"Jika menginginkan sesuatu, tulis dan pajang di tempat yang sering kamu lihat. Biarkan alam bawah sadar yang bekerja.”
Kalimat sederhana yang dilontarkan salah seorang dosen di semester awal perkuliahan itu mendadak menancap kuat di benak Nur Iffatul Ainiyah.
Di tengah rasa semngat yang membara sebagai mahasiswa baru, ia nekat mengambil selembar kertas, menggoreskan tinta, dan menuliskan serangkaian daftar keinginan yang saat itu terasa terlalu muluk bagi dirinya sendiri.
Yaitu lulus cepat, jadi MC dan moderator kampus, hingga keinginan melangkah ke luar negeri.
Siapa sangka, coretan di atas kertas yang sempat terlupakan di tengah himpitan tugas, tanggung jawab organisasi, dan pengabdiannya di Ma'had Al-Jami'ah UIN Walisongo itu, menjadi perjalanan kehidupan yang dikabulkan oleh Sang Pencipta.
Mengawali kisah perkuliahannya dari rasa ragu, mahasiswa jurusan Manajemen Haji dan Umrah Uin walisongo ini kini telah memanen buah dari keberaniannya bermimpi.
Goresan Takdir di Sepanjang Jalan Pengabdian Jalan niya menuju kelulusan fast track 3,5 tahun sama sekali tak instan.
Ketertarikannya untuk lulus tanpa skripsi berawal dari impian masa mahasiswa baru.
Momen titik baliknya hadir saat ia menjadi volunteer acara manasik di Yogyakarta.
Keberaniannya mencoba memimpin bimbingan manasik perempuan berlanjut pada sebuah momen mengharukan yang diucapkan oleh salah satu jamaah.
"Mbak, tadi saat Mbak yang membimbing, saya merasa seperti sedang menginjakkan kaki di depan Ka'bah beneran," kenang salah satu seorang jemaah kala itu.
Kalimat sederhana itu menggetarkan dadanya, mengingat saat itu niya sendiri bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci.
Peristiwa itu seolah menjadi gema masa depan.
Saat berkesempatan mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata) Internasional di Arab Saudi, Niya menemukan sosok jemaah perempuan yang menjadi tour leader.
Dari ketertarikan mendalam tersebut, ia meramu riset unik berkeadilan gender bertajuk ”Perempuan sebagai Pembimbing Ibadah Umrah: Perspektif Gender dalam Manajemen Haji dan Umrah".
Riset itu berhasil menembus publikasi jurnal ilmiah bereputasi SINTA 3 sebagai pengganti skripsinya.
Meskipun kerap dihampiri bisikan raguapakah ia mampu menyelesaikan target riset di tengah minimnya referensi niya memilih terus bergerak secara konsisten.
Dosen pembimbingnya pun mengawal ketat melalui lini masa bimbingan hingga akhirnya sidang munaqosah dan wisuda bisa diresmikan tepat waktu.
Namun, di balik rentetan prestasi dan kesempatan terbang ke Makkah, ada babak emosional yang menguji kepasrahannya.
Di tengah kondisi ekonomi keluarga yang sedang terdampak efisiensi, mahasiswa asal jawa timur ini sempat berkecil hati untuk mengajukan diri dalam program KKN Internasional.
Ia enggan membebani kedua orang tuanya.
Di saat-saat ragu itu, sang ayah selalu menyelipkan bait kalimat yang menguatkan jiwanya setiap kali menelepon: "Nak, Allah tidak hanya mengundang orang yang mampu, tetapi Allah memampukan orang yang dipilih." kalimat bertuah itu menjadi kenyataan.
Usai menuntaskan piket jaga di pesantren pada suatu hari Minggu, sebuah notifikasi masuk di grup wali mahasiswa.
Tanpa diduga, orang tuanya secara diam-diam telah mendaftarkannya sebagai salah satu delegasi KKN ke Arab Saudi.
Haru tak membendung ruang dadanya keyakinan sang ayah membukakan pintu yang tak pernah ia sangka.
Selama mengabdi di Makkah, Niya menggarap sembilan program kerja, mulai dari mengajar di Sekolah Indonesia Makkah, aksi bersenang-senang dan pembersihan di Jabal Khandamah, hingga menjadi pembimbing umrah (muthowwifah) dan tour leader.
Baca Juga: Ogah Diam: Cara Aulia Memadatkan Masa Kuliah Lewat Deretan Kegiatan
Pengalaman mendampingi jemaah di Tanah Suci itu mempertegas keyakinannya bahwa perempuan memiliki ruang penuh untuk berdaya dan memimpin.
Buah Manis Penataan Waktu dan Mimpi yang Terjawab Menyeimbangkan peran antara kuliah, pengabdian pesantren, dan organisasi bukanlah perkara mudah.
Niya meramu strateginya lewat pemetaan prioritas: penting banget, penting, dan aman saja.
Ketika bertugas, ia selalu memastikan kuliah tetap berada di pijakan utama karena niat awalnya merantau adalah menuntut ilmu.
Puncaknya, seluruh kepasrahan dan kerja keras itu terbayar tuntas.
Tak hanya berhasil menyelesaikan studi 3,5 tahun lewat jalur jurnal SINTA 3, Niya juga dianugerahi predikat sebagai Wisudawan Berprestasi di jurusannya.
"Awalnya tidak menyangka karena merasa masih banyak yang lebih baik dari aku. Namun, takdir Allah mengamanahkan ini, dan menjadi jawaban dari daftar keinginan yang aku tulis di semester satu dulu," tuturnya penuh syukur.
Bagi Niya, seluruh yang ia pelajari di bangku kuliah kini terasa benar-benar hidup dan mewujud dalam tiap interaksinya bersama masyarakat luas.
Mengakhiri kisahnya, Niya menyitir sebuah pesan mendalam bagi siapa pun yang sedang ragu melangkah mengejar mimpi
"Jangan pernah takut dengan kata 'coba saja dulu' dalam berproses, meskipun di atas keraguan diri sendiri. Karena kita tidak pernah tahu sejauh mana kalimat itu membawa kita. Terkadang, orang lain justru lebih percaya kita bisa, ketimbang diri kita sendiri." Pungkasnya. (nuril baiti amiliah)
Editor : Ali Mustofa