RADAR KUDUS - Di balik setiap kotak makanan yang tersusun rapi, ada proses panjang yang dimulai dari dapur rumah.
Bagi Linda Siswati (42), memasak yang semula menjadi bagian dari keseharian perlahan berubah menjadi sebuah usaha catering yang melayani kebutuhan makan siang para ekspatriat hingga berbagai pesanan makanan lainnya.
Usaha tersebut bermula ketika suaminya menawarkan kesempatan kepada Linda untuk memasak bagi para ekspatriat atau warga negara asing (WNA).
Tanpa menyangka akan berkembang menjadi sebuah usaha, ibu rumah tangga ini mencoba memenuhi permintaan tersebut dengan masakan rumahan yang dibuatnya.
Ternyata, masakannya mendapat respons positif.
Para ekspatriat yang mencicipi masakannya merasa cocok dengan cita rasa yang disajikan. Dari rekomendasi tersebut, ia kemudian mendapat kesempatan untuk memasak menu makan siang bagi para ekspatriat di sebuah kantor.
Namun, kesempatan tersebut tidak langsung diberikan begitu saja. Ia harus melewati proses tes dari pihak administrasi kantor yang meliputi rasa makanan, kemasan, hingga harga.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bernyanyi: Perjalanan Stevi Menemukan Diri Lewat Musik
Kesempatan itu menjadi titik awal Linda menjalankan usaha catering makan siang untuk kantor. Seiring berjalannya waktu, usahanya tidak hanya melayani menu makan siang, tetapi juga menerima pesanan nasi box, jajanan, hingga puding.
Dari dapur rumah, aktivitas memasak yang sebelumnya dilakukan untuk keluarga kemudian berkembang menjadi pekerjaan yang menuntut ketelitian dan manajemen waktu.
Menjalankan usaha sambil mengurus rumah tangga tentu bukan perkara mudah. Ada saat-saat ketika jumlah pesanan meningkat dan membuat waktu serta tenaga harus terbagi lebih banyak.
Linda mengaku bahwa salah satu tantangan yang dihadapi adalah mengatur waktu dan fokus antara catering dengan urusan rumah tangga. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya memilih salah satu dan meninggalkan yang lain.
Ia berusaha mengatur waktu agar keduanya tetap berjalan beriringan.
Ketika pesanan sedang banyak dan membutuhkan tenaga tambahan, ia tidak selalu mengerjakannya seorang diri. Putrinya menjadi salah satu orang yang ikut membantu, terutama dalam proses pengemasan. Jika jumlah pesanan masih membutuhkan tenaga lebih banyak, ia memilih mempekerjakan orang untuk membantu menyelesaikan pekerjaan.
Bagi wanita asal Semarang ini, keterlibatan anak dalam usaha bukan hanya sekadar bantuan untuk menyelesaikan pekerjaan. Ada pengetahuan yang ikut diturunkan melalui aktivitas tersebut.
Putrinya belajar mengenai bagaimana mengatur waktu, mulai dari memastikan masakan selesai pada waktu tertentu, melakukan packing, hingga mengirim pesanan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Lebih dari itu, aktivitas di dapur juga menjadi ruang belajar mengenai makanan. Putrinya diajarkan mengenali menu dan bahan yang dibutuhkan, memilih bahan makanan yang tepat, hingga menghitung harga agar tetap terjangkau namun sesuai dengan harga jual.
Dengan demikian, usaha catering tersebut tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga menjadi tempat bagi anak untuk mempelajari keterampilan yang mungkin tidak didapatkan melalui pembelajaran formal.
Salah satu kebahagiaan terbesar yang Linda rasakan dalam menjalankan usaha datang ketika pesanan mulai berdatangan dan pembayaran diterima. Ada kepuasan tersendiri ketika hasil masakannya mendapat apresiasi dari pelanggan.
"Senang rasanya bisa berkreasi dalam bentuk makanan yang enak serta mendapat apresiasi dan feedback positif dari customer," ungkapnya.
Kepuasan tersebut menjadi salah satu alasan untuk terus menjalankan usaha. Setiap pesanan tidak hanya dipandang sebagai pemasukan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk berkreasi melalui makanan dan mempertahankan kepercayaan pelanggan.
Meski telah berjalan dan memiliki pelanggan, Linda tidak melihat usahanya sebagai sesuatu yang sudah selesai. Ia masih memiliki keinginan untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan memasaknya.
"Harapan saya adalah supaya usaha kecil ini tetap berjalan dengan baik, semakin berkembang serta kualitas tetap terjaga. Saya juga berharap ilmu dan pengetahuan saya tentang memasak bisa semakin bertambah supaya menu yang saya tampilkan semakin bervariasi," ujarnya.
(Nuril Baiti Amiliah)
Editor : Mahendra Aditya