Bagi sebagian calon mahasiswa, diterima di perguruan tinggi negeri (PTN) impian menjadi tujuan yang ingin dicapai setelah bertahun-tahun belajar.
Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari mengikuti bimbingan belajar hingga menghabiskan waktu mengerjakan soal-soal latihan.
Namun, tidak semua perjuangan berakhir pada kampus yang diimpikan.Begitu pula perjalanan Aliva Briliana Aulia (20).
Sebelum menjadi mahasiswa di UIN Walisongo, ia telah mempersiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya.
Saat masih mondok, mahasiswa asal Pekalongan ini menyempatkan diri belajar di sela-sela padatnya kegiatan pesantren.
Buku-buku latihan menjadi teman yang terus dibawa untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan masa mondok, persiapan Aliva berlanjut dengan mengikuti les untuk menghadapi Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).
Waktu yang ada dimanfaatkan untuk belajar dan mengerjakan berbagai soal latihan, meskipun ia menyadari kemampuannya saat itu masih jauh dari kata sempurna.
"Saya mencoba mengerjakannya semampu saya," ujarnya.
Perjalanan menuju PTN impian ternyata tidak berjalan mudah. Setelah dinyatakan tidak lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Aliva mencoba berbagai jalur lain. Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) hingga sejumlah seleksi mandiri di beberapa universitas ditempuh.
Bahkan, aliva kembali mengikuti UTBK pada tahun berikutnya. namun, harapan untuk mengenakan almamater kampus impian kembali harus tertunda.
Jika dihitung, ia telah mengalami sekitar delapan kali penolakan dari berbagai jalur masuk perguruan tinggi.
Di balik setiap pengumuman, ada kecemasan yang tidak selalu terlihat. Ia masih mengingat bagaimana dirinya menunggu ucapan selamat yang tak kunjung muncul di layar.
Perasaan tersebut membuat perjuangannya menuju kampus impian menjadi pengalaman yang tidak mudah dilupakan.
"Saya sempat bertanya-tanya, kenapa saya tidak bisa mendapatkan PTN yang saya impikan?"katanya.
Meski demikian, aliva juga menyadari bahwa perjuangannya mungkin belum sepenuhnya maksimal. Kesadaran tersebut tidak serta-merta menghilangkan rasa kecewa.
Setelah memutuskan untuk kembali mengikuti UTBK pada tahun kedua, ia akhirnya harus menerima kenyataan bahwa rezekinya bukan berada di PTN yang selama ini diimpikan.
Memasuki UIN Walisongo dan mengambil program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) baginya tidak langsung menjadi awal yang mudah.
Selama tahun pertama, ia mengaku masih merasa berat hati. Ada perasaan tidak ikhlas karena kampus tersebut bukan bagian dari rencana awalnya. namun, sebuah pesan perlahan mengubah cara pandangnya.
"Di mana pun kamu berada, kamu akan tetap bisa bertumbuh."
Pesaan tersebut menjadi titik awal baginya untuk mencoba menerima keadaan. Ia mulai menekuni kehidupan di kampus yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam rencananya.
Alih-alih terus membandingkan tempatnya sekarang dengan kampus impian, aliva memilih mencari ruang untuk berkembang.
Dua tahun menjalani perkuliahan membuat pandangannya berubah. Ia mulai menyadari bahwa dunia jauh lebih luas daripada sekadar kampus yang dahulu ingin dimasukinya.
Aliva pun mulai mencoba menekuni berbagai hal yang menjadi minatnya dan melihat bagaimana setiap orang memiliki jalannya masing-masing untuk tumbuh.
Dari sana, ia perlahan menyadari bahwa takdir yang sempat dianggap sebagai kegagalan ternyata tidak seburuk yang dibayangkan.
"Saya melihat banyak anak yang tumbuh dan berkembang melalui jalannya masing-masing, dan saya berharap kelak saya bisa melakukannya,"tuturnya.
Bagi aliva kegagalan akhirnya tidak lagi sekadar berarti sebuah penolakan. Delapan kali kegagalan dalam upayanya memasuki PTN menjadi pengalaman yang membuatnya belajar menerima hal-hal yang berada di luar kendalinya.
Ia kemudian menemukan sebuah kalimat yang menjadi pegangannya yaitu "Habiskan jatah gagalmu." Baginya, mengakui kegagalan bukan sesuatu yang memalukan.
Justru melalui kegagalan tersebut, seseorang dapat memperoleh pengalaman yang mungkin tidak akan didapatkan jika semua hal berjalan sesuai rencanaperrjalanan Aliva membuktikan bahwa tidak semua jalan menuju masa depan harus dimulai dari tempat yang kita inginkan. (nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa