dorongan tersebut salah satunya datang dari orang tua. Ketertarikannya untuk menempuh pendidikan di Timur Tengah juga semakin kuat setelah mendapatkan cerita dari sang paman yang pernah berkuliah di Yaman.

Saat masih berada di pondok pesantren di Gresik, Labibah mulai mencari informasi mengenai berbagai persyaratan untuk melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah. Setelah lulus SMA, ia diwajibkan menjalani masa pengabdian selama satu tahun.

Di tengah masa pengabdian tersebut, Labibah juga mulai melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) dengan mengambil program studi Hukum Ekonomi Syariah.

Sambil menjalani kuliah dan pengabdian, ia bersama keluarga tetap mempertimbangkan rencana untuk melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah.

Awalnya, Yaman menjadi pilihan. Namun, setelah berdiskusi dengan orang tua, pilihannya kemudian beralih ke Mesir.

Pada 2024, Labibah mencoba mengikuti seleksi keberangkatan ke Mesir melalui jalur Kementerian Agama. Seleksi tersebut ternyata tidak berjalan mudah.

Ia menghadapi berbagai kendala teknis, mulai dari perangkat yang bermasalah saat tes hingga persoalan ketika mengerjakan ujian tulis.

Setelah menyelesaikan ujian selama kurang lebih dua jam, sistem justru kembali ke pengaturan awal sehingga hasil pengerjaannya tidak tersimpan sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, nama Labibah tidak tercantum dalam daftar peserta yang lolos.

Kegagalan tersebut sempat membuatnya terpuruk. Namun, Labibah tidak berhenti melanjutkan pendidikan di UNKAFA. Sambil tetap menjalani perkuliahan, keinginannya untuk mencoba kembali justru semakin tumbuh.

“Waktu itu setelah nggak lolos, ya sempat terpuruk. Wajar sebagai manusia. Mungkin waktu itu saya berpikir memang takdirnya harus kuliah di sini. Tapi beberapa bulan setelah tes, saya mulai kepikiran, kenapa saya harus menyerah? Harusnya saya berjuang mati-matian. Dari situ akhirnya saya memutuskan untuk mencoba lagi,” tuturnya.

Kesempatan kedua datang pada 2025, ketika pendaftaran kembali dibuka. Saat itu, Labibah telah memasuki semester empat di UNKAFA. Dengan dukungan orang tua, ia kembali memberanikan diri mengikuti proses seleksi.

Kali ini, proses seleksi harus dilalui dalam beberapa tahap. Setelah mengikuti tes secara daring, Labibah melanjutkan ke tahap wawancara yang mencakup wawasan kebangsaan, Bahasa Arab, Al-Qur'an, dan beberapa materi lainnya. Seleksi tersebut berlangsung di UIN Surabaya (UINSA)

Ia kemudian mengikuti tes penentuan level bahasa yg diuji langsung oleh pihak Al Azhar untuk menentukan tingkat kemampuan bahasa yang dimiliki. 

Setelah melewati berbagai tahapan dan persiapan, Labibah akhirnya berhasil lolos dan resmi menjadi mahasiswa Al -Azhar di program studi Syariah Islamiah. Ia kemudian berangkat ke Mesir dan tiba pada 17 Desember.

Keberangkatannya sempat tertunda karena proses visa yang lambat, sehingga ia tiba beberapa bulan setelah perkuliahan semester pertama di Al-Azhar dimulai.

Kini, Labibah telah memasuki semester tiga dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa Al-Azhar. Lingkungan akademik yang baru membuatnya harus kembali beradaptasi, baik dengan sistem pendidikan maupun budaya masyarakat Mesir.

Salah satu hal yang cukup mengejutkannya adalah sistem administrasi yang masih banyak dilakukan secara manual. Sejumlah proses mengharuskannya datang dan mengantre secara langsung, bahkan dapat berlangsung sejak sebelum Subuh hingga sore hari.

Perbedaan budaya juga menjadi tantangan tersendiri. Gaya komunikasi masyarakat Mesir yang lebih ekspresif dengan intonasi suara tinggi sempat membuatnya mengalami culture shock.

“Culture shock pasti ada. Orang Mesir itu kalau berbicara memang nadanya tinggi dan kadang terlihat seperti marah-marah, sedangkan saya sebagai orang Indonesia awalnya cukup kaget. Di sini juga mahasiswa sangat banyak dan beberapa sistem masih manual, jadi harus terbiasa mengantre dan mengurus semuanya sendiri. Tapi dari situ saya belajar bahwa kuliah di luar negeri bukan cuma soal belajar di kelas, tapi juga belajar beradaptasi dengan budaya dan sistem yang berbeda,” jelasnya.

Menjadi mahasiswa Al-Azhar juga menuntut kesadaran pribadi yang tinggi. Sistem perkuliahan di sana tidak menerapkan absensi seperti yang umum ditemukan di perguruan tinggi Indonesia.

Mahasiswa dituntut memiliki kesadaran sendiri untuk menghadiri perkuliahan dan bertanggung jawab terhadap konsekuensi akademiknya.

Bagi Labibah , keberadaannya di Al-Azhar bukan sekadar pencapaian untuk mendapatkan gelar. Ia ingin kesempatan belajar di Mesir menjadi jalan untuk memperdalam ilmu sekaligus mempersiapkan diri agar kelak dapat memberikan manfaat kepada orang lain.

“Harapan utama saya sebenarnya ingin memberantas kebodohan dari diri sendiri dulu, karena saya merasa ilmu agama saya masih kurang. Setelah itu, kalau saya sudah punya ilmu, saya ingin bisa menyebarkan apa yang saya punya kepada orang lain. Jadi saya tidak ingin ilmu yang saya dapat selama di Al-Azhar hanya berhenti di diri saya sendiri,” akhirnya. (nuril baiti amiliah)

Editor : Ali Mustofa
mengejar impian mahasiswi al-azhar mesir Luar negeri