Mengenal Hilwa Rahma Hardiyanti, Juara Olimpiade Biologi, Raih IPK 3,90 dan Jadi Google Student Ambassador

uinbroadcasting • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 16:50 WIB
Hilwa Rahma Hardiyanti (dok. pribadi)
Hilwa Rahma Hardiyanti (dok. pribadi)
RADAR KUDUS - Berangkat dari latar belakang eksak sebagai juara olimpiade Biologi ketika SMA, Hilwa Rahma Hardiyanti (19)  justru mengambil keputusan berani saat menginjakkan kaki di perguruan tinggi. Mahasiswi asal kota Jakarta ini nekat melompat ke dunia sosial dengan memilih Program Studi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) di UIN Walisongo Semarang.

Langkah ini yang sempat dipertanyakan banyak orang itu terbukti membuahkan hasil manis. Tak hanya sukses mengamankan IPK 3.90, sosok yang akrab disapa Hilwa ini juga tumbuh sebagai mahasiswi yang sangat adaptif.

Namanya berkibar di berbagai ranah panggung publik, mulai dari dinobatkan sebagai Walisongo Campus Ambassador 2025, Google Student Ambassador, hingga dipercaya menjadi talent konten promosi PTKIN, dan menjajal  host live profesional.

Baca Juga: Mengenal Aulia Dinata Milati, Dari Iseng Hingga Tembus Grand Final di Miss Hijab Jawa Tengah

"Awalnya banyak yang heran, Kok dari IPA, pernah juara Biologi dan silat, mendadak belok ke BPI? Sebenarnya alasannya sederhana, dari dulu saya memang suka dunia sosial dan interaksi antarmanusia. Di BPI, saya bisa belajar memahami manusia lebih dalam, mengasah empati, sekaligus melatih kemampuan komunikasi," ungkapnya.

Dari sekian banyak pekerjaan di depan kamera yang ia lakukan, posisi sebagai host live diakuinya menjadi arena kerja paling mendebarkan sekaligus menggembleng mental. Di sana, tidak ada naskah kaku atau kesempatan retake.

Hilwa dituntut mampu melakukan improvisasi instan dari awal hingga akhir, sambil beradaptasi dengan respons penonton yang tidak dapat ditebak. Namun baginya, justru dari panggung live itulah ia mendapat kesempatan emas bertemu dan berjejaring dengan sosok-sosok inspiratif.

” jujur semua peran yang aku lakukan itu punya keunikan dan kesan tersendiri buat aku, tapi host live itu sangat dituntut bisa improvisasi secara instan , rasanya seru dan deg degan dan lewat pengalama host live ini aku ketemu sama orang hebat yang lluarbiasa menginspirasiku” ungkapnya

Baca Juga: Mengenal Mustikajati, Berawal dari Laptop Pemberian Kakak, Kini Aktif Berprestasi di Dunia Film

 Kendati portofolio karier, organisasi, dan akademiknya tampak sempurna. hilwa  menegaskan bahwa dirinya tetaplah manusia biasa. Ia mengaku pernah berada di titik terendah, merasa down,  bahkan sempat merasa tidak berguna.

Saat berada di fase kalut, ia memilih tidak mengisolasi diri. Keterbukaan untuk bertukar pikiran dengan teman terdekat menjadi caranya mengurai kerumitan emosi. Setelah itu, ia selalu melakukan mengembalikan fokus pikirannya pada tujuan utama hidup, yakni kebahagiaan dunia dan akhirat.

"Kegagalan-kegagalan kecil di dunia itu tidak boleh bikin kita berhenti melangkah. Justru itu jadi bahan bakar dan pengingat bahwa kegagalan memang bagian dari tangga menuju kesuksesan," tuturnya mantap.

Lantas, bagaimana ia menjaga kesehatan mental di tengah kepungan jadwal padat? Kuncinya ada pada kedisiplinan menyusun skala prioritas dan kehadiran penuh di setiap peran.

Menurutnya, membagi waktu bukan sekadar memadatkan agenda mingguan, melainkan juga harus pintar menyisipkan jeda agar performa di setiap peran tetap maksimal dan tidak berujung burnout.

Baca Juga: Bangun Privilage Sendiri: Kisah Ayu Lestari Menembus Keterbatasan Lewat Segudang prestasi

 Di balik gemerlap panggung ambassador dan kesibukan media digital, seluruh kerja keras mahasiswi berprestasi ini rupanya bermuara pada satu titik yang sangat personal: orang tua.

Bagi Hilwa, orang tua adalah support system sekaligus motivasi terbesarnya. Sebelum melangkah ke panggung mana pun, meluruskan niat, memohon doa kelancaran, dan mengantongi ridho orang tua menjadi fondasi wajib yang tak pernah ia lewatkan.

"Semua yang saya usahakan dan perjuangkan sampai hari ini, tujuan utamanya cuma satu: ingin membahagiakan dan membuat orang tua bangga. Selama niat di awal sudah lurus dan ridho orang tua sudah di tangan, melangkah ke kesibukan sehebat apa pun rasanya jauh lebih tenang," pungkasnya. (nuril baiti amiliah)

Editor : Mahendra Aditya
google student ambasador Hilwa Rahma Hardiyanti berprestasi uin walisongo semarang