Mengajar telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian Dian Mayang Sari (27). Dari ruang kelas hingga kegiatan les, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mendampingi anak-anak belajar.
Kesibukan tersebut telah ia jalani sejak sebelum duduk di bangku perguruan tinggi dan terus berlanjut hingga sekarang.
Saat ini, aktivitas dian tidak jauh dari dunia mengajar. Pada pagi hingga siang hari, ia mengajar, kemudian melanjutkan kegiatannya dengan memberikan les kepada anak-anak.
Rutinitas yang cukup padat tersebut menjadi keseharian yang ia jalani dengan penuh tanggung jawab.
Bagi Dian mengajar bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu. Ia menjadikan kegiatan tersebut sebagai prioritas karena ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak yang didampinginya.
"Saya ingin bisa memberikan yang terbaik buat anak-anak yang saya ajar," ujarnya.
Ketertarikannya terhadap dunia pendidikan bermula setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Ia kemudian memutuskan pergi ke Pare untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris selama kurang lebih enam bulan.
Setelah menyelesaikan kursus, tidak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Ia memilih untuk mengajar di Pare selama lebih dari satu tahun. Pengalaman tersebut semakin memperkenalkannya pada dunia pendidikan dan membuatnya merasa nyaman menjalani aktivitas sebagai pengajar.
Pada 2021, ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi dengan mengambil jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di UIN Walisongo.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, ia tetap mempertahankan aktivitas mengajar hingga menyelesaikan kuliahnya.
Menjalani kuliah sekaligus bekerja sebagai pengajar membuatnya terbiasa dengan rutinitas yang padat.
Wanita asal Sapudi Madura ini harus membagi waktu antara pendidikan dan pekerjaan, sekaligus memastikan keduanya tetap berjalan dengan baik.
Bagi Dian, salah satu pengalaman paling berkesan selama menjadi pengajar adalah ketika melihat perkembangan anak-anak yang didampinginya. Perubahan yang terjadi secara perlahan menjadi sumber kebahagiaan tersendiri.
Baca Juga: Mengenal Ni'matul Maula Al Rasyidah : Dari Rajutan Masa Kecil hingga Menjadi Karya yang Dipercaya
"Rasanya senang dan bangga ketika apa yang kita ajarkan ternyata bisa mereka pahami dan terapkan," tuturnya.
Menurutnya, setiap anak memiliki karakter dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, mengajar juga menuntut kesabaran dan kemampuan untuk memahami kebutuhan masing-masing anak.
Di balik pengalaman menyenangkan tersebut, tetap ada tantangan yang harus dihadapi.
Aktivitas mengajar dari pagi hingga siang yang kemudian dilanjutkan dengan memberikan les terkadang membuatnya merasa lelah dan jenuh.
Dalam kondisi tersebut, dian berusaha menyiasatinya dengan mengatur waktu sebaik mungkin dan memberikan kesempatan kepada dirinya untuk beristirahat. Ia juga berusaha tidak memaksakan diri ketika kondisi tubuh dan pikirannya membutuhkan jeda.
Dari rutinitas tersebut, ia justru memperoleh banyak pelajaran. Mengajar membuatnya belajar mengatur waktu, menjadi lebih sabar, dan memahami arti tanggung jawab.
Ketika rasa lelah atau jenuh muncul, perkembangan anak-anak yang didampinginya menjadi salah satu alasan untuk kembali bersemangat.
Melihat mereka memahami sesuatu yang sebelumnya belum mereka kuasai menjadi kepuasan tersendiri baginya.
Hal tersebut pula yang membuatnya tetap memilih dunia pendidikan hingga saat ini.
Ke depan, Dian berharap dapat terus berkembang sebagai seorang pengajar. Ia ingin menambah pengalaman, meningkatkan kemampuan, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi anak-anak yang ia ajar.
Selain itu, ia juga memiliki harapan untuk memperoleh karier yang lebih stabil dan mewujudkan berbagai target pribadi yang selama ini ingin dicapai. (nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa