Mengenal Siti Nurjannah, Mahasiswi dan Santri yang Merintis Bisnis Buket di Tengah Padatnya Aktivitas Kuliah dan Berorganisasi

uinbroadcasting • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 12:16 WIB
Siti Nurjannah (doc. pribadi)
Siti Nurjannah (doc. pribadi)

RADAR KUDUS - Bagi Siti Nurjannah (19), menjadi mahasiswi aktif, anak organisasi, sekaligus santri yang mukim di pondok adalah paket kesibukan harian yang tak bisa ditawar.

Dari jam kuliah, rapat organisasi, hingga rutinitas mengaji dan kegiatan pesantren, harinya diisi jadwal yang padat.

Namun, di tengah kepungan rutinitas itu, mahasiswa asal Pati ini masih menyelipkan satu peran lagi, yaitu menjadi seorang perintis small business buket bunga.

Langkah ini bermula saat liburan semester dua. Di tengah rasa bosan mengisi waktu luang, terlintas ide untuk coba-coba membuat buket. Keterbatasan ruang gerak karena tidak memiliki sepeda motor di Semarang dan terikat aturan pondok yang tak seleluasa anak kos membuatnya tak bisa mengambil kerja paruh waktu di luar.

"Sebenarnya awal mula aku kepikiran buat bikin bisnis buket itu karena di liburan semester dua aku gabut banget. Tapi memang sudah ada niatan pengin bikin, mengingat aku di Semarang nggak ada motor dan anak pondok yang nggak seleluasa anak kos buat nyari uang jajan tambahan. Akhirnya aku coba-coba bikin buket otodidak, bikin katalognya, dan lanjut sampai sekarang," kenangnya.

Menjalani banyak peran sekaligus menuntut Jannah paham betul mana yang harus didahulukan. Ujian terberatnya datang ketika pekan Ujian Akhir Semester (UAS) di UIN Walisongo.

Sebagai mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), ketika UAS ia harus mengerjakan banyak tugas proyek. Kondisi tersebut juga berbenturan dengan agenda organisasi dan gelombang sidang munaqosah para seniornya.

Ditambah lagi, Jannah memegang posisi sebagai asisten produser di Walisongo TV. Ia tak tega membiarkan produsernya berjuang sendirian di lapangan. Di saat yang sama, pesanan buket dadakan membludak dari para pembeli yang membutuhkan buket dalam waktu cepat.

Baca Juga: Dari Dapur Rumah, Linda Siswati Bangun Usaha Catering untuk Ekspatriat dan Pesanan Kantor

"Kemarin itu UAS banyak proyek, organisasi ada produksian yang mana aku sebagai asisten produser harus selalu mendampingi produser. Aku kasihan kalau dia sendiri. Terus pesanan dadakan juga banyak banget karena kating-kating pada munaqosah.

"Kalau seandainya barengan, besok ada tiga pesanan tapi ada deadline UAS, ya kunci utamanya tahu skala prioritas dan manajemen waktu. Pagi kalau lagi nggak ngapa-ngapain ngerjain UAS dulu, nanti siang, sore, atau malamnya baru lanjut ngerjain buket biar kepegang semuanya," jelasnya.

Menariknya, dinamika di organisasi kampus justru menjadi tempat melatih kemampuan bisnisnya. Pengalaman berinteraksi dengan berbagai karakter di organisasi membuatnya tidak kaget saat menghadapi karakter pembeli yang bermacam-macam.

"Skill organisasi yang kepake banget itu cara komunikasi yang baik sama customer. Di organisasi kan karakter orang beda-beda, jadi kita punya gambaran gimana menghadapi customer yang agak rewel. Terus yang paling penting itu relasi. Dari relasi organisasi, banyak orang-orang yang kita kenal akhirnya pesan buket di aku," ungkapnya.

Mengingat penjual buket di area kampus cukup marak, Jannah sadar betul pentingnya terus melakukan rebranding dan mengikuti tren agar usahanya tetap bertahan dan omzetnya terus meningkat.

Meski begitu, ia tetap memiliki porsi mimpinya. Bisnis buket ini tidak lantas membuatnya lupa pada cita-cita utamanya.

"Harapan besarnya semoga bisnis buket ini tetap jalan, stabil, dan omzetnya naik terus. Tapi kalau jujur soal karier impian masa depan, bukan jualan buket ini sih. Tapi kalau someday Allah memberi kesempatan, aku pengin punya small business ini sebagai pendapatan sampingan saja di kehidupan aku nanti," tutupnya.

(Nuril Baiti Amiliah)

Editor : Mahendra Aditya
Siti Nurjannah mahasiswi Santri bisnis buket