Mengenal Ni'matul Maula Al Rasyidah, Mahasiswa Farmasi Undip Tekuni Hobi Merajut, Berawal dari Belajar Bersama Ibu Saat SD

uinbroadcasting • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 12:09 WIB
Ni
Ni'matul Maula  Al Rasyidah (doc. pribadi)

RADAR KUDUS – Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa Farmasi Universitas Diponegoro, Ni'matul Maula Al Rasyidah (20) memiliki cara tersendiri untuk mengisi waktu luangnya.

Ketika kegiatan perkuliahan sedang tidak padat, benang dan jarum rajut menjadi teman yang menemaninya menghabiskan waktu.

Saat libur semester, misalnya, hari-harinya diisi dengan kegiatan magang di puskesmas dari Senin hingga Sabtu. Setelah menyelesaikan aktivitas magang, ia biasanya kembali menghabiskan waktu dengan merajut. Sementara itu, hari Minggu digunakan untuk berjalan-jalan bersama keluarga. Kebiasaan tersebut telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.

Ketertarikan merajut perempuan yang akrab disapa Ida ini bermula ketika ia masih duduk di kelas tiga sekolah dasar.

Saat itu, ia melihat ibunya sedang merajut dan meminta untuk diajari. Neneknya kemudian turut membantu mengajarinya. Namun, proses belajar tidak langsung berjalan mulus.

Proyek pertamanya berupa sebuah syal justru tidak pernah selesai. Ida mengaku sempat merasa kesulitan karena hasil rajutannya tidak kunjung bertambah.

Alih-alih terus memaksakan diri, ia kemudian mencoba membuat benda-benda yang lebih kecil, seperti pembatas buku, bunga, kuncir rambut, hingga bandana. Perlahan, kemampuannya berkembang. Ia mulai mampu membuat pakaian untuk boneka, termasuk dress.

Meski demikian, aktivitas merajut tersebut kembali berhenti ketika ia memasuki akhir masa sekolah dasar hingga SMP.

Kecintaannya terhadap rajutan baru kembali muncul ketika duduk di bangku SMA. Saat menemukan sebuah buku tutorial merajut di perpustakaan, ia meminjamnya dan kembali belajar secara mandiri.

Dari buku tersebut, Ida menemukan bahwa merajut tidak hanya tentang menggerakkan benang dan jarum. Ada berbagai teknik tusukan, simbol, hingga singkatan yang digunakan dalam pola rajutan.

Pengetahuan tersebut membuatnya mampu memahami pola melalui gambar maupun rumus rajutan. Sejak saat itu, kemampuannya semakin berkembang dan jenis benda yang dibuatnya pun semakin beragam.

Tas, pouch, amigurumi, cardigan, hingga pakaian mulai dibuatnya sendiri.

Kegiatan yang awalnya hanya dilakukan untuk mengisi waktu luang perlahan mendapat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Sejumlah teman mulai mempercayakan pesanan kepadanya.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika seorang temannya meminta dibuatkan amigurumi berbentuk idol. Saat itu, Ida sebenarnya belum pernah membuat amigurumi berbentuk manusia lengkap dengan berbagai detail kecilnya.

Ada rasa khawatir hasilnya tidak sesuai harapan. Namun, rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba membuatnya menerima tantangan tersebut.

"Takut nggak sesuai dan takut mengecewakan. Tapi seru dan semangat karena merasa tertantang mencoba merajut sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya," tuturnya.

Hasilnya ternyata di luar kekhawatiran. Setelah selesai, baik dirinya maupun pemesan merasa puas dengan hasil karya tersebut.

Pesanan itu bahkan kemudian membuka peluang baru karena teman lain ikut tertarik untuk memesan.

Selain amigurumi, ia juga pernah menerima pesanan tas selempang dari keluarganya. Meski sudah menerima beberapa pesanan, Ida belum menjadikan rajutan sebagai bisnis yang sepenuhnya terstruktur.

Ia belum membuka sistem pre-order secara rutin maupun menyetok produk untuk dijual. Selama ini, pesanan datang dari orang-orang yang memang sudah mengenal kemampuannya.

Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Kesibukan perkuliahan membuatnya khawatir tidak mampu memenuhi pesanan jika jumlahnya terlalu banyak.

Baca Juga: Mengenal Aliva Briliana Aulia : Delapan Kali Ditolak PTN, Belajar Tumbuh di Jalan yang Tak Pernah Direncanakan

Ia memilih untuk tetap menerima pesanan dalam skala kecil agar dapat memastikan setiap karya diselesaikan dengan baik. Padahal, pengalaman menghadapi banyak pesanan bukanlah sesuatu yang asing baginya.

Saat SMA, ia pernah membuka jasa jahit dan bahkan sempat mengalami masa ketika pesanan datang hampir setiap hari. Ketika masih tinggal di pondok, keterbatasan untuk keluar membuat jasa tersebut cukup dibutuhkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Mulai dari mengecilkan pakaian hingga memperbaiki pakaian yang robek menjadi beberapa jenis layanan yang ditawarkannya. Kini, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjangnya dalam mengembangkan keterampilan tangan.

Namun, di tengah berbagai kegiatan tersebut, pendidikan tetap menjadi prioritas utama.

Sebagai mahasiswa Farmasi, waktunya banyak dihabiskan untuk kuliah, praktikum, mengerjakan laporan praktikum, belajar bersama, hingga mengikuti kepanitiaan.

Merajut biasanya baru kembali dilakukan ketika memiliki waktu luang beberapa hari dan tidak ada tanggungan akademik.

Ke depan, ia ingin tetap menjalankan hobinya dengan lebih serius, meskipun dalam skala kecil. Ia ingin rajutan tetap menjadi bagian dari kehidupannya tanpa mengganggu pendidikan dan rencana karier yang sedang dibangun.

Ida memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang profesi dan bekerja di bidang pelayanan.

Saat ini, ia masih mempertimbangkan berbagai kemungkinan, mulai dari rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga apotek. Pengalaman magang di puskesmas selama liburan menjadi salah satu langkah awal untuk mengenal dunia pelayanan secara langsung.

Bagi Ida, masa depan memang belum sepenuhnya memiliki bentuk yang pasti. Ia masih ingin mencoba berbagai pengalaman untuk mengetahui bidang mana yang paling sesuai dengannya.

Sementara itu, rajutan akan tetap berjalan di samping perjalanan akademiknya.

(Nuril Baiti Amiliah)

Editor : Mahendra Aditya
merajut mahasiswi kerajinan tangan Universitas Diponegoro Undip