Mengenal Mustikajati, Berawal dari Laptop Pemberian Kakak, Kini Aktif Berprestasi di Dunia Film

uinbroadcasting • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 16:46 WIB
Mustikajati (dok. pribadi)
Mustikajati (dok. pribadi)
RADAR KUDUS - Tumbuh dalam keluarga yang amat sederhana di Kabupaten Kendal tak pernah menyurutkan langkah Mustikajati (20) untuk terus bertumbuh. Sejak kecil, ia dibesarkan dengan satu nilai dasar dari orang tuanya: selalu berusaha menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Prinsip itulah yang belakangan menjelma menjadi dorongan kuat dalam dirinya untuk selalu unggul, bertanggung jawab, dan pantang menyia-nyiakan setiap kesempatan termasuk ketika dihadapkan pada keterbatasan ekonomi keluarga.

Perjalanan berani mahasiswi Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UIN Walisongo Semarang ini sejatinya bermula dari sebuah keputusan unik di masa sekolah. Di saat teman-teman sebayanya sibuk memiliki ponsel pintar (smartphone), tika  yang merasa tertinggal justru menolak dibelikan ponsel. Saat ada kebutuhan mendesak, ia memilih dibelikan sebuah laptop oleh sang kakak.

"Waktu itu alasannya sederhana, aku ingin beda. Aku mikir, kalau punya laptop, aku bisa mempelajari bidang lain yang orang lain belum bisa. Dan ternyata, bekal laptop dari kakak itulah yang menghantarkan aku sampai ke titik sekarang," kenangnya.

Rasa penasaran terhadap teknologi dan dunia kreatif terus membesar. Laptop tersebut digunakannya secara otodidak untuk mengulik berbagai perangkat lunak. Ketertarikan itu membawanya memilih jurusan Multimedia saat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), di mana ia memperdalam teknik desain, editing, videografi, fotografi, hingga produksi konten animasi.

Setamat SMK, jalan menuju bangku kuliah yang sempat dibayangi keraguan biaya akhirnya terbuka lebar. Kepastian mendapatkan beasiswa KIP Kuliah (KIP-K) serta dukungan penuh sang kakak yang bersikeras membiayai dan mendukungnya, menjadi alasan utama tika mantap melangkah ke UIN Walisongo. Beasiswa dan pengorbanan keluarganya itu ia jadikan sebagai bahan bakar tanggung jawab untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Awalnya bercita-cita mendalami bidang Public Relations, perjalanan kuliah justru membawanya makin jatuh cinta pada dunia sinematografi. Momen berharga itu berawal saat ia diajak mengikuti kompetisi videografi di Pekalongan dan berhasil menyabet Juara ke-dua.

Sejak saat itu, api semangatnya makin membara. Sederet prestasi berhasil disabetnya, termasuk Juara satu Videografi di Universitas Telkom Purwokerto, hingga membawa film pendek karyanya masuk ke berbagai nominasi ajang nasional.

Kini, di semester lima perkuliahannya, kiprah Tika makin membumi. Ia aktif di dalam tim produksi film independen, dipercaya menjadi penulis naskah atau script writer series di Walisongo TV, aktif di LPM Missi, hingga berkiprah di organisasi ke nu-an Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Cepiring.

Kendati sejak awal sudah memegang beasiswa KIP-K, panggung perjalanan kuliahnya tak lantas bebas dari cobaan. Momen paling berat dihantamnya saat memasuki semester dua, di mana dinamika ekonomi keluarga sempat membuatnya merasa bersalah dan khawatir menjadi beban.

"Waktu itu sempat ada hal yang bikin aku ngerasa jadi beban, sampai terbersit pikiran apa berhenti kuliah aja ya. Tapi kakak selalu meyakinkan, dan aku sadar menyerah bukan jalan keluar," tuturnya.

Untuk bertahan dan membantu kebutuhan kuliah harian, ia memutar otak dengan mencari penghasilan tambahan secara mandiri. Kegigihan itu membuktikannya tetap bertahan, menjaga prestasi akademik, dan terus produktif berkarya di dunia perfilman.

Bagi tika setiap piala, karya film pendek, dan capaian IPK tingginya hari ini bukanlah sekadar pembuktian diri, melainkan cara paling indah untuk membalas budi dan membuat orang tua serta kakaknya tersenyum bangga.

"Tantangan itu pasti selalu ada, tapi jalan keluar juga pasti ada selama kita mau berusaha dan tidak mudah menyerah. Melihat orang tua dan kakak ikut bangga dengan pencapaianku adalah kebahagiaan terbesar yang terus memotivasiku untuk berkembang," pungkasnya. (nuril baiti amiliah)

Editor : Mahendra Aditya
Mustikajati mahasiswi inspirashe laptop film