Mengenal Erika Putri Amanda, Aktifkan Kegiatan Masyarakat di Desa Srikandang Lewat Karang Taruna Srikandi

Fikri Thoharudin • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 19:29 WIB
Erika Putri Amanda. (Doc. Pribadi)
Erika Putri Amanda. (Doc. Pribadi)

RADAR KUDUS - MENYELESAIKAN pendidikan di bangku kuliah bukan menjadi akhir bagi Erika Putri Amanda Reta untuk terus berkontribusi. 

Perempuan asal Desa Srikandang, Kecamatan Bangsri, Jepara, ini justru membawa semangat yang diperolehnya selama menempuh pendidikan, untuk kembali membangun lingkungan tempat tinggalnya.

Erika, yang akrab disapa Manda, baru saja menyelesaikan pendidikan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang. 

Ia menuntaskan kuliahnya pada Juni 2025, dengan masa studi sekitar 3,7 tahun.

Kini, salah satu perjuangan yang menjadi perhatiannya ialah menghidupkan kembali semangat pemuda di Desa Srikandang. 

Manda, bersama pemuda setempat berupaya membangun kembali Karang Taruna Srikandi yang vakum.

Bagi Manda, Karang Taruna bukan sekadar organisasi kepemudaan. Lebih dari itu, wadah tersebut diharapkan menjadi ruang bagi pemuda untuk berkumpul, berkreasi, berkomunikasi, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Yang sedang diperjuangkan adalah menghidupkan kembali semangat pemuda di desa agar lebih aktif, kompak, dan memiliki kegiatan yang positif,” ujarnya, Kamis (13/8).

Langkah tersebut diawali dengan mengajak para pemuda berkumpul dan berdiskusi. Mereka kemudian menyusun berbagai kegiatan yang dapat melibatkan pemuda sekaligus masyarakat.

Salah satu langkah besar yang telah dilakukan adalah menyelenggarakan Festival Tongtek. Kegiatan tersebut menjadi program besar pertama setelah Karang Taruna kembali aktif.

Dalam pelaksanaannya, pemuda dari berbagai RW tidak hanya ditempatkan sebagai peserta. Mereka juga dilibatkan sejak proses persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.

Bagi Manda, kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa ketika pemuda diberikan ruang dan kesempatan, mereka mampu menghasilkan kegiatan yang kreatif, besar, dan bermanfaat bagi desa.

Manda mengaku prihatin ketika melihat pemuda tidak memiliki cukup ruang untuk berkegiatan bersama. Saat Karang Taruna vakum, komunikasi antarpemuda juga menjadi kurang aktif.

Karena itu, ia ingin menghadirkan kegiatan yang mampu menjadi ruang berkumpul sekaligus mendorong lahirnya berbagai aktivitas positif.

Pihaknya tak ingin Karang Taruna hanya aktif ketika terdapat acara besar. Namun rutin mengadakan kegiatan yang positif.

Selain kegiatan seni seperti Festival Tongtek, sejumlah bidang juga ingin dikembangkan, mulai dari olahraga, sosial, lingkungan, UMKM hingga kegiatan kreatif lainnya.

Dalam menghadapi persoalan sosial, Manda memilih pendekatan komunikasi dan kolaborasi.

Ia berusaha mendengarkan terlebih dahulu persoalan yang muncul, kemudian mengajak pihak-pihak terkait berdiskusi untuk mencari jalan keluar bersama.

Menurutnya, persoalan sosial tidak dapat diselesaikan oleh satu orang. Dibutuhkan komunikasi, kerja sama, dan kemauan untuk mencari solusi.

Melalui Karang Taruna Srikandi, kegiatan bersama juga diharapkan dapat menjadi sarana mempererat hubungan antarwarga.

Perempuan kelahiran 2 Agustus 2003 ini merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. 

Di tengah kesibukannya, ia memiliki hobi travelling. Namun, kini perhatian besarnya diarahkan pada bagaimana pemuda di desanya dapat kembali aktif dan memiliki ruang untuk berkembang.

Bagi Manda, menyelesaikan pendidikan bukan berarti berhenti belajar dan berkontribusi. Justru setelah menyelesaikan perjalanan di kampus, ia ingin membawa semangat tersebut pulang ke desa.

"Semangat pemuda yang mulai tumbuh dapat terus dijaga dan berkembang menjadi gerakan bersama," katanya.

Desa yang hidup, sambungnya, bukan hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui pemuda yang mau bergerak, berkarya, dan hadir untuk masyarakat.

“Di samping aktif di Karang Taruna, saya juga memiliki kesibukan dalam pekerjaan. Jadi, memang tidak selalu mudah membagi waktu antara pekerjaan dan kegiatan organisasi. Namun, saya berusaha mengatur waktu sebaik mungkin,” ucapnya.

Menurutnya, selama ada komunikasi dan kerja sama yang baik, kesibukan bukan menjadi alasan untuk tidak berkontribusi. 

“Justru dari sini saya belajar bagaimana membagi waktu, bertanggung jawab, dan tetap memberikan yang terbaik untuk kegiatan Karang Taruna Srikandi,” katanya.

Sebagai perempuan, Manda ingin berkontribusi dan mengambil peran di lingkungan masyarakat. 

Menjadi perempuan yang berdaya bukan berarti harus selalu berada di depan, tetapi mampu memberikan manfaat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

“Saya berharap semakin banyak perempuan yang berani keluar dari zona nyaman, berani menyampaikan pendapat, dan ikut terlibat dalam kegiatan sosial maupun organisasi. Karang Taruna Srikandi yang mulai aktif kembali ini bisa menjadi ruang bagi perempuan dan pemuda untuk berkembang, belajar, serta saling mendukung,” jelasnya 

Ia juga memiliki cita-cita sederhana, yaitu terus berkembang, tetap produktif, dan bisa memberikan manfaat bagi orang lain. 

“Saya ingin membuktikan bahwa kesibukan bekerja bukan menjadi penghalang untuk tetap berkontribusi kepada masyarakat. Langkah kecil yang kami mulai hari ini bisa menjadi awal dari gerakan yang lebih besar. Menciptakan lingkungan yang lebih aktif, kompak, dan memberikan ruang bagi perempuan untuk berdaya,” pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
Karang Taruna Srikandi Pendidikan masyarakat desa berdaya pemuda kegiatan masyarakat