Tak Gentar Jalani Kuliah di Dua Kampus: Kisah Neneng Khaerunisa dan Amalan Penuntun Keberhasilan

uinbroadcasting • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 16:17 WIB
Neneng Khaerunisa (dok, Pribadi)
Neneng Khaerunisa (dok, Pribadi)

Kehidupan sebagai mahasiswa aktif di satu perguruan tinggi tentu sudah menyita banyak energi dan waktu.

Namun bagi Neneng Khaerunisa (21), mahasiswi asal kota Tangerang ini justru nekat memperluas batas kemampuannya.

Ia menempuh pendidikan di dua kampus sekaligus (double degree), yakni Program Studi Ilmu Politik di UIN Walisongo dan Program Studi Statistika di Institut Teknologi Statistika dan Bisnis Muhammadiyah Semarang (ITESA).

Tak sekadar kuliah, hari-harinya diwarnai dengan jadwal yang sangat padat. Rutinitasnya dimulai sejak pukul empat pagi di pondok pesantren untuk mengaji, berlanjut dengan jadwal kuliah luring di UIN Walisongo, lalu bertolak ke ITESA, hingga menuntaskan berbagai agenda organisasi di malam hari.

"Awalnya saya aktif di banyak kegiatan karena ingin mencari passion di masa golden time perkuliahan. Mulai dari HMI, ID Next Leader Jawa Tengah, komunitas debat LRD, hingga menjadi Duta FISIP. Namun, karena menjalani double degree, jadwal kuliah luring antar kampus sering bertabrakan," ungkap sosok yang akrab disapa Neneng ini.

Untuk menyiasati bentroknya jadwal, neneng harus pandai berkomunikasi dengan para dosen dan ketua program studi.

Di UIN, ia kerap berpindah dari satu paralel kelas ke kelas lain demi menyesuaikan jam kuliah agar seluruh kewajiban akademiknya tetap berjalan beriringan. 

Di balik rentetan prestasi yang berhasil ditorehkannya seperti Juara Debat Verde, Best Speaker Duta FISIP, hingga peserta Model United Nations (MUN) dan delegasi Sekolah Politik Jakarta.

Perempuan asal Tangerang ini menegaskan bahwa pencapaian tersebut tak lepas dari dukungan spiritual keluarga.

Baca Juga: Menengok Cerita Ainiyah: Lulus 3,5 Tahun, KKN di Arab Saudi Hingga Jadi Wisudawan Terbaik Jurusan MHU

Setiap kali ia berlaga dalam ajang kompetisi debat, kedua orang tuanya senantiasa menjalankan tirakat khusus. orang tua yang konsisten menunaikan shalat Tahajud, dan sang ayah memiliki amalan khusus seusai memimpin shalat berjamaah di masjid.

"Setiap kali saya berlomba, bapak tidak pernah langsung keluar dari masjid setelah mengimami shalat. Bapak bertahan di sajadah, membaca Al-Fatihah dan berdzikir hingga beratus-ratus kali. Amalan itu terus diulang secara konsisten sampai pengumuman pemenang perlombaan keluar," tuturnya haru.

Dukungan emosional dan spiritual itulah yang menjadi benteng pertahanannya saat berada di titik jenuh.

Orang tua neneng selalu mengingatkan sebuah kiasan: jika seseorang sudah terlanjur turun ke dalam sungai, ia tak boleh bergeming agar tidak tenggelam, melainkan harus terus berenang hingga mencapai tepi. 

Bagi mahasiswi kelahiran 2005 ini, semua kelelahan, tumpukan tugas, dan air mata yang mengiringi proses setiap kegiatannya bisa terbayar tuntas.

Seluruh pengalaman, jaringan, serta penghargaan yang ia raih menjadi investasi jangka panjang untuk masa depannya. 

"Semua kegiatan positif tidak akan pernah sia-sia. Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat hari ini, tetapi jika kita sudah memilih suatu jalan, kita harus bertanggung jawab untuk menyelesaikannya sampai akhir," akhirnya.(nuril baiti amiliah)

Editor : Ali Mustofa
double degree uin walisongo mahasiswi berprestasi debat