Kudus Pati Jepara Karimunjawa Blora Grobogan Rembang Jateng Nasional Internasional Sportainment Otomotif Teknologi pedoman media siber Wisata Pendidikan Religi Lifestyle Kuliner Kesehatan Hobi Fashion Entertainment Ekonomi Inspirashe Feature Catatan

Berawal dari Sampah Plastik, Warga Kudus Ini Sukses Ubah Limbah Jadi Kerajinan Bernilai Jual

uinbroadcasting • Senin, 6 Juli 2026 | 14:28 WIB
Sri setuni pengerajin sampah plastik (ower seruni handmade)
Sri setuni pengerajin sampah plastik (ower seruni handmade)

KUDUS – Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik, kreativitas menjadi salah satu solusi yang mampu memberikan dampak bagi lingkungan sekaligus perekonomian.

Hal itulah yang dilakukan Sri Setuni, pemilik Seruni Handmade, yang mengolah limbah plastik menjadi berbagai produk kerajinan bernilai ekonomi di Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Usaha yang dirintis sejak 2012 ini berawal dari pembentukan bank sampah di lingkungan tempat tinggalnya.

Saat itu, hanya sampah seperti botol plastik, kardus, kertas, dan logam yang memiliki nilai jual di mata pengepul. Sementara bungkus kopi, kemasan makanan, dan plastik sejenis hanya menjadi limbah karena tidak diterima pengepul.

Saat itu kami melihat banyak kemasan bekas yang langsung dibuang, padahal masih memiliki potensi untuk diolah.

 Dari situ muncul keinginan untuk mengolahnya menjadi barang yang bermanfaat," ujar Sri Setuni saat ditemui di galeri Seruni Handmade, Krajan, Desa Jati Kulon.

Pada awalnya, hasil kerajinan tersebut hanya digunakan untuk kebutuhan sendiri. Namun, tingginya minat masyarakat membuat Seruni Handmade mulai memasarkan produknya pada 2014.

Kini, hasil kerajinannya telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia dan mulai menyasar pasar internasional.

Bahan baku diperoleh dari pengepul, bank sampah, hingga warung dan angkringan di wilayah Kudus.

Setelah dikumpulkan, limbah plastik dipilah, dipotong, lalu dicuci hingga bersih.

Bungkus plastik berukuran kecil dicuci menggunakan mesin cuci agar lebih efisien, sedangkan kemasan berukuran besar dibersihkan secara manual sebelum dikeringkan.

Selanjutnya, bahan diolah melalui proses anyaman maupun jahitan hingga menjadi berbagai produk seperti tas, dompet, tikar, gantungan kunci, bros, tas laptop, dan tas ransel.

Lama pengerjaan disesuaikan dengan tingkat kerumitan setiap produk.

Hasil kerajinan dari sampah plastik
Hasil kerajinan dari sampah plastik
Dalam memasarkan hasil karyanya, Seruni Handmade memanfaatkan galeri yang berada di kediamannya sebagai tempat penjualan secara langsung.
Selain itu, pemasaran juga dilakukan melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Meski terus berinovasi, Sri Setuni mengakui kondisi ekonomi beberapa tahun terakhir turut memengaruhi perkembangan usahanya. Pandemi COVID-19 sempat membuat penjualan merosot.

Namun, kondisi usaha mulai membalik ketika pesanan kembali berdatangan. Namun, sejak 2024 permintaan kembali menurun sehingga produksi tidak lagi dilakukan setiap hari dan jumlah tenaga kerja pun berkurang.

Untuk mempertahankan usaha, Seruni Handmade terus mengembangkan desain-desain baru berbahan limbah plastik serta memperluas pemasaran melalui platform belanja daring dan promosi digital.

Selain mengembangkan usaha, Sri Setuni juga aktif mendorong pengelolaan sampah di Desa Jati Kulon.

Menurutnya, masyarakat kini mulai terbiasa memilah sampah organik dan nonorganik dari rumah setelah mendapatkan edukasi serta fasilitas tempat sampah dari pemerintah desa.

Galery seruni handmade
Galery seruni handmade

Pengelolaan sampah semakin optimal setelah adanya bantuan tong sampah tertutup untuk sampah organik dan mesin incinerator bantuan Jarum Foundation yang digunakan untuk mengolah sampah nonorganik.

Untuk limbah organik, pengelola dilakukan dengan mengolahnya menjadi kompos sehingga dapat dimnfaatkan kembali.

Upaya tersebut berhasil mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Jika sebelumnya mencapai tiga hingga empat kontainer, kini hanya sekitar satu truk setiap pekan karena sebagian besar sampah telah diolah di tingkat desa.

Sri Setuni mengajak masyarakat untuk mulai mengelola sampah sejak dari rumah melalui kebiasaan memilah dan memanfaatkan kembali barang yang masih dapat digunakan sehingga volume sampah yang masuk ke TPA dapat ditekan.

Baca Juga: Kisah Erna Susanti, Ibu Rumah Tangga Asal Kudus Ini Sulap Eceng Gondok Jadi Kerajinan Bernilai Jual hingga Tembus Papua

Ia juga memiliki harapan besar agar Kabupaten Kudus dapat dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan daur ulang di Indonesia.

Menurutnya, dukungan pemerintah, komunitas, dan partisipasi masyarakat menjadi modal penting dalam mengembangkan industri kreatif berbasis lingkungan.

"Khusus untuk generasi muda, saya berharap mereka lebih peduli terhadap lingkungan. Mulailah dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, dan memanfaatkan kembali barang yang masih bisa didaur ulang," pungkasnya.(Sakdiyah)

Editor : Ali Mustofa
#kerajinan plastik #Seruni Handmade #sampah anorganik #kerajinan dari limbah